Kisah kekejaman Australia berabad-abad pada Etnis Aborigin

Kisah kekejaman Australia berabad-abad pada Etnis Aborigin
Genosida Aborigin oleh pendatang kulit putih Australia awal abad 20. ©2015 Merdeka.com/Treaty Republic
DUNIA | 25 Februari 2015 07:39 Reporter : Ardyan Mohamad

Merdeka.com - Sebelum kembali memicu ketegangan diplomatik dengan Indonesia akibat isu hukuman mati WN Australia, Perdana Menteri Tony Abbott pernah membuat blunder di dalam negeri. Bahkan, selip kata-kata ini dampaknya lebih merusak popularitas pemimpin Partai Liberal itu karena berkaitan dengan isu sensitif Aborign.

Jelang hari jadi Australia pada 2014, ucapan Abbott memicu kemarahan suku Aborigin. Dia mengatakan pendaratan kapal inggris merupakan "momen bersejarah yang menentukan bagi benua ini," seperti dilansir The Australian.

Sekadar informasi, kedatangan kapal pada 1788 adalah permulaan pendudukan Australia oleh narapidana buangan Inggris. Britania Raya mengklaim kepemilikan atas benua itu ketika Kapal James Cook mendarat pertama kali pada 1770.

Pernyataan Abbott dianggap menafikan eksistensi suku pribumi sebelum Inggris datang. Dia pun secara tidak langsung mendukung penjajahan dan pembantaian Aborigin selama 120 tahun.

Dewan Adat Pribumi Australia memprotes keras pernyataan Abbott tersebut. Blunder ucapannya segera menjadi tajuk surat kabar dunia.

Skandal Australia menghebohkan dunia, setelah Surat kabar Independent edisi 24 Mei 1997 menurunkan laporan panjang mengenai bukti kekejaman kolonialis Inggris terhadap Suku Aborigin. Laporan setebal 700 halaman ini disusun oleh mantan Hakim Agung Sir Ronald Wilson.

Setelah beberapa tambang emas ditemukan di kawasan Barat Australia pada 1851, semakin banyak imigran Inggris datang. Pemerintah kolonial mengkapling tanah untuk pemukiman pendatang. Kebijakan ini kerap bersinggungan dengan tanah adat Aborigin. Pecahlah konflik berdarah.

Kasus pembantaian pertama, berdasarkan data Ronald, terjadi di Tasmania pada 1806. Ratusan penduduk pribumi ditembak atau dikeroyok dengan benda tajam sampai tewas.

Tercatat pula kasus-kasus pemerkosaan wanita Aborigin yang berdampak pada penularan penyakit seksual. Jenis-jenis penyakit yang biasa diidap ras kulit putih, tapi mematikan bagi Aborigin seperti influenza, bisa memicu wabah.

Arsip Kolonial Australia membenarkan sepanjang 1824 hingga 1908, setidaknya 10 ribu Aborigin tewas terbunuh. Itu di luar kematian wajar atau sebab-sebab lain. Arsip ini pun mencantumkan, beberapa korban tewas karena menjadi 'bahan mainan

(mdk/ard)

TOPIK TERKAIT

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini