Kaum Milenial China Memandang Pernikahan, Sebuah Prioritas?

DUNIA | 18 Agustus 2019 15:13 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pernikahan menjadi salah satu langkah kehidupan yang diharapkan oleh pasangan sehingga memiliki keturunan. Namun berbeda dengan Lizzy Ran, seorang dokter berusia 29 tahun dari di provinsi pusat Hubei. Meski memiliki pendapatan layak namun belum memutuskan untuk menikah.

Saat waktu luangnya, dia memilih untuk dihabiskan bersama teman-temannya atau menjelajahi laman internet di rumahnya (18/8). Keputusan yang diambil Lizzy ini justru membuat ibunya khawatir.

"Ibu sedikit mencemaskan saya, dia percaya bahwa menikah dan mempunyai anak adalah sesuatu yang harus dilakukan dalam kehidupan mereka," kata Ran. "Saya tidak berpikir seperti itu, menurut saya pernikahan tidak perlu."

Ran mengatakan dia percaya pernikahan ditentukan dari takdir dan dia tidak mau memaksakan hal tersebut.

Ran berpikir bahwa dia adalah tipikal orang China yang lahir tahun 1990an. Dia merupakan bagian dari generasi di mana seseorang tidak buru-buru mengikat bagian simpul sebagai hasil dari sosial yang besar dan perubahan ekonomi yang secara tidak langsung membatalkan tradisi milenial China.

Penelitian mengatakan efek yang muncul dari "single society" memiliki implikasi tidak hanya individu melainkan negara secara keseluruhan.

Pergeseran pola pikir terjadi di media sosial. Dengan penggunaan hastag atau tagar "Orang yang lahir setelah 1990 tidak ingin menikah" terlihat pada Twitter versi China Weibo, menarik ribuan komentar pada musim panas ini. Demikian dikutip dari asianone.com.

"Menikah memiliki beban yang berat, dan saya tidak mau menanggung itu. Mungkin saya seperti orang yang tidak bertanggung jawab," tulisan salah satu pengguna Weibo.

Menurut Biro Statistik Nasional, angka pernikahan di China mengalami penurunan dari 9,9 per 1.000 orang pada tahun 2013 menjadi 7,2 per 1.000 orang tahun 2018.

Secara keseluruhan, tahun 2013 jumlah pasangan yang mendaftarkan pernikahan sebanyak 13,47 juta pasangan mengalami penurunan tahun 2018 hanya sekitar 10,11 juta pasangan.

Wang Jufen, seorang peneliti spesialis pengembangan perempuan di sekolah pengembangan sosial dan kebijakan publik Universitas Fudan di Shanghai, mengatakan, penurunan angka pernikahan menunjukan bahwa perempuan China yang berpendidikan lebih baik dan hasilnya akan merasa mandiri secara finansial.

"Terdapat juga peningkatan jumlah calon kandidat wanita untuk gelar master atau doktoral," kata Wang.

"Jadi wanita tidak butuh bergantung pada laki-laki secara ekonomi, seperti generasi sebelumnya yang melakukannya melalui pernikahan."

Tapi Wang mengatakan, satu tradisi yang bertahan lama menjelaskan mengenai mengapa banyak pekerja berkerah putih di kota-kota besar tetap tidak menikah. Ini akibat dari keinginan wanita yang terus menerus untuk lebih berpendidikan, mencari yang lebih kaya, dan kurangnya minat dalam "melihat ke bawah" untuk mencari seorang kekasih.

Jaring pengaman sosial yang diperluas juga mengurangi kebutuhan kaum muda untuk menikah dan mulai membangun keluarga mereka sendiri.

Gui Shixun, direktur Lembaga Penelitian Kependudukan Universitas Normal China Timur, mengatakan bahwa di masa lalu pasangan memulai keluarga mereka sehingga mereka memiliki anak yang akan menjaga mereka di hari tua dan sebagai bagian dari tanggung jawab mereka untuk menjalankan garis keluarga.

Pasangan mendaftarkan pernikahan mereka karena mereka sudah memiliki rencana untuk memiliki seorang anak, atau di berbagai kasus, ketika seorang sudah mengandung sebelumnya.

Hari ini, sosial dan asuransi kesehatan di perkotaan dan pendesaan menutupi sebagian besar penduduk, jadi menikah bukan sebuah kebutuhan besar.

"Sebagai masyarakat China dan dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat, pandangan anak muda melihat tentang memilih seorang pasangan dan menikah telah berubah," kata dia.

Survei yang dilakukan oleh Departemen Sekretaris Pusat Liga Komunis tahun 2018 dari 3000 partisipasi, 70 persen anak muda bersedia untuk menunggu seseorang yang tepat, 16 persen mengatakan bahwa mereka tidak akan menikah dan 14 persen sisanya mengatakan mereka bersedia berkompromi untuk menemukan pasangan.

Vincent Fan seorang pekerja di bidang keuangan berusia 30 tahun dari Haikou di provinsi Hainan Selatan memilih untuk tidak terburu-buru untuk menikah meskipun desakan dari orang tua ada. Dia mengatakan menikah bukanlah prioritas utamanya.

Berbeda dengan Xiao Lei (37) dan pacarnya (43) yang berasal dari Shanghai, mereka yang sudah hidup bersama selama dua tahun akan segera melangsungkan pernikahan pada November tahun ini karena desakan dari orang tua Xiao yang memberikan ultimatum untuk mengakhiri hubungan mereka jika Xiao tidak menikah sebelum umur 38 tahun.

Gui peneliti populasi, mengatakan tingkat pernikahan yang rendah tidak akan membantu angka kelahiran yang rendah. Sebaliknya, akan mempercepat angka masyarakat di China serta memberikan tekanan lebih dlagi pada kelompok pekerja yang semakin menyusut.

China mengabaikan kebijakan satu anak pada tahun 2016 dan sedang mempertimbangkan menurunkan usia pernikahan bagi pria dan wanita untuk meningkatkan tingkat kesuburan.

Reporter Magang: Ellen Riveren

Baca juga:
CEO Cathay Pacific Mengundurkan Diri
Intip Militer China Latihan Hadapi Demonstran di Perbatasan Hong Kong
5 Negara Penghasil Sampah Plastik Terbanyak Sejagat, Indonesia Ada?
Petugas Perbatasan China - Hong Kong Razia Ponsel Wisatawan
Mendag Enggar Soal Impor Produk China: Itu Barang Modal
Trump Berani Bertaruh, Jinping Bisa Redam Demo Hong Kong dalam Waktu 15 Menit

(mdk/did)

TOPIK TERKAIT