Ketika Supremasi Hindu Memecah Belah India

Ketika Supremasi Hindu Memecah Belah India
DUNIA | 27 Februari 2020 07:31 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Sebelum kerusuhan pecah pada 5 Januari, Aamir berdiri di luar aula asrama di Universitas Jawaharlal Nehru di Delhi selatan. Aamir, seorang mahasiswa PhD, adalah Muslim, dan ia meminta untuk diidentifikasi hanya dengan nama depannya.

Dia datang untuk mengembalikan buku ke teman sekelasnya ketika dia melihat sekitar 50 sampai 60 orang mendekati gedung. Mereka membawa potongan besi, batu, juga palu. Mereka meneriakkan slogan: "Tembak pengkhianat untuk negara!".

Belakangan, Aamir mengetahui bahwa mereka setengah jam sebelumnya menyerang sekelompok guru dan murid di ujung jalan. Wajah mereka bertopeng, tetapi beberapa masih dikenali sebagai anggota kelompok mahasiswa nasionalis Hindu yang menjadi semakin kuat selama beberapa tahun terakhir.

Kelompok itu, Akhil Bharatiya Vidya Parishad (ABVP), adalah sayap pemuda Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). Didirikan 94 tahun yang lalu oleh orang-orang yang tertarik dengan fasis Mussolini, RSS adalah lembaga induk supremasi Hindu: Hindutva, demikian sebutannya.

RSS telah menunjuk dirinya sendiri sebagai penentu makna teologis dan perancang negara-bangsa Hindu. Organisasi ini memiliki setidaknya 4 juta sukarelawan, yang bersumpah setia dan terlibat pelatihan.

Kata yang sering digunakan untuk menggambarkan RSS adalah "paramiliter". Dalam keberadaannya yang hampir seabad, ia dituduh merencanakan pembunuhan, memicu kerusuhan terhadap minoritas dan tindakan terorisme. (Mahatma Gandhi ditembak mati pada tahun 1948 oleh seorang pria anggota RSS, meskipun RSS mengklaim bahwa pria itu telah keluar dari RSS).

Partai Bharatiya Janata (BJP) juga berafiliasi dengan organisasi ini. BJP adalah partai yang berkuasa di India selama enam tahun terakhir. Di bawah Perdana Menteri Narendra Modi, partai ini telah mengubah India menjadi negara nasionalis Hindu yang otoriter.

Saat itu hampir jam 7 malam ketika Aamir melihat gerombolan yang mendekat. Ketika dia melihat gerombolan itu, Aamir berlari ke asrama, menaiki tangga dan menuju kamar temannya. Mereka mengunci pintu, lalu bersembunyi di balkon.

Mereka mendengar para penyerang menghancurkan kaca, menerobos ke dalam kamar dan memukuli para siswa. Aamir mematikan ponselnya.

"Saya yakin mereka akan mematahkan tangan dan kakiku jika mereka menangkapku," katanya, dikutip dari The Guardian, Rabu (16/2).

Massa datang dengan maksud yang jelas, menargetkan para siswa dan staf pengajar yang kritis terhadap BJP: seorang mahasiswa Muslim dari Kashmir, guru-guru yang memiliki ikatan dengan politik kiri, anggota kelompok yang memperjuangkan kasta-kasta miskin.

Presiden serikat mahasiswa Universitas Jawaharlal Nehru, Aishe Ghosh, mengalami luka di kepalanya dan patah lengan. Namun kamar yang dihuni mahasiswa yang beraliansi dengan ABVP tak disasar dan selamat dari amukan.

1 dari 4 halaman

Video serangan bocor di media sosial. Polisi dihubungi tetapi mereka tidak bergerak untuk menghentikan kekerasan. Sekelompok polisi berjaga di gerbang kampus, tidak mengizinkan siapa pun masuk. Yogendra Yadav, seorang aktivis politik, tiba di pintu gerbang pada jam 9 malam. Sembilan puluh menit kemudian, para penyerang muncul, masih bertopeng dan bersenjata. Bahkan kemudian, polisi tidak menahan siapa pun.

Sebaliknya, mereka diizinkan pergi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ketika kolega Yadav mengambil foto, Yadav diserang oleh sekelompok pria, dirobohkan dan ditendang di wajahnya. Polisi tidak melakukan apa pun.

Kemudian, dari sebuah video, Yadav mengidentifikasi seorang pejabat ABVP lokal di antara mereka yang telah memukulnya. Dalam sebuah pernyataan, ABVP menyalahkan "preman kiri".

"Polisi memberi perlindungan preman, memberi mereka kebebasan di kampus," kata Yadav.

Seorang profesor Universitas Jawaharlal Nehru menuding polisi terlibat.

2 dari 4 halaman

Insiden kekerasan di kampus itu adalah salah satu rentetan peristiwa akibat unjuk rasa menentang UU Kewarganegaraan Baru yang disahkan parlemen pada 11 Desember 2019. UU ini mempermudah pengungsi dari Afghanistan, Pakistan dan Bangladesh mendapatkan status kewarganegaraan, warga Muslim dari negara-negara ini adalah pengecualian. Kebijakan ini dinilai sejalan dengan visi RSS dan BJP yang ingin meminggirkan umat Islam yang menjadi minoritas di negara itu.

Sejak Desember tahun lalu, jutaan orang turun ke jalan memprotes UU tersebut. Sebanyak 20 orang tewas diduga karena ditembak polisi. Pemerintah juga memberlakukan pemblokiran internet dan larangan berkumpul.

Unjuk rasa juga terus berlanjut sampai bulan ini. Selama 72 tahun merdeka, India tak pernah menghadapi krisis seperti ini sebelumnya.

3 dari 4 halaman

Pertengkaran Keluarga

Setelah Narendra Modi berkuasa pada 2014, banyak pemilih BJP mulai dengan jelas menyuarakan simpati mereka untuk Hindutva. Hal ini mengejutkan dan muncul pertanyaan apakah para pemilih ini diam-diam merindukan negara Hindu jauh sebelum Modi. Keluarga bertengkar di grup WhatsApp, dan para anggota keluar dari grup.

"Sebelum 2014, Anda menemukan seorang siswa pro-ABVP dan seorang siswa pro-kiri yang berteman satu sama lain," kata Cheri Che, seorang mahasiswa PhD kepada Samanth Subramanian dari The Guardian.

"Setelah 2014, itu semakin sulit," sesalnya.

4 dari 4 halaman

Kecemasan Mahasiswa Muslim

Di Universitas Jawaharlal Nehru, pengaruh ABVP cukup besar. Che mengklaim pejabat di kampus itu diisi simpatisan dari RSS atau ABVP.

Di luar kampus, kaum nasionalis Hindu merasa sangat berdaya sehingga mereka membentuk kelompok-kelompok untuk menghukum umat Muslim dan umat Hindu berkasta rendah, dengan tuduhan menyelundupkan sapi atau memiliki daging sapi.

Di kampus Universitas Jawaharlal Nehru, mahasiswa Muslim merasa semakin cemas. Pada 2017 ketika Yogi Adityanath, tokoh garis keras Hindutva, terpilih sebagai menteri utama, seorang siswa Muslim Kashmir sedang berjalan ke kantin saat hampir tengah malam.

"Saya melihat seorang pria, seorang pendukung ABVP garis keras," katanya yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

"Begitu dia melihat saya, dia berkata: 'Sekarang Yogi ada di sini, kita akan menebas dan melahap kaum Muslim." Dia mengatakannya secara terbuka. Ada banyak orang berdiri di sana. Anda tidak akan pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya." (mdk/pan)

Baca juga:
Cerita Lengkap UU Kewarganegaraan India Diskriminasi ke Muslim Berujung Korban Nyawa
Bentrokan Menentang UU Kewarganegaraan di India Saat Kunjungan Trump, 10 Orang Tewas
Bentrokan Berdarah Pendukung dan Penentang UU Kewarganegaraan India
Segera Dihukum Gantung, Terpidana Pemerkosaan Massal India Benturkan Kepala ke Tembok
Gemar Makan Steak, Trump Bakal Disajikan Hidangan Tanpa Daging Selama di India
Uniknya Bus Tua Disulap Jadi Toilet Umum di India
India Siap Sambut Kedatangan Donald Trump
Selama 26 Tahun PNS India Dipindah Kerja 53 Kali karena Ungkap Kasus Korupsi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami