Keputusan Trump Serahkan Tahanan ISIS di Suriah Jadi Mimpi Buruk bagi Turki

DUNIA | 10 Oktober 2019 07:35 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menarik mundur pasukan AS di Suriah dan membiarkan Turki menguasai wilayah sebelah utara Suriah membuat Trump dituding mengkhianati sekutu mereka, Kurdi, di Suriah. Tapi keputusan Trump yang menyerahkan tanggung jawab tahanan dan keluarga militan ISIS kepada Turki juga menjadi beban bagi negara itu.

Tak lama setelah Trump berbicara lewat telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Minggu lalu, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mengatakan Turki akan segera melaksanakan rencananya selama ini untuk melancarkan operasi militer di sebelah utara Suriah dan AS tidak akan berada di daerah itu. Pernyataan itu diikuti dengan Turki sekarang akan "bertanggung jawab atas semua militan ISIS yang ditahan dalam dua tahun terakhir."

Mengambil tanggung jawab tahanan ISIS adalah mimpi buruk bagi Turki, ujar Yasar Yakis, mantan menteri luar negeri Turki di era 2002-2003. "Saat ini sudah banyak sel ISIS di Turki. Mereka bisa bangkit dan membuat kekacauan di dalam negeri. Pada 2015 dan 2016 sejumlah serangan teror di Turki diklaim oleh ISIS dan sedikitnya 276 orang tewas.

Dilansir dari laman Time, Rabu (9/10), saat ini ada sekitar 11.000 tahanan ISIS di lebih dari 30 kamp tahanan di sepanjang utara Suriah. Menurut data terbaru dari Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan, di kamp Al-Hol yang terletak di timur laut Suriah ada sekitar 70 ribu orang, termasuk keluarga ISIS.

Kamp-kamp penahanan itu kini dikelola oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF), terdiri dari milisi Kurdi (YPG) yang selama ini didukung AS. Turki menganggap YPG adalah sayap militer dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang menurut Ankara dan Washington adalah organisasi teroris. Operasi militer Turki di timur laut Suriah adalah untuk menggempur milisi YPG.

Mantan perwakilan khusus AS untuk koalisi global melawan ISIS Brett McGurk mengatakan Turki tidak punya kapasitas, niat, dan selera untuk mengelola tahanan ISIS seperti di Al-Hol, yang menurut Pentagon bisa menjadi tempat bangkitnya ISIS.

Panglima SDF Jenderal Mazloum Abadi mengatakan kepada NBC News, bagi mereka kini mengawasi tahanan ISIS menjadi 'prioritas kedua' karena mereka kini bergegas ke perbatasan utara Suriah untuk mengantisipasi operasi militer Turki.

"Kalau Anda jadi Kurdi, dalam situasi ini apakah Anda mampu menjaga para tahanan tapi juga menghadapi ancaman dari seberang perbatasan? Mereka (Kurdi) hanya punya dua pilihan. Membebaskan tahanan atau menghabisi mereka."

Turki sejauh ini belum mengabarkan kapan operasi militer itu akan dimulai, berapa banyak pasukan yang akan dikerahkan atau sampai sejauh mana mereka akan masuk ke wilayah Suriah. Para tahanan ISIS yang ditangkap di Suriah saat ini tidak ditahan di kota-kota mayoritas berpenduduk Arab dekat perbatasan Turki, tapi mereka berada di kamp dan pusat penahanan yang tersebar di sebelah timur laut Suriah.

"Jika Turki masuk lebih jauh ke wilayah mayoritas dihuni Kurdi maka itu tidak hanya akan memperpelik konflik yang sudah ada tapi juga memicu pengungsian besar-besaran," ujar Ganul Tol, direktur Studi Turki di Pusat Institut Timur Tengah.

Baca juga:
Mobilisasi Pasukan Militer Turki ke Suriah
AS Mulai Tarik Pasukan dari Perbatasan Turki di Suriah
Bertemu Putin, Erdogan Mengaku Siap Kerahkan Operasi Militer di Suriah
Kamp Militer Turki di Irak Diserbu Demonstran Kurdi, 1 Orang Tewas & 10 Cedera
Keluar dari Suriah, AS Janji Tetap Lindungi Milisi Kurdi dari Serangan Turki

(mdk/pan)