Kapten Ungkap Kapal Bermuatan Amonium Nitrat Seharusnya Tak Berhenti di Lebanon

Kapten Ungkap Kapal Bermuatan Amonium Nitrat Seharusnya Tak Berhenti di Lebanon
Kapal Terangkat ke Daratan Setelah Ledakan di Beirut. ©2020 AFP/ANWAR AMR
DUNIA | 7 Agustus 2020 12:59 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Bahan kimia yang terbakar dalam ledakan paling mematikan di Beirut, Lebanon itu tiba tujuh tahun lalu dengan kapal kargo sewaan Rusia yang bocor, yang menurut kaptennya, seharusnya tidak pernah berhenti di sana.

"Mereka serakah," kata Boris Prokoshev, yang menjadi kapten Rhosus pada 2013 mengacu pada pemilik kapal yang menyuruhnya berhenti secara tidak terjadwal di Lebanon untuk mengambil muatan ekstra.

Prokoshev mengatakan, kapal tersebut membawa 2.750 amonium nitrat dari Georgia ke Mozambik saat perintah datang untuk berbelok ke Beirut saat dalam perjalanan melewati Mediterania.

Para kru diminta memuat beberapa kendaraan alat berat dan membawanya ke Pelabuhan Aqaba di Yordania sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke Afrika, di mana amonium nitrat akan dikirim ke pabrik bahan peledak.

Tapi kapal tak pernah meninggalkan Beirut, karena telah mencoba dan gagal memuat kargo tambahan dengan aman sebelum terlibat dalam sengketa hukum yang berkepanjangan terkait biaya pelabuhan.

"Itu tidak mungkin," kata Prokoshev (70) kepada Reuters tentang upaya memuat kargo ekstra.

"Itu bisa menghancurkan seluruh kapal dan saya bilang tidak," katanya melalui telepon dari rumahnya di kota peristirahatan Sochi di Rusia di pantai Laut Hitam, dilansir Alarabiya, Jumat (7/8).

Kapten dan pengacara yang bertindak untuk beberapa kreditor menuduh pemilik kapal meninggalkan kapal dan berhasil menahannya. Beberapa bulan kemudian, demi alasan keamanan, amonium nitrat diturunkan dan disimpan di gudang dermaga.

Pada Selasa, timbunan itu terbakar dan meledak. Ledakan besar itu menewaskan 145 orang, melukai 5.000 orang, membuat bangunan rata dengan tanah dan membuat lebih dari seperempat juta orang kehilangan tempat tinggal.

2 dari 2 halaman

Kapal itu mungkin berhasil meninggalkan Beirut, seandainya berhasil memuat kargo tambahan.

Para kru telah menumpuk peralatan, termasuk ekskavator dan kendaraan penggiling jalan, di atas pintu ke palka kargo yang menahan amonium nitrat di bawah, menurut kepala kapal Ukraina, Boris Musinchak. Tapi pintu penahannya tertekuk.

"Kapal itu sudah tua dan pegangan penutupnya bengkok," kata Musinchak melalui telepon.

"Kami memutuskan untuk tidak mengambil risiko."

Kapten dan tiga awak kapal menghabiskan 11 bulan di kapal sementara sengketa hukum berlarut-larut, tanpa upah dan dengan persediaan makanan yang terbatas.

Begitu mereka pergi, amonium nitrat diturunkan.

"Muatan itu sangat eksplosif. Itulah mengapa ia disimpan di kapal saat kami berada di sana ... Amonium nitrat itu memiliki konsentrasi yang sangat tinggi," kata Prokoshev.

(mdk/pan)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini