Ketapel & Senapan Angin, Senjata Seadanya Rakyat Myanmar Hadapi Kebrutalan Militer

Ketapel & Senapan Angin, Senjata Seadanya Rakyat Myanmar Hadapi Kebrutalan Militer
Demonstran Myanmar bikin ketapel raksasa. ©STR/AFP
DUNIA | 19 April 2021 07:31 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Setiap hari, ketika Ko Win Kyaw keluar untuk berunjuk rasa menentang militer Myanmar, dia membawa ketapel dan persediaan batu sebagai amunisi. Itu sedikit menolong melawan daya tembak tentara yang luar biasa, tapi dia mengatakan ketapel dan batu itu memberinya kepercayaan diri dan cara untuk melawan balik.

“Saya tahu saya tidak bisa membela diri sendiri dengan sebuah ketapel, karena saya menghadapi orang dengan pistol,” ujarnya.

“Ketika mereka menembak, saya lari,” lanjutnya, dikutip dari The New York Times, Minggu (18/4).

Ko Win Kyaw (36), adalah satu dari banyak demonstran pro demokrasi yang mulai mempersenjatai diri dengan senjata seadanya saat mereka melawan rezim militer di Myanmar. Apa yang dimulai sebagai unjuk rasa damai setelah kudeta 1 Febuari dengan cepat berubah menjadi gerakan pertahanan, di mana warga melindungi diri mereka menggunakan ketapel, senapan rakitan, senapan berburu, dan bom api.

Dalam sebuah pernyataan pekan ini, Komisioner Tinggi PBB Bidang HAM, Michelle Bachelet, menyampaikan tindakan keras militer di negara itu telah memicu beberapa individu mengangkat senjata, memperingatkan situasi ini sama dengan apa yang terjadi di Suriah pada 2011 dan bisa mendorong terjadi konflik yang jauh lebih besar.
Bagi banyak orang di Myanmar, titik baliknya terjadi pada 27 Maret, ketika pasukan keamanan membunuh sedikitnya 150 orang. Itu menjadi tindakan keras paling mematikan sejak kudeta, menurut kelompok HAM yang melacak pembunuhan tersebut. Lebih dari 728 orang telah terbunuh, dan sedikitnya 3.000 orang telah ditangkap.

Di wilayah paling terdampak parah di Tharketa, Yangon, seorang demonstran mengatakan dia dan kawan-kawannya membentuk sebuah tim beranggotakan sekitar 20 orang setelah pembantaian 27 Maret.

“Kami pengunjuk rasa damai setelah kudeta,” kata Ko Thi Ha (26).

“Tapi ketika mereka membunuh begitu banyak orang, kami tidak bisa lagi melakukan gerakan damai. Kami perlu melawan balik.”

Para demonstran kerap memanfaatkan YouTube untuk belajar membuat senjata sederhana, dengan bahan-bahan yang mudah didapatkan. Untuk senapan rakitan, pipa plastik digunakan untuk laras, dan semacam korek gas butane digunakan sebagai pelatuk. Bantalan bola yang diambil dari roda sepeda adalah amunisi paling populer, tetapi pengunjuk rasa juga menembakkan kelereng dan butiran plastik. Bom asap rumahan biasanya dibuat dengan bubuk mesiu atau kalium nitrat, bahan dalam pupuk.

Baik senapan angin rakitan dan bom asap lebih bersifat defensif atau untuk melindungi diri daripada menyerang. Senapan angin tidak mematikan, tapi bisa menghantam target dengan jarak 100 kaki. Para pengunjuk rasa menggunakannya untuk mencegah tentara mengejar mereka dengan cepat. Ketika para pengunjuk rasa perlu melarikan diri, mereka menggunakan bom asap untuk melindungi diri mereka dari pandangan aparat sembari mereka mundur dengan topi dan kacamata pelindung.

Seiring dengan diciptakannya senjata seadanya, para demonstran juga menggunakan kata-kata sebagai kode untuk menggambarkan berbagai manuver yang digunakan di garis depan. “Memasak biryani,” hidangan nasi yang populer, berarti membuat senjata. "Memberikan biryani kepada tamu" berarti menembakkan senjata ke arah tentara. "Biryani besar" adalah serangan pembakaran.

Baca Selanjutnya: Perlawanan Tentara Sipil Kalay...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami