Kamp Militer Turki di Irak Diserbu Demonstran Kurdi, 1 Orang Tewas & 10 Cedera

DUNIA | 27 Januari 2019 15:00 Reporter : Mardani

Merdeka.com - Kerumunan orang yang marah menyerbu sebuah kamp militer Turki di wilayah Kurdi Irak. Akibatnya, satu orang tewas dan 10 lainnya cedera.

Laporan BBC yang dikutip pada Minggu (27/1), warga membakar kendaraan dan bangunan sebagai protes terhadap serangan udara Turki di daerah itu yang menewaskan sejumlah orang.

Pemerintah Turki dikenal sering melakukan penggerebekan terhadap kelompok militan PKK, yang bermarkas di sisi perbatasan Irak. Mereka menuduh pemberontak menyamar sebagai warga sipil untuk memicu konflik di daerah tersebut.

Pejabat lokal, Najib Saeed mengatakan tentara Turki telah menembak para pengunjuk rasa dan kemudian pergi. Kebakaran itu telah menyebabkan beberapa ledakan.

Dia mengatakan belum jelas apa yang menyebabkan kematian di dekat ibu kota daerah Dohuk. Kementerian Pertahanan Turki mengatakan serangan itu terjadi sebagai akibat dari "provokasi oleh organisasi teroris PKK".

Pemerintah Kurdi di Erbil di Irak utara juga mengutuk insiden yang terjadi pada Sabtu waktu setempat, menuduh demonstran terhasut untuk melakukan aksi serangan terhadap kamp Turki.

PKK yang juga dikenal sebagai Partai Buruh Kurdistan, memiliki basis di Turki dan Irak utara dan telah memerangi gerakan pemberontakan di Turki selama beberapa dekade.

Turki-Rusia Siap Menghabisi Teroris di Idlib

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin dan mitra pasukan keamanannya, Recep Tayyip Erdogan yang tak lain adalah Presiden Turki, menyatakan siap melawan teroris di Provinsi Idlib-Suriah.

Erdogan menemui Putin di Moskow pada Kamis 24 Januari 2019 bersama dengan beberapa anggota kabinet Turki. Dua pemimpin tersebut bertemu untuk membahas situasi di Suriah mengingat konflik delapan tahun hampir berakhir.

Sebelum kedatangan Erdogan di Moskow, Kementerian Luar Negeri Rusia telah terlebih dahulu menyatakan situasi terkini di wilayah Idlib.

Menurut institusi tersebut, meskipun Turki-Rusia telah mencoba membuat zona de-eskalasi, namun kondisi dengan cepat memburuk dan hampir berada di bawah kendali penuh Hay'et Tahrir al-Sham (HTS). Demikian sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Kamis 24 Januari 2019.

HTS adalah kelompok pemberontak yang disebut-sebut berafiliasi dengan jaringan teroris Al-Qaeda.

"Sayangnya di sana (Idlib) terdapat banyak masalah dan kami melihantnya," ujar Putin yang tengah bersama dengan Erdogan dalam sebuah jumpa pers pasca-pertemuan di Moskow.

Reporter: Tanti Yulianingsih
Liputan6.com

Baca juga:
Meski Kedua Kakinya Hilang, Pria Ini Tetap Gigih Jadi Penjinak Ranjau Darat
Potensi Peta Konflik Baru Selepas Penarikan Mundur Pasukan AS di Suriah
Turki Bakal Taklukan Militan Kurdi Setelah AS Tarik Pasukan Dari Suriah
Yakin Sudah Kalahkan ISIS, Trump Tarik Ribuan Personel Militer AS dari Suriah
Intip aktivitas wanita Yazidi menjadi pengrajin karpet

(mdk/dan)