Kedubes AS di Sejumlah Negara Jadi Sasaran Demonstran Protes Kematian George Floyd

Kedubes AS di Sejumlah Negara Jadi Sasaran Demonstran Protes Kematian George Floyd
DUNIA | 1 Juni 2020 15:03 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Berbagai negara di dunia menyaksikan kengerian kerusuhan di Amerika Serikat (AS) menyusul kematian seorang pria kulit hitam yang ditangkap polisi. Dalam beberapa hari terakhir, mobil-mobil yang terbakar dan polisi anti huru hara di AS ditampilkan di halaman depan surat kabar di seluruh dunia, mengalahkan berita pandemi Covid-19.

George Floyd meninggal pada 25 Mei setelah seorang polisi kulit putih menindih lehernya dengan lutut. Itu adalah insiden terbaru dalam serangkaian kasus kematian warga kulit hitam di tangan polisi di AS. Aksi unjuk rasa memprotes kematian Floyd tak hanya terjadi di sejumlah negara bagian di AS, tapi juga di berbagai negara.

Di London, Inggris, ribuan orang berkumpul di pusat kota London pada Minggu mendukung demonstran Amerika. Meneriakkan "Tak ada keadilan! Tak ada perdamaian!" dan membawa poster dengan tulisan "Berapa banyak lagi?" di Trafalgar Square, para demonstran mengabaikan larangan pemerintah Inggris untuk berkumpul atau menciptakan keramaian karena pandemi. Polisi juga tidak menghentikan para demonstran. Demikian dikutip dari TIME, Senin (1/6).

Para pengunjuk rasa kemudian berjalan menuju Kedutaan Besar AS di mana petugas keamanan berjaga di sekeliling gedung. Ratusan orang pengunjuk rasa duduk di jalan dan melambaikan plakat.

1 dari 3 halaman

Demonstrasi di Jerman

Kedutaaan AS di Berlin, Jerman juga menjadi sasaran unjuk rasa pada Sabtu malam. Para pengunjuk rasa mengusung motto, "Keadilan untuk George Floyd."

Polisi mengatakan, aksi tersebut diorganisir melalui media sosial, lebih besar dari perkiraan tapi dilaporkan tak ada penangkapan.

Surat kabar terlaris Jerman, Bild pada Minggu memuat tajuk sensasional "Polisi pembunuh ini membakar Amerika" dengan panah yang menunjuk ke foto petugas polisi yang sekarang dipecat, Derek Chauvin, yang dituduh melakukan pembunuhan tingkat tiga dalam kematian Floyd, yang berlutut di leher Floyd.

2 dari 3 halaman

Reaksi China dan Iran

dan iran

Di negara-negara dengan pemerintahan otoriter, media yang dikontrol negara menyoroti kekacauan dan kekerasan demonstrasi AS, sebagian untuk melemahkan kritik pejabat Amerika terhadap negara mereka sendiri.

Hu Xijin, editor surat kabar Global Times milik pemerintah China, berkicau di Twitter bahwa pejabat AS sekarang dapat melihat unjuk rasa di wilayah mereka sendiri: "Saya ingin bertanya kepada Ketua (DPR) Pelosi dan Menlu Pompeo: Haruskah Beijing mendukung demo di AS, seperti Anda para perusuh yang dimuliakan di Hong Kong?"

Hua Chunying, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China, menunjukkan kerusuhan rasial Amerika dengan berkicau "Saya tidak bisa bernapas," yang dikatakan Floyd sebelum kematiannya.

Di Iran, televisi pemerintah telah berulang kali menayangkan gambar-gambar kerusuhan AS. Salah satu pembawa acara TV membahas "pemandangan mengerikan dari New York, tempat polisi menyerang demonstran." Pesan TV pemerintah lainnya menuduh agen polisi AS di Washington "membakar mobil dan menyerang pengunjuk rasa," tanpa menunjukkan sejumlah bukti.

3 dari 3 halaman

Bukan Insiden Pertama

Rusia juga menyoroti kerusuhan ini. "Insiden ini jauh dari yang pertama dalam serangkaian perilaku ilegal dan kekerasan yang tidak dapat dibenarkan dari penegakan hukum AS," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.

"Polisi Amerika terlalu sering melakukan kejahatan tingkat tinggi." Ada juga ungkapan solidaritas untuk para demonstran.

Selama akhir pekan, pengunjuk rasa anti-pemerintah Lebanon membanjiri media sosial dengan kicauan yang bersimpati kepada pengunjuk rasa AS, menggunakan tagar #Americarevolts. Itu adalah slogan gerakan protes Lebanon - pemberontakan Lebanon - yang meletus pada 17 Oktober tahun lalu. Dalam 24 jam, tagar #Americanrevolts menjadi tagar trending nomor 1 di Lebanon. (mdk/bal)

Baca juga:
5 Fakta Derek Chauvin, Polisi yang Cekik George Floyd di Amerika Serikat
Ini yang Terjadi di Detik-Detik Terakhir Kematian George Floyd
Kerusuhan di AS, KJRI Chicago Pastikan 1.990 WNI Dalam Kondisi Aman
Kerusuhan di AS, Ketua Komisi I DPR Minta Pemerintah Pastikan Keselamatan WNI
Kematian George Floyd, Trump Ancam Demonstran Bakal Hadapi Anjing Ganas
Massa Rusak dan Bakar Mobil Polisi Saat Protes Kematian George Floyd

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menjawab Keluhan, Menyiasati Keadaan - MERDEKA BICARA with Ganjar Pranowo

5