"Kami Dilatih untuk Menghadapi Kematian", Dilema Petugas Medis Saat Pandemi Corona

DUNIA | 8 April 2020 07:19 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Veteran perang dapat kembali dari medan perang dengan mengidap Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau cedera moral - trauma yang dibungkus dengan rasa bersalah.

Cedera moral paling sering terjadi ketika seseorang gagal untuk mencegah atau menyaksikan suatu tindakan yang bertentangan dengan keyakinan moral mereka.

Situs web Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat menyamakannya dengan trauma psikologis yang melibatkan "pengalaman hidup yang ekstrem dan belum pernah terjadi sebelumnya", yang dapat mengarah pada "keadaan konflik dan pergolakan batin yang menghantui".

Penelitian yang berbasis di AS tentang cedera moral sekarang menyoroti bagaimana cedera tersebut dapat berdampak pada orang di semua lapisan masyarakat, tetapi terutama responden pertama dan petugas kesehatan yang menghadapi wabah virus corona.

1 dari 4 halaman

Stres yang Hebat

hebat rev2

Di tengah laporan layanan darurat Kota New York yang kewalahan dan negara-negara lainnya tengah berjuang untuk menyediakan ventilator yang cukup, responden pertama dan petugas kesehatan berpotensi menghadapi hal dilematis; harus memutuskan siapa yang mendapatkan ventilator dan siapa yang harus diselamatkan di tengah keterbatasan peralatan medis - sesuatu yang oleh seorang perawat digambarkan sebagai "ketakutan terbesarnya", dilansir dari BBC, Selasa (7/4).

Sudah ribuan orang sekarat dalam perawatan mereka - dan pekerja medis mengatakan mereka menghadapi keadaan yang tidak pernah mereka antisipasi.

Seorang dokter mengatakan kepada BBC, dia mengalami stres yang hebat.

"Melihat orang mati bukanlah masalah. Kita dilatih untuk menghadapi kematian ... Masalahnya adalah menyerah pada orang yang biasanya kita tidak akan menyerah."

Arthur Markman, seorang profesor di Departemen Psikologi Universitas Texas di Austin, mengatakan:
"Beberapa petugas medis memiliki pengalaman nyata dengan triase di mana sejumlah besar keputusan hidup dan mati harus dibuat karena kekurangan peralatan. Itu meningkatkan kemungkinan bahwa mereka mungkin mengalami cedera moral sebagai akibat dari pekerjaan mereka."

2 dari 4 halaman

Perang Melawan Corona Mirip Perang di Medan Tempur

corona mirip perang di medan tempur rev2

Risiko ini diperparah, katanya, oleh para pekerja di garis depan epidemi - di tempat-tempat seperti New York, Italia dan Spanyol - bekerja dalam sif panjang dengan sedikit istirahat dan tidur sebelum mereka kembali bekerja. Hal ini jika dibiarkan tanpa pengawasan, dapat memicu cedera moral.

"Mereka datang ke profesi ini untuk membantu orang, jadi apa yang Anda lakukan ketika ada perasaan tidak berdaya: Anda adalah dokter yang hebat, ahli bedah yang hebat, Anda memiliki beberapa peralatan medis terbaik di dunia, tetapi Anda masih bisa tidak bisa menyelamatkan seseorang," kata Nöel Lipana, yang mengalami cedera moral setelah bertugas Afghanistan pada 2008.

"Berbagai pengalaman manusia yang berpotensi merusak, secara sosial, psikologis, biologis dan spiritual karena tekanan moral sama sekali tidak terbatas pada militer yang bertugas di medan perang," kata Brett Litz dari Pusat Riset dan Informasi Epidemiologi Veteran Veteran , yang juga seorang profesor ilmu psikologi dan otak di Universitas Boston.

Sebuah makalah baru-baru ini yang ditulis bersama oleh para ahli cedera moral Rita Brock dan HC Palmer menyatakan bahwa perang melawan virus corona memiliki kesamaan dengan pertempuran di medan perang. Dalam perang melawan virus corona, petugas medis tak henti-hentinya bertemu pasien, lingkungan dengan risiko tinggi, musuh mematikan yang tak terlihat, kelelahan fisik dan mental, sumber daya yang tidak memadai, dan akumulasi kematian yang tak berkesudahan.

3 dari 4 halaman

Krisis Kesadaran

rev2

Cedera moral dapat mempengaruhi perilaku, emosi dan psikologis seseorang, mendistorsi identitas diri seseorang dan memicu ketidakpercayaan terhadap orang lain.

Penelitian di Amerika mengidentifikasi bagaimana kebanggaan veteran mengenakan seragam mereka berbenturam dengan perasaan sia-sia tentang apa yang dicapai atas penugasan mereka dan keyakinan bahwa para pemimpin militer gagal atau menipu mereka dan kawan-kawan mereka yang gugur. Perasaan-perasaan seperti ini dapat memicu krisis kesadaran dan jiwa yang berlarut-larut - memperdalam cedera moral.

Sementara petugas layanan kesehatan tahu bahwa mereka melakukan hal yang benar dengan membantu orang-orang dengan Covid-19, mereka mungkin masih terpengaruh oleh tanggapan para pemimpin, dari hierarki rumah sakit hingga tingkat nasional.

"Salah satu bentuk cedera moral yang paling beracun adalah pengkhianatan," kata Brock, yang juga menulis buku Perbaikan Jiwa: Sembuh dari Cedera Moral Setelah Perang.

"Petugas kesehatan kami bekerja untuk menyelamatkan orang, tetapi mereka telah dikhianati oleh tanggapan pemerintah yang tidak memadai."

4 dari 4 halaman

Kita Harus Berterima Kasih

berterima kasih rev2

Diperkirakan 11-20 persen dari 2,7 juta laki-laki dan perempuan yang dikerahkan ke Irak dan Afghanistan telah didiagnosis dengan PTSD.

Antara 2005 dan 2017, 78.875 veteran bunuh diri, menurut data terbaru dari Urusan Veteran. Saat ini, sekitar 17 veteran diperkirakan bunuh diri setiap hari.

Periode setelah fase akut pandemi virus corona kemungkinan akan paling sulit bagi para profesional medis dalam hal dampak psikologis.

Makalah yang ditulis Brock dengan HC Palmer menyatakan, beberapa personel medis kemungkinan bisa bunuh diri karena cedera moral, "dihancurkan oleh keputusan yang harus mereka buat, dibanjiri kesedihan yang tak henti-hentinya, didera kemarahan dan penghinaan pada pihak berwenang yang mengecewakan mereka".

Prof Markman menekankan, "cedera moral tidak dapat dihindari" - dan petugas medis perlu waktu untuk berefleksi, dan perlu dukungan dari pimpinan mereka.

Sementara itu, para ahli mengatakan individu dalam masyarakat memiliki peran penting juga.

"Kita semua dapat memberikan belas kasih kepada mereka yang harus diberikan," tulis Brock dan Palmer.

"Yang penting juga adalah dukungan untuk keluarga profesional medis yang merupakan teman atau tetangga kita. Dan setiap kali kita berinteraksi dengan profesional medis, kita harus berterima kasih kepada mereka." (mdk/pan)

Baca juga:
Potret Kehidupan di Wuhan yang Perlahan Pulih
Mahasiswa Digantikan Robot, Beginilah Wisuda Online ala Universitas di Jepang
Jepang Darurat Wabah Corona, Tak Ada Lagi Pameran Api Olimpiade Tokyo 2020
Lockdown Diperketat, Warga Paris Dilarang Olahraga di Luar Rumah Pukul 10.00-19.00
WHO Sebut Gagasan Jadikan Afrika Kelinci Percobaan Vaksin Corona Tindakan Rasis
Lahir di Tengah Pandemi, Bayi Harimau di Meksiko Diberi Nama Covid

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami