Kesaksian Mengerikan Para Korban Perbudakan Seks ISIS

DUNIA | 26 Juni 2019 06:20 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terbilang kejam. Banyak anggota yang tertipu dengan modus ISIS saat merekrut. Jika sudah masuk perangkap ISIS, maka mereka akan terjebak. Salah satu korban ISIS adalah wanita. Banyak wanita yang disandera ISIS dan dijadikan budak seks.

Banyak wanita yang mengeluh setelah terjebak dengan hasutan anggota ISIS. Berikut kesaksian para wanita yang disandera ISIS:

1 dari 3 halaman

Ingin Dipukuli Sampai Mati

Seorang gadis Irak berusia 17 tahun mengisahkan bagaimana dia ditangkap dan jadi budak seks kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dia dibolehkan berbicara ke publik lewat koran Italia La Republica melalui telepon selulernya karena para penangkapnya ingin kisah gadis itu diketahui dunia.

Gadis malang itu merupakan salah satu dari 40 perempuan Yazidi ditangkap ISIS ketika kelompok militan itu menyerbu kota tempat tinggal mereka.

Dia mengatakan apa yang dialaminya sangat mengerikan sehingga dia berharap dipukuli sampai mati. "Ada bagian dari diri saya menyatakan ingin mati saja. Tapi di bagian lain saya masih berharap bisa memeluk orangtua saya sekali lagi," katanya.

Menurut gadis itu, para penangkapnya menganggap mereka orang tak yang bisa dikalahkan. "Kami meminta mereka menembak mati kami tapi kami terlalu berharga buat mereka." ungkapnya.

2 dari 3 halaman

Alami Trauma Hingga Tak Bisa Bicara

Selain gadis itu, ada gadis lain berusia 13 tahun yang mengalami trauma hingga tak bisa bicara akibat mengalami penyiksaan dari militan ISIS. Menurut dia, para perempuan ditangkap ISIS itu ditahan di sebuah bangunan yang dijaga para militan di sebuah desa di selatan Kota Mosul.

Semua kaum perempuan Yazidi itu ditangkap ketika ISIS menyerang Kota Sinjar pada 3 Agustus 2014 lalu. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke pegunungan Sinjar buat menyelamatkan diri.

3 dari 3 halaman

Berpisah dengan Anak Laki-lakinya

Seorang wanita bernama Jovan (nama samaran) asal Yazidi ini rela meninggalkan anak laki-lakinya saat bergabung dengan ISIS. Ia melahirkan anaknya saat menjadi budak seks ISIS.

"Saya ingin sekali membesarkan anak saya, tapi tidak bisa. Masyarakat di sini tidak akan menerima dia. ISIS melakukan tindakan kejam. Mereka menculik dan membunuh banyak anggota komunitas," kata Jovan.

Karena tak ingin melukai perasaan masyarakat Yazidi dengan kehadiran anaknya itu. Apalagi masyarakat Yazidi sangat menjaga kemurnian keturunan mereka.

Anak Jovan pernah ditampung di salah satu panti asuhan anak yatim di Mosul, di Irak utara. Tempat ini menampung anak-anak yang kehilangan orang tua yang bertempur melawan ISIS.

"Saya menerima banyak anak-anak, Kristen, dari etnik Turk, Shabak... Tapi tak ada yang membuat pilu seperti melihat anak-anak yang dilahirkan perempuan Yazidi," kata Sakineh Muhammed Ali, pengelola panti asuhan. (mdk/has)

Baca juga:
Hati-Hati Begini Cara ISIS Rekrut WNI, Jangan Sampai Tergoda
Menhan Sebut Militan ISIS Kembali ke Negara Asal Jadi Ancaman Utama
Deretan Pengakuan Mengejutkan Para WNI yang Menyesal Gabung ISIS
WNI eks ISIS di Suriah Menyesal & Ingin Pulang, ini Kata Pemerintah Indonesia
Dari Pegunungan Afghanistan ISIS Diam-diam Siapkan Serangan ke Amerika dan Barat
Pelaku Bom Bunuh Diri di Pospol Kartasura Berafiliasi dengan ISIS