Kemarahan Israel Terhadap Rencana Penyelidikan Kejahatan Perang di Palestina

DUNIA | 22 Desember 2019 07:27 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Kepala Jaksa Penuntut di Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) mengatakan pada Jumat pihaknya ingin membuka penyelidikan penuh terhadap dugaan kejahatan perang di wilayah Palestina, memicu kemarahan dari Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan keputusan itu membuat pengadilan yang bermarkas di Den Haag itu, yang telah ditolak Israel sejak pembentukannya pada 2002, merupakan "alat politik" untuk menyerang negaranya.

Palestina menyambut baik langkah ICC tersebut dan menyebutnya sebagai "langkah yang telah lama tertunda" menyusul penyelidikan awal hampir lima tahun oleh jaksa penuntut sejak perang 2014 di Gaza.

"Saya puas bahwa ada dasar yang masuk akal untuk melanjutkan penyelidikan atas situasi di Palestina," kata jaksa Mahkamah Kejahatan Internasional, Fatou Bensouda dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari laman Alaraby, Sabtu (21/12).

"Singkatnya, saya puas bahwa kejahatan perang telah atau sedang berlangsung di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza," tambahnya, tanpa menyebutkan pelaku kejahatan yang dituduhkan itu.

Bensouda mengatakan, sebelum membuka penyelidikan penuh, dia akan meminta ICC terjun di wilayah di mana pihaknya memiliki yurisdiksi.

"Secara khusus, saya telah meminta konfirmasi bahwa 'wilayah' di mana ICC dapat menjalankan yurisdiksinya, dan yang dapat saya selidiki, terdiri dari Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dan Gaza," sebutnya.

Dia mendesak para hakim untuk memutuskan yurisdiksi pengadilan tanpa penundaan.

Namun Bensouda menambahkan pihaknya tidak memerlukan persetujuan dari hakim untuk membuka penyelidikan karena telah ada rujukan dari Palestina, yang bergabung dengan ICC sejak 2015.

1 dari 2 halaman

Amerika Bela Israel

Masalah ini sangat sensitif. Tahun lalu, penasihat keamanan nasional Gedung Putih, John Bolton mengancam akan menangkap para hakim ICC jika melawan Israel atau Amerika Serikat.

Israel dan AS menolak menjadi anggota ICC, yang didirikan pada 2002 sebagai satu-satunya pengadilan global yang mengadili kejahatan terburuk dunia, kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Bensouda meluncurkan penyelidikan pendahuluan pada Januari 2015 atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Israel dan wilayah Palestina, setelah perang Gaza 2014.

Investigasi ICC secara menyeluruh diperkirakan akan mengarah pada tuntutan terhadap individu. Negara tidak dapat dituntut oleh ICC.

"Palestina menyambut langkah ini sebagai langkah yang sudah lama ditunggu untuk memajukan proses menuju penyelidikan, setelah hampir lima tahun yang panjang dan sulit untuk pemeriksaan pendahuluan," kata pernyataan pemerintah Palestina. (mdk/pan)

Baca juga:
Pertemuan Haru Seorang Ibu dan Anak Palestina Setelah Terpisah 20 tahun
Sejarah Pendudukan Israel di Tanah Palestina Sejak 1967
Ribuan Warga Palestina Demo, Kecam Keputusan AS Dukung Permukiman Ilegal Israel
Aksi Warga Palestina Salat di Tanah yang Diduduki Israel
Tolak Permukiman di Tepi Barat, Menlu RI Sebut Israel Aneksasi Palestina

2 dari 2 halaman

Kecaman Israel

PM Netanyahu mengecam rencana ini. Dia menyebut rencana penyelidikan ini sebagai "hari gelap untuk kebenaran dan keadilan".

"Keputusan jaksa ICC telah mengubah Mahkamah Kejahatan Internasional menjadi alat politik untuk mendelegitimasi negara Israel," katanya.

Penyelidikan awal ICC menemukan perang 2014 yang menewaskan 2.251 orang di pihak Palestina, mayoritas warga sipil, dan 74 orang di pihak Israel, kebanyakan merupakan tentara. ICC juga menemukan kekerasan di dekat perbatasan Israel-Gaza pada 2018.

Awal bulan ini, jaksa ICC menolak untuk mengajukan tuntutan atas serangan mematikan Israel 2010 terhadap armada yang membawa bantuan ke Gaza, dan mendesak penyelidikan itu ditutup.

Sembilan warga negara Turki tewas pada Mei 2010 ketika marinir Israel menyerbu Mavi Marmara, di antara delapan kapal yang berusaha mematahkan blokade angkatan laut di Jalur Gaza. Satu lagi meninggal di rumah sakit pada tahun 2014.

Baca juga:
Pertemuan Haru Seorang Ibu dan Anak Palestina Setelah Terpisah 20 tahun
Sejarah Pendudukan Israel di Tanah Palestina Sejak 1967
Aksi Warga Palestina Salat di Tanah yang Diduduki Israel
Ribuan Warga Palestina Demo, Kecam Keputusan AS Dukung Permukiman Ilegal Israel
Tolak Permukiman di Tepi Barat, Menlu RI Sebut Israel Aneksasi Palestina
Indonesia Tolak AS Soal Permukiman Israel di Palestina yang Dianggap Legal

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.