Kejamnya Krisis Ekonomi, dalam Lima Hari Tiga Warga Libanon Bunuh Diri

DUNIA | 7 Desember 2019 07:47 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Krisis ekonomi di Libanon yang diwarnai pemogokan dan unjuk rasa selama 50 hari memakan korban jiwa dengan cara yang mengenaskan. Tiga warga memilih bunuh diri dalam lima hari belakangan.

Pria pengangguran 56 tahun dilaporkan bunuh diri Kamis lalu di rumahnya di selatan Libanon karena kesulitan keuangan. bekas buruh konstruksi, Nazih Aoun, diduga bunuh diri di rumahnya di Desa Tibnin, Provinsi Nabatiyeh.

"Nazih Aoun (almarhum) ditemukan tewas di rumahnya. Kami belum memastikan kematiannya karena bunuh diri. Kami sudah memberi tahu polisi yang kemudian datang ke lokasi dan memanggil tim forensik untuk memeriksa dan menentukan penyebab kematian. Bisa jadi meninggal secara normal, bunuh diri, serangan jantung atau pembunuhan," kata pejabat daerah bernama Hussain, seperti dilansir laman Gulf News, Jumat (6/12).

┬ęGulf News

"Aoun lahir pada 8 Juli 1964. Dia punya empat anak yang tinggal di Jerman. Dia miskin dan sudah jadi pengangguran selama lebih dari setahun. Tahun lalu dia menjual sayuran di gerobak dan sebelumnya dia pekerja konstruksi."

Kematian Aoun diduga akibat bunuh diri ini adalah yang ketiga dalam lima hari belakangan di Libanon.

1 dari 2 halaman

Terlilit Utang

Rabu lalu seorang laki-laki bernama Dany Abu Haidar, 40 tahun, menembak diri sendiri dengan senapan berburu karena punya utang sekitar Rp27 juta di Beirut. Kejadian itu terjadi setelah dia dilaporkan baru dipecat dari pekerjaannya.

Sekitar pukul 10.30 Rabu lalu, Haidar menembak dirinya di rumah keluarganya di Al Naba setelah dia dipecat dari pekerjaannya di perusahaan lampu.

Dalam wawancara televisi ayah Haidar menyalahkan para pemimpin negara dan tokoh politik yang membuat Libanon mengalami krisis.

"Dia pulang ke rumah pukul 10.30. Ibunya sedang menjemur pakaian dan istrinya sedang membersihkan karpet. Dia memegang senapan berburu. Sewaktu saya apakah dia akan pergi berburu, dia jawab iya. Beberapa detik kemudian dia menembak kepalanya sendiri," kata sang ayah.

Sejak 17 Oktober, Libanon dilanda unjuk rasa besar-besaran memprotes praktik korupsi dan kesalahan tata kelola pemerintahan hingga menyebabkan krisis ekonomi.

"Dia meninggalkan keluarganya. Kemarin dia masih baik-baik saja. Supermarket meneleponnya dan meminta dia segera membayar utang sekitar Rp27 juta, dia marah dan mengatakan dia tidak bisa membayar dan harus menunggu sampai demo usai."

Ibu Haidar mengatakan gaji putranya itu baru saja dipotong separuh dan dia kemudian pindah ke rumah orangtuanya.

"Bakar saja negeri ini. Saya akan membakar jalanan. Hati saya terbakar," kata ibu Haidar menyebut para demonstran.

Perusahaan Dabbas, tempat Haidar bekerja, mengeluarkan pernyataan bela sungkawa dan membantah telah memecat dia.

2 dari 2 halaman

Tak Mampu Belikan Anak Roti

Dua hari sebelum Haidar, Naji Al Fulaiti, berusia 40an tahun gantung diri di atap rumahnya di Desa Arsal, dekat perbatasan Suriah. Ali Al Fulaiti, sepupu dari korban mengatakan kepada Gulf News: "Raneen, putrinya yang berusia enam tahun pagi-pagi minta uang untuk membeli roti buat sarapan. Al Fulaiti tidak punya uang lagi di dompetnya. Putrinya sedih lalu pergi. Tak lama dia lalu gantung diri di rumahnya."

Tiga bulan sebelumnya Fulaiti masih bekerja sebagai buruh konstruksi di Arsan, sekitar 124 kilometer dari Beirut di Lembah Bekaa.

Ali sedang minum kopi bersama istrinya sekitar pukul 06.00 ketika dia mendengar teriakan dari rumah sepupunya.

"Saya bergegas keluar dan melihat ayah Naji berteriak. Dia sudah mengikat tali ke atap dan mengikatkannya ke lehernya lalu melompat sampai mati. Kami lalu segera melepaskannya dan membawanya ke rumah sakit Al Rahma dengan mobil saya. Tapi dia sudah meninggal," kata sepupu Fulaiti.

Dia rupanya punya utang sebesar Rp6,4 juta dan anaknya ada dua. Fulaiti dimakamkan Minggu sore lalu.

"Dia pengangguran selama tiga bulan. Naji (Fulaiti) tidak pernah meminta uang kepada siapa pun. Seperti warga Libanon lainnya, kondisi ekonomi memaksa dia meminjam uang dari tetangga dan toko untuk menghidupi keluarganya. Uangnya habis untuk mengobati sakit kanker istrinya," kata Ali.

"Saya bertemu dia Sabtu. Kami ngobrol soal kondisi ekonomi. Dia tampak normal dan tidak seperti mau bunuh diri. Mungkin dia tidak tahan melihat wajah putrinya ketika dia minta uang," ujar Ali. (mdk/pan)

Baca juga:
Ratusan Anak Sekolah di Libanon Demo Menentang Kurikulum 'Kuno'
Ribuan Warga Libanon Kembali Turun ke Jalan Serukan Pemogokan dan Pemerintah Mundur
Hizbullah Tembak Jatuh Drone Israel di Libanon Selatan
PM Libanon Setuju Reformasi Ekonomi, Demonstran Tidak Puas
Ribuan Warga Libanon Demo Protes Pemerintah yang Korup
Lika-liku Perjalanan Senjata Buatan AS Jatuh ke Tangan Militan

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.