Kepolisian Leicestershire Inggris Perkenalkan Seragam Jilbab untuk Polwan

Kepolisian Leicestershire Inggris Perkenalkan Seragam Jilbab untuk Polwan
Calon polwan Khadeejah Mansur di Kepolisian Leicestershire Inggris yang mulai mencoba seragam jilbab. ©LEICESTERSHIRE POLICE via BBC
DUNIA | 26 Februari 2021 10:00 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pemakaian seragam operasional untuk anggota polwan di Selandia Baru mendorong Inggris melakukan hal yang sama untuk pertama kalinya.

Penutup kepala yang bisa digunakan dengan helm polisi dan perkakas lainnya, dibuat setelah 16 bulan penelitian. Penutup kepala ini juga memiliki alat untuk keamanan seperti magnet pengencang.

Jilbab model ini digunakan salah satu calon polwan Kepolisian Leicestershire, namun belum diterapkan secara meluas.

Kepolisian Leicestershire mengatakan ini pertama kalinya anggota polisi di negara itu menguji coba model seragam polwan berjilbab seperti model Selandia Baru. Selandia Baru memperkenalkan penggunaan jilbab untuk polwan pada November 2020.

Namun demikian, ini bukan pertama kalinya jilbab diperkenalkan, di mana sebelumnya Kepolisian Metropolitan, Kepolisian Yorkshire Utara, dan Kepolisian Skotlandia juga telah memperkenalkan seragam jilbab tapi dengan model berbeda.
Kepolisian Leicestershire menyampaikan, versi Selandia Baru dibuat dengan kain olahraga atau sejenis bahan yang ringan, yang memudahkan pergerakan dan tidak gerah.

Kepolisian menambahkan, pihaknya telah menguji coba sejumlah model jilbab sebelumnya, tapi tak ada yang berhasil.

“Kita memiliki komunitas yang sangat beragam di Leicestershire dan kita ingin benar-benar mencerminkan masyarakat yang kita layani,” jelas Asosiasi Kepolisian Muslim Nasional, Yusuf Nagdi, dikutip dari BBC, Jumat (26/2).

“Kita tahu ada banyak orang yang ingin bergabung dengan kepolisian tapi mereka tak mau mengkompromikan keyakinan mereka,” lanjutnya.

Anggota polwan yang masih berstatus siswa, Khadeejah Mansur, yang bergabung pada Oktober dan mencoba pemakaian jilbab ini mengatakan rasanya luar biasa dan nyaman.

“Saya bisa melaksanakan pelatihan saya seperti yang lain dan tetap tertutup,” ujarnya.

Uji coba direncanakan sampai April. Jika berlangsung sukses, akan dipertimbangkan untuk diterapkan secara nasional. (mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami