Kesaksian WNI di China Saat Wabah Virus Corona: Wuhan Sepi Seperti Kota Mati

DUNIA | 26 Januari 2020 18:25 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pemerintah China berusaha menangani penyebaran virus corona dengan mengisolasi sedikitnya 14 kota di China, termasuk Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei yang menjadi asal mula penyebaran virus mematikan itu. Pemerintah memutuskan: tidak ada orang yang boleh masuk atau keluar.

Kebijakan itu turut menjebak para warga negara Indonesia yang sedang berada di Wuhan. Berdasarkan catatan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wuhan, ada 93 WNI di kota itu yang hampir seluruhnya merupakan mahasiswa. Jumlah tersebut belum termasuk warga Indonesia yang kebetulan sedang mengunjungi Wuhan ketika penutupan dimulai. Mereka semua terjebak.

Kemeriahan Tahun Baru Imlek di China yang ibarat Lebaran bagi muslim Indonesia, juga redup akibat menyebarnya wabah ini. Pemudik tak bisa masuk ke dalam Wuhan untuk bertemu keluarga, pernak-pernik Imlek sepi terlihat, dan tidak ada diskon-diskon seperti biasanya.

"Biasanya memang di mana-mana kita melihat pasti ada hiasan Imlek, lampion digantung di mana-mana, khas sekali. Sangat meriah suasananya dan biasanya di mal-mal itu banyak yang diskon. Saat Imlek, semua barang-barang di mal bakalan murah tapi karena kejadian ini malah sebaliknya. Suasana kota semakin sepi," ujar Siti Mawaddah, mahasiswi S2 jurusan Criminal Law di Universitas Hubei kepada Liputan6.com melalui sambungan telepon, Sabtu (25/1).

1 dari 3 halaman

Seperti Kota Mati

Pemerintah China mulai melakukan kebijakan penutupan kota pada 23 Januari kemarin. Saat itu, Siti sedang berkunjung ke asrama sahabatnya di Huazhong University of Science and Technology ketika mendadak petugas kampus menggedor-gedor pintu kamar untuk menyampaikan kabar ada isolasi dan dia harus kembali ke kampusnya.

Sahabatnya sempat mencegah Siti untuk pulang dan memintanya untuk menetap karena khawatir. Namun, Siti tetap memilih untuk pulang.

Ketika Siti melihat kondisi melihat jalanan, situasi sudah sepi. Transportasi umum dibatasi dan bus mulai berkurang. Mobil pun jarang terlihat. Siti akhirnya pulang dengan naik taksi dan menyaksikan perubahan signifikan di Kota Wuhan yang sejatinya metropolitan.

"Saya melewati kota, sepanjang jalan saya melihat keadaan sepi enggak seperti biasanya kota Wuhan ramai dan penuh. Tapi ini waktu itu sudah sepi seperti kota mati," ujar Siti yang berasal dari Kota Sigli, Aceh.

2 dari 3 halaman

Dianjurkan Tidak Keluar Asrama

Dia pun menyampaikan bahwa yang terjebak bukan hanya mahasiswa yang berkampus di Wuhan, melainkan WNI yang kuliah di kota lain dan sedang berada di Wuhan tetapi tak dapat pulang ke kota masing-masing.

"Ada juga mahasiswa Wuhan yang sedang berada di Beijing atau Shanghai yang tidak bisa kembali. Ada juga turis dari Indonesia, dia berlibur di Wuhan. Pokoknya sudah terjebak semua di kota Wuhan. Enggak boleh ke mana-mana," ucapnya.

Ketua PPI China Cabang Wuhan Nur Mussyafak berkata para mahasiswa dianjurkan tidak sering-sering keluar asrama kampus atau pergi ke keramaian. Mahasiswa pun masih bisa saling mengunjungi di dalam gedung.

"Teman-teman masih bisa main ke teman yang satunya, masih bisa aktivitas di dalam kamar. Cuman dari kampus sendiri menginstruksikan jangan terlalu sering keluar dari kampus atau asrama," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Jika Demam Harus Melapor

Kota Wuhan memiliki penduduk 11 juta jiwa dan salah satu kota paling ramai di China. Pemerintah China mengantisipasi penyebaran virus ini dengan membagikan masker, thermometer, dan pembersih tangan.

Siti bercerita mahasiswa diminta memeriksakan diri sendiri dan jika demam harus melapor ke pihak kampus. Pihak kampus pun siap memundurkan tahun ajaran baru jika wabah virus tak juga mereda.

"Semester depan perkuliahan aktif mulai bulan Februari. Kalau di kampus kami tanggal 12 Februari, makanya saya memilih menetap di sini. Ada berita juga kalau virus ini semakin berbahaya, belum ada penanganannya kemungkinan besar perkuliahan di semester depan diundur," ujar Siti.

Masalah lainnya adalah mahasiswa di Wuhan yang sedang di luar kota belum bisa kembali ke kota kampus mereka karena ada penutupan.

Hingga kini, Siti menyebut pihak KBRI selalu aktif memantau keadaan WNI di kota Wuhan lewat grup WeChat. Siti yang sedang menyusun tesis berharap pemerintah Indonesia bisa mengevakuasi WNI dari kota yang mengalami penutupan itu.

"Kami sangat berharap dari pihak pemerintah Indonesia bisa melakukan evakuasi bagi WNI yang berada di kota Wuhan karena penyebaran virus ini makin memburuk," kata Siti yang mengaku siap dievakuasi pemerintah.

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6.com (mdk/pan)

Baca juga:
Dikabarkan Baru Pulang dari Wuhan, Warga Jambi Dirawat Intensif
Ramai Wabah Corona, Menhub Budi akan Tinjau Transportasi Laut Tujuan China
IDI Kutip Laporan WHO: Virus Corona Bukan Penyebab Tunggal Kematian
Perhimpunan Pelajar Indonesia di China: Tak Ada Mahasiswa WNI Terinfeksi Virus Corona
Penjelasan Lion Air Soal Kru Rute Guangzhou-Manado yang Diisolasi
Ratusan Wisatawan China Batal Terbang ke Solo Akibat Virus Corona

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.