Kesal Pada Twitter, Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Targetkan Perusahaan Medsos

Kesal Pada Twitter, Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Targetkan Perusahaan Medsos
DUNIA | 29 Mei 2020 17:36 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pada Kamis (28/5), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akhirnya mengeluarkan perintah eksekutif menargetkan perusahaan media sosial, setelah sebelumnya kesal pada Twitter karena dua kicauannya dilabeli 'cek fakta'.

Berbicara dari Kantor Oval setelah menandatangani perintah eksekutif tersebut, Trump berdalih kebijakannya untuk "membela kebebasan berbicara dari salah satu bahaya paling mematikan yang pernah dihadapi dalam sejarah Amerika."

"Sejumlah kecil monopoli media sosial mengendalikan sebagian besar dari semua komunikasi publik dan pribadi di Amerika Serikat," ujarnya, dikutip dari CNN, Jumat (29/5).

"Mereka memiliki kekuatan tak terkendali untuk menyensor, membatasi, mengedit, membentuk, menyembunyikan, mengubah, hampir semua bentuk komunikasi antara warga negara dan audiensi publik yang besar," lanjutnya.

Perintah eksekutif menguji batas-batas otoritas Gedung Putih. Dalam upaya hukum jangka panjang, perintah eksekutif ini berupaya membatasi kekuatan platform media sosial besar dengan menafsirkan kembali UU tahun 1996 yang melindungi situs web dan perusahaan teknologi dari tuntutan hukum.

Perintah itu menandai eskalasi dramatis perang antara Trump dengan perusahaan teknologi saat semua perusahaan media sosial tengah berjuang dengan masalah misinformasi yang berkembang di platformnya. Trump kerap menuduh perusahaan media sosial menyensor pidato para konservatif.

"Di negara yang telah lama menghargai kebebasan berekspresi, kami tidak dapat mengizinkan sejumlah platform online untuk memilih secara langsung pidato yang dapat diakses dan disampaikan oleh orang Amerika di internet," kata salah satu perintah itu.

"Praktik ini pada dasarnya tidak-Amerika dan anti-demokrasi. Ketika perusahaan media sosial yang besar dan kuat menyensor opini yang mereka tidak setuju, mereka menggunakan kekuatan yang berbahaya."

Perusahaan teknologi menentang perintah eksekutif tersebut. Facebook dan Google mengatakan kebijakan Trump berisiko merusak internet dan ekonomi digital.

Pada Kamis malam, Twitter mengatakan perintah eksekutif Trump merupakan pendekatan yang reaksioner dan politisasi hukum.

"#Pasal230 melindungi inovasi dan kebebasan berekspresi warga Amerika, dan itu ditopang oleh nilai-nilai demokrasi," kicau perusahaan ini.

"Upaya untuk mengikis secara sepihak itu mengancam masa depan kebebasan berbicara dan internet secara online." (mdk/cob)

Baca juga:
Trump Kesal Cuitannya Dilabeli 'Cek Fakta' Oleh Twitter, Ancam Tutup Semua Medsos
Trump Akui Tak Lagi Minum Hydroxychloroquine untuk Cegah Covid-19
Donald Trump Asyik Main Golf Saat Kasus Kematian Covid-19 Mendekati 100.000
Donald Trump Harap Umat Islam Tetap Kuat Rayakan Idulfitri di Tengah Pandemi Covid-19
Lagi, Donald Trump Salahkan China & Kaitkan Virus Corona Dengan Pembunuhan Massal
Wapres AS Mengaku Tidak Minum Obat Anti-Malaria Setelah Trump Mengaku Meminumnya

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menolak Bahaya Lebih Baik Daripada Mengejar Manfaat

5