Kisah Haru Antarumat Beragama Saling Melindungi di Tengah Konflik

DUNIA | 24 Juli 2019 06:33 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini yang menyinggung soal rasial terhadap empat anggota kongres perempuan dari partai Demokrat, memicu kemarahan sebagian kalangan di AS. Masalah suku, agama, ras, antargolongan adalah isu sensitif yang bisa memicu serangan balik terhadap orang-orang yang menyinggungnya.

Meski begitu di belahan dunia yang masih diliputi konflik sektarian masih ada orang-orang masih mempunyai keluhuran budi untuk menolong sesama meski saling berbeda agama.

Tugas manusia adalah menjadi manusia, demikian kata Multatuli alias Eduard Douwes Dekker penulis novel Max Havelaar yang terkenal itu.

Berikut ini ada serangkaian kisah yang patut disimak tentang aksi saling tolong menolong antarumat beragama di tengah konflik yang terjadi di sejumlah tempat. Simak ulasannya hasil rangkuman merdeka.com dari berbagai sumber.

1 dari 5 halaman

Pastor Lindungi Bocah Muslim dari Pembantaian di Afrika Tengah

Republik Afrika Tengah sedang dilanda kerusuhan bernuansa agama antara pemeluk Kristen dan Islam. Salah satu yang paling parah terjadi di Kota Bossemptele, di pedalaman Barat Daya negara tersebut.

Dilaporkan oleh Times of India, Sabtu (15/11/2014), terjadi insiden ketika beberapa milisi Kristen Antibalaka hendak menghabisi pengungsi, tak terkecuali wanita dan anak-anak yang mayoritas muslim. Mereka bersembunyi di dalam gereja katolik setempat, dipimpin Romo Bernard Kinvi.

Ketika salah satu milisi ingin menembak remaja 14 tahun, bulan lalu, Romo Kinvi maju dan menghalangi mereka. "Kalau mau membunuh dia, langkahi dulu mayatku."

Beruntung anggota milisi itu gentar, lalu mundur teratur. "Saya tentu pernah merasakan takut. Tapi tidak ada pilihan kecuali merawat dan melindungi semua orang yang dirugikan oleh pertumpahan darah ini," kata Romo Kinvi.

Aksi saling serang terus terjadi antara kelompok bersenjata kristen melawan milisi muslim Seleka. Insiden ini terus berulang sejak dua tahun terakhir, tapi jarang diliput oleh media internasional.

Lembaga hak asasi Human Rights Watch (HRW) memperkirakan korban dari pihak muslim maupun kristen sudah mencapai ribuan jiwa.

Romo Kinvi yang warga negara Togo menyatakan di kota kecil Bossemptele saja minimal lebih dari 500 orang tewas karena pertikaian agama tersebut. Islam dianut minoritas di Republik Afrika Tengah, kurang lebih oleh satu juta jiwa. Pemerintah pusat dinilai berperan melanggengkan konflik, karena takut kaum muslim hendak memiliki niat separatis.

Romo Kinvi adalah satu tokoh yang dianggap netral dan jadi penengah konflik. Bulan lalu dia berangkat ke Ibu Kota London, Inggris, untuk melaporkan kekerasan di negara tersebut.

2 dari 5 halaman

Pria Muslim Kenya Tewas demi Lindungi Warga Kristen dari Serangan Teror

Seorang pria Kenya yang melindungi warga Kristen dari serangan militan al-Shabaab akhirnya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Salah Farah meninggal karena luka yang didapatnya akibat dari serangan yang terjadi beberapa waktu lalu di Kenya.

Dikutip dari BBC Januari 2016 lalu, pria ini berada di dalam bus bersama beberapa penumpang Kristen. Dia dengan gagah berani menolak dipisahkan dari para penumpang lainnya.

Farah mencium adanya gelagat tidak baik saat para militan cabang Al Qaidah itu meminta muslim untuk keluar dari mobil. Dia tahu penumpang Kristen di bus itu akan dibantai.

"Mereka sempat berkata pada kami, jika kamu seorang Islam maka kamu akan selamat," ucap Farah pasca insiden.

Kala itu, Farah bersama beberapa penumpang muslim lainnya pasang badan melindungi para nasrani di bus tersebut. Mereka pun turut ditembak oleh para militan.

Belakangan Farah terlihat bugar dan bisa meladeni pertanyaan dari wartawan, namun pada Senin kemarin, Falah akhirnya menghembuskan napas terakhir usai melakukan operasi.

Jasad Farah sendiri diterbangkan dengan helikopter polisi ke kampung halamannya untuk segera dimakamkan. Ibu Farah, Amina Sabdo, tak mengira anaknya akan pergi meninggalkannya secepat itu.

Pria muslim ini pergi meninggalkan seorang istri yang tengah hamil tua, dan empat anak. Farah merupakan tulang punggung keluarganya. Pemerintah Kenya berjanji menanggung kebutuhan hidup anak-anak mendiang sampai pendidikan tinggi.

3 dari 5 halaman

Umat Islam India Lindungi Warga Hindu ketika Bentrokan Antarkampung

Komunitas muslim di wilayah Sayyad Nagar, Kota Hadapsar, India menjaga perkampungan penuh warga Hindu. Ini lantaran ada selentingan mereka bakal diserang oleh massa.

Situs dnaindia.com melaporkan, Senin (9/6/2014), sebelumnya seorang pemuda bernama Muhsin Shaikh tewas dan menyebabkan bentrokan antar warga muslim dan Hindu. Muhsin pemeluk Islam, seorang insinyur dan kontraktor Internet dibunuh oleh seorang dari kelompok Hindu Rashtra Sena. Kerusuhan ini telah terjadi dua hari di Hadapsar.

Namun penduduk muslim di Sayyad Nagar menjamin kehidupan warga hindu di wilayah mereka. "Masyarakat kami sudah lama bertetangga dengan saudara Hindu. Ada ketakutan mereka massa muslim daerah lain menyerang mereka, ini tak akan terjadi," ujar Akbar Shaikh salah satu warga Sayyad Nagar.

Menurutnya ada pihak yang sengaja mengganggu kerukunan dua komunitas. Meski demikian Pandit Dolare, seorang Hindu, tidak merasa terganggu. Dia mengaku malah aman dan nyaman berada di tengah-tengah mayoritas muslim. Kedua komunitas ini juga tidak terganggu dengan pemberitaan miring melibatkan agama mereka masing-masing.

"Saudara-saudara muslim kami merupakan harta berharga. Mereka sangat baik dan kami percaya pada mereka seperti mereka percaya pada kami. Masyarakat di sini merayakan seluruh upacara keagamaan. Diwali, Holi Gasehotsav, bahkan Idul Fitri," ujar Sonawane Manohar Kanthare, seorang warga sudah tinggal di Sayyad Nagar selama tiga dekade.

4 dari 5 halaman

Warga Muslim Lindungi Orang Kristen dalam Penyanderaan Bus di Kenya

Sebuah bus berisi penduduk Kenya diberondong tembakan oleh militan al Shabaab, kemarin (21/12/2015) siang waktu setempat di Mandera, Distrik El Wak, timur laut Kenya. Insiden di dekat perbatasan Somalia ini menewaskan dua orang.

Namun, di balik penyanderaan itu, pemerintah Kenya mendapat informasi para penumpang bus meninggalkan sekat-sekat agama untuk melindungi satu sama lain.

Kesaksian salah satu penumpang mengatakan teman muslimnya memohon pada para militan untuk menghentikan penyerangan terhadap orang kristen yang ada di dalam bus tersebut. Setelah memberondong bus, para penyerang ternyata mengincar orang-orang nasrani.

"10 militan yang memasuki bus awalnya berusaha memisahkan kami yang muslim dan mereka yang kristen. Saya mencoba memakaikan atribut Islam kepada mereka agar sulit diketahui identitasnya," kata Abdi Mohamud Abdi, seorang muslim yang ada dalam penyanderaan seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (21/12).

Trik tersebut berhasil membuat para militan pergi meninggalkan bus. Namun mereka mengancam akan kembali.

Kami tetap berusaha melindungi saudara-saudara kami, sampai akhirnya mereka menyerah," lanjut Abdi.

Para penumpang selanjutnya mengancam para militan untuk membunuh mereka sekalian saja semuanya, jika berkukuh hanya mengincar penumpang beragama Kristen. Para militan akhirnya gentar, lalu meninggalkan bus sambil tetap mengancam akan kembali lagi.

Juru bicara militan al Shabaab, Abdiasis Abu Musab, membenarkan pasukannya melakukan penembakan dalam insiden bus tersebut.

"Beberapa dari musuh Kristen kami tewas, dan lainnya luka-luka," ujarnya kepada Reuters. Namun tidak disebutkan apa alasan bus tersebut sehingga menjadi sasaran.

Penyerangan bus ini sama persis dengan insiden setahun lalu yang dilancarkan oleh kelompok bersenjata al Shabaab kepada bus Nairobi. Tahun lalu, 28 orang nonmuslim tewas di tempat karena diberondong peluru para militan.

Militan Al Shabaab berjanji terus melanjutkan serangan mereka di wilayah Kenya, selama Nairobi belum menarik keterlibatan mereka dalam kontingen Pasukan Uni Afrika yang memerangi basis-basis militan di Somalia. Kelompok yang dekat dengan Al Qaidah ini sekaligus menuntut kawasan timur laut Kenya harus menjadi bagian dari Somalia.

5 dari 5 halaman

Ulama Nigeria Lindungi Warga Kristen dari Serangan Teror

Pemerintah Amerika Serikat menganugerahkan penghargaan kepada ulama muslim berusia 83 tahun asal Nigeria karena melindungi 262 warga Kristen di rumahnya dari serangan.

Imam Abubakar Abdullahi bersama empat tokoh agama dari Sudan, Irak, Brasil, dan Siprus, dianugerahi Piala Kebebasan Beragama Internasional 2019 Rabu pekan lalu.

Abdullahi memberi tempat penampungan bagi ratusan warga Kristen yang melarikan diri dari serangan sekelompok penggembala muslim yang menyerang para petani Kristen di 10 desa di Bakin Ladi, Negara Bagian Plateu pada 23 Juni 2018.

Sang ulama itu menolak memberi tahu ketika para penyerang menanyakan di mana para petani Kristen itu berada.

"Sang imam memberi perlindungan bagi 262 tetangganya yang Kristen di dalam masjid dan di rumahnya. Dia juga mengadang di depan pintu untuk melawan para penyerang muslim dan meminta mereka untuk mengampuni warga Kristen yang bersembunyi. Dia bahkan menawarkan untuk memberikan nyawanya demi menyelamatkan mereka," kata Duta Kebebasan Beragama Internasional Sam Brownback, seperti dilansir laman CNN, Rabu (18/7).

"Tindakannya menunjukkan keberanian, tanpa pamrih, dan kasih sayang sesama saudara," kata dia.

Lebih dari 80 orang tewas di bunuh dalam serangan diduga dilakukan para penggembala yang juga membakar banyak rumah di desa. Kekerasan itu terjadi antara warga Fulani yang kebanyakan muslim dan para petani yang didominasi warga Kristen di Nigeria.

Kementerian Luar Negeri AS yang menjadi penyelenggara acara penganugerahan ini mengatakan Abdullahi berani mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan warga agama lain yang bisa terbunuh jika dia tidak menolong.

Serangan kelompok Fulani di Nigeria ini disebut-sebut lebih mematikan ketimbang aksi kelompok militan Boko Haram. (mdk/pan)

Baca juga:
Meratapi warga Kongo dihantui kejamnya peperangan
Sejarah akar konflik sektarian di Sri Lanka
Dampak konflik rasial, umat Muslim di Sri Lanka takut diserang saat Salat Jumat
Konflik sektarian kembali merebak di Sri Lanka, pemerintah sebut ada konspirasi
Krisis rasial kembali landa Sri Lanka
Mengunjungi City 2000, rumah para korban kebengisan gangster Kolombia