Keputusan Bersejarah, Bangladesh Hapus Kata 'Perawan' di Buku Nikah

DUNIA | 28 Agustus 2019 13:23 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pengadilan Bangladesh membuat keputusan bersejarah dengan mengatakan kata "perawan" harus dihapuskan dari buku nikah pasangan muslim.

Sebelumnya sejumlah kalangan menyebut pencantuman kata "perawan" dalam buku nikah itu "memalukan" dan "diskriminatif".

Menurut aturan pernikahan di Bangladesh, seorang pengantin perempuan harus memilih satu dari tiga pilihan pada buku nikah yaitu apakah dia seorang Kumari (perawan), janda, atau bercerai.

Dilansir dari laman Aljazeera, Rabu (28/8) wakil Jaksa Agung Amit Talukder mengatakan kepada kantor berita AFP, pada putusannya tiga hari lalu, Pengadilan Tinggi negara itu memerintahkan pemerintah untuk segera menghapus istilah "perawan" dan menggantinya dengan "belum menikah".

Diperkirakan putusan lengkapnya akan diterbitkan pada Oktober, dan kemungkinan akan diberlakukan saat putusan keluar.

Sejak 1961, kelompok pembela HAM mengkritik istilah yang digunakan dalam buku nikah itu yang menurut mereka melanggar privasi wanita yang akan menikah.

Aynun Nahar Siddiqua, seorang pengacara untuk kelompok-kelompok menentang istilah "perawan" pada tahun 2014, mengatakan ini adalah keputusan penting.

Siddiqua menuturkan, kasus tersebut berasal dari pengajuan petisi tertulis untuk mengubah formulir yang disediakan di bawah Undang-Undang Pernikahan dan Perceraian Muslim Bangladesh 1974.

"Ini adalah keputusan yang memberi kami keyakinan bahwa kami dapat berjuang dan menciptakan lebih banyak perubahan bagi perempuan di masa depan," Siddiqua, dari Badan Bantuan dan Layanan Hukum Bangladesh (BLAST) kepada kantor berita Reuters.

"Kami mengajukan petisi karena ingin mempertanyakan apakah persoalan seseorang itu perawan atau tidak melanggar hak privasi seseorang."

Putusan pengadilan juga menyebut pihak berwenang diperintah untuk memperkenalkan opsi "belum menikah, duda, atau bercerai" untuk pengantin pria pada buku nikah.

Tidak ada seorang pun dari pemerintah yang dapat memberi keterangan tentang perubahan itu atau kapan aturan akan diberlakukan.

Mohammad Ali Akbar Sarker, calon pengantin muslim di Dhaka, mengatakan kepada Reuters pendaftar selain dia sedang menunggu Kementerian Hukum dan Kehakiman untuk secara resmi memberi keputusan tentang perubahan formulir di buku nikah.

"Saya sudah sering menikah di Dhaka dan saya suka ditanya mengapa pria memiliki kebebasan untuk tidak mengungkapkan status mereka tetapi wanita tidak. Saya selalu mengatakan kepada mereka bahwa ini bukan di keputusan saya. Saya kira saya tidak akan ditanyai pertanyaan itu lagi," kata Sarker.

Bangladesh adalah negara mayoritas muslim terbesar ketiga di dunia dan hampir 90 persen dari 168 juta penduduknya beragama Islam.

Reporter Magang: Ellen RiVeren

Baca juga:
Hingga Semester I-2019, PT INKA Ekspor 50 Gerbong Kereta ke Bangladesh
Alasan Negara-Negara yang Melarang Zakir Naik
10.000 Warga Bangladesh Kehilangan Rumah Usai Kebakaran Dahsyat
Si Jago Merah Ngamuk di Daerah Kumuh Bangladesh, 15 Ribu Rumah Ludes Terbakar
14 Negara Pemberi Upah Buruh Tekstil Terendah di Dunia, Termasuk Indonesia
Bermasalah, 35 WN Bangladesh di Rudenim Pekanbaru akan Dideportasi

(mdk/pan)