Kisah Para Migran di Mesir, Diperdaya dan Dipaksa Jual Ginjal
DUNIA | 12 Februari 2019 07:34 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Mengenakan topi bisbol sembari mengisap shisha di sebuah kafe kawasan Kairo, pemuda berusia 19 tahun menceritakan pengalamannya saat kabur dari Eritrea ketika usianya masih 13 tahun. Dawitt, bukan nama sebenarnya, kabur untuk menghindari wajib militer. Keluarganya membayar penyelundup untuk perjalanan menuju Mesir melalui Sudan.

Di Mesir, dia berjuang mencari pekerjaan untuk membayar utang dan bisa menyeberang ke Eropa. Namun sia-sia. Kemudian dia bertemu seorang pria Sudan yang menyarankan 'cara aman dan mudah' mendapatkan uang yaitu dengan menjual ginjal.

"Saya pikir itu cara terbaik mendapatkan uang dengan cepat kemudian berangkat ke Eropa," tutur Dawitt kepada Sean Columb, dilansir dari The Guardian, Senin (11/2). Columb adalah dosen hukum Universitas Liverpool yang tengah menulis buku tentang perdagangan organ manusia.

"Saya khawatir, tapi dia meyakinkan saya bahwa itu adalah cara paling gampang dan kamu bisa menjalani kehidupan normal dengan satu ginjal. Uang berlimpah. Bagaimana saya menolak untuk USD 5.000 ketika saya tak memiliki apapun dan keluarga saya membutuhkan bantuan?," lanjutnya.

Dawitt kemudian menjalani tes darah dan urin, lalu masuk ruang operasi.

"Kita dibawa sepanjang malam menuju rumah sakit. Saya ingat berjalan ke lantai bawah dan menunggu bertemu dengan dokter. Selanjutnya saya masuk ke sebuah ruangan dimana saya diminta mengganti baju dan berbaring di ranjang. Semua yang saya ingat setelahnya saya terbangun dan merasa kesakitan. Saya mulai berteriak dan memaki sampai si makelar datang dan membawa saya kembali ke apartemen," kisahnya.

Kisah ini bukan hanya dialami Dawitt. Laporan tahun 2018, UNODC (Lembaga PBB untuk Narkoba dan Kejahatan) mengumpulkan data 700 insiden perdagangan organ, terutama dari Afrika utara dan Timur Tengah. Namun angka-angka ini masih rendah. Skala perdagangan organ ini sulit ditelusuri, karena sebagian besar kasus tidak dilaporkan. Alasannya, para korban enggan melapor lantaran takut dideportasi, ditangkap atau dipermalukan.

Perdagangan organ berkembang di Mesir, ditambah tindakan keras pasukan keamanan yang didanai Uni Eropa terhadap pengungsi. Di Mesir, para migran ditahan dengan sewenang-wenang, dan tingginya biaya penyelundupan menjadi peluang bagi para makelar organ yang tidak bermoral untuk memangsa mereka yang putus asa bagaimana mengumpulkan dana agar bisa menyeberangi Mediterania.

Setelah operasi, Dawitt dibawa makelarnya, Ali, ke sebuah apartemen di Mohandessin, Distrik Giza untuk proses penyembuhan. Dia kemudian dikenalkan ke seorang warga Eritrean, Isaac, yang berjanji membawanya ke Damietta. Di sana, kapal nelayan menunggu untuk membawanya ke Sisilia. Ali meyakinkan Dawitt agar menerima tawaran Isaac. Uang dari Dawitt akan digunakan sebagai ongkos perjalanan.

"Saya merasa nyaman dengan Isaac setelah ngobrol. Dia orang Eritrean, dan tak tampak seperti penipu. Dia mengatakan kepada saya dia telah menyelundupkan ratusan orang tiap bulan dan dia tak perlu uang. Dia membuat saya merasa seolah dialah yang memperlakukan saya dengan baik. Dia memberi saya nomornya dan menyuruh saya menelpon ketika saya sudah siap," ceritanya.

Dawitt menghabiskan waktu lebih dari dua pekan di apartemen untuk penyembuhan pascaoperasi. Setelah merasa sehat, dia menelpon Isaac untuk mengonfirmasi rencana perjalanan. Namun ponsel Ali tak aktif dan tak diketahui keberadaannya. Dawitt curiga Ali menggunakan uangnya untuk pergi sendiri ke Eropa. Ketika dia melaporkan kejadian itu ke polisi dia diancam akan dideportasi.

Bukti menunjukkan makelar organ selalu mendekati para migran dengan tawaran perjalanan ke Eropa. Sebab, kebijakan Uni Eropa mengeksternalisasi perbatasan dengan meningkatkan kapasitas negara-negara Afrika seperti Libya, Mesir dan Sudan untuk mengelola migrasi, yang didorong oleh EU Emergency Trust Fund for Africa.

Angka yang dikeluarkan oleh Komisi Eropa pada tahun 2018 menunjukkan bahwa saat ini lebih sedikit pengungsi yang melarikan diri ke Eropa melalui pantai Mesir utara. Jumlah migran, pencari suaka dan pengungsi yang melintasi rute Mediterania tengah Mesir menurun, penutupan perbatasan telah mendorong orang melakukan tindakan ekstrem, meningkatkan jangkauan jaringan kriminal. Berniat meninggalkan Mesir dengan cara apapun, para migran menjadi sasaran penjualan organ.

Di luar sebuah kafe di dekat Alun-alun Tahrir, Ibrahim menceritakan perannya merekrut migran yang terlibat operasi jaringan penyelundupan di sepanjang pantai utara Mesir. "Orang-orang datang kepada saya untuk merencanakan transportasinya dan bagaimana melakukan pembayaran. Saya mengonfirmasi pembayaran dengan bos dan selanjutnya membawa orang-orang ini dari Kairo ke Aleksandria. Mereka tinggal di gudang peternakan ayam dan menunggu di sana sampai waktunya siap menyeberang," ceritanya.

Penyelundup yang beroperasi di Mesir dan Libya menaikkan biaya dari USD 1.500 menjadi USD 3.500. Jika para migran tak punya biaya, penyelundup menyarankan untuk menghubungi makelar perdagangan organ di Kairo.

"Orang-orang bisa membayar kurang dari harga yang diminta (USD 3.500) tetapi jika Anda melakukan ini, Anda seperti penumpang kelas tiga," sarannya.

"Yang ini bisa berakhir di pusat penahanan di mana mereka hanya akan dibebaskan jika mereka setuju untuk bekerja atau menjual tubuh mereka untuk seks," kata Ibrahim.

"Ada beberapa orang yang hanya peduli tentang mendapatkan uang. Mereka tidak peduli jika Anda tiba di tujuan atau mati di laut. Inilah sebabnya saya menyarankan orang untuk melakukan pembayaran di muka, meskipun itu berarti menjual ginjal," lanjutnya.

Ibrahim menyadari tindakannya ilegal. Tetapi dia justru menyalahkan pemerintah. "Saya tidak menilai pekerjaan saya buruk karena saya membantu orang mengubah hidup mereka menjadi lebih baik," cetusnya.

Sebuah hukum yang melarang penjualan organ diperkenalkan pada 2010 tetapi mendorong perdagangan organ berlangsung di bawah tanah. Asha, dari Sudan, menjelaskan bagaimana dia direkrut di Khartoum dan dibawa ke Kairo.

"Mereka mengatakan akan mencarikan saya pekerjaan dan kemudian akan membawa saya ke Italia. Saya tidak mempercayai orang-orang ini, tetapi tidak mungkin bagi saya untuk tinggal di Khartoum. Anak-anak saya sakit karena tidak makan. Jadi, saya mendengarkan mereka," kata dia.

Ketika tiba di Kairo, Asha diberi tahu dia tidak akan dibawa ke Eropa. Sebaliknya dia akan "menyumbangkan" ginjalnya. Dia dijanjikan USD 2.000 jika menurut. Jika tidak, kata pria itu, mereka akan mengambil ginjalnya dengan paksa. Asha dibawa dengan taksi ke sebuah apartemen sederhana di Alexandria.

"Saya tahu itu Alexandria karena saya bisa melihat laut dari taksi. Kemudian saya berada di sebuah ruangan dengan peralatan medis, tetapi hanya ini yang bisa saya katakan. Mereka mengunci saya di kamar dan menyuruh saya memikirkan anak-anak saya," kisahnya.

Setelah operasi, Asha melaporkan salah satu makelar ke polisi. Makelar itu kemudian ditangkap dan ditahan selama 30 hari. Namun ironisnya dibebaskan tanpa tuduhan. Pada Juli 2018, Kementerian Kesehatan Mesir mengumumkan bahwa 37 orang dinyatakan bersalah oleh pengadilan Mesir atas tuduhan perdagangan ilegal organ tubuh manusia. Namun jumlah korban tak disebutkan.

Seorang juru bicara dari Kementerian Luar Negeri Mesir mengatakan, "Pihak berwenang Mesir terus mengejar, menyelidiki, dan mengadili segala hal terkait kejahatan perdagangan organ sesuai dengan ketentuan hukum pidana. Selain itu, perdagangan ilegal yang mengerikan ini tak akan pernah diampuni oleh pemerintah Mesir dan otoritas penegak hukum. Kami akan terus memerangi kejahatan semacam itu dan membawa mereka yang terlibat dalam perdagangan organ ke pengadilan, sambil melindungi warga negara Mesir serta pengungsi dan komunitas migran kami".

Asha hidup dalam ketakutan, menjadi sasaran ancaman dan intimidasi oleh perantara dan rekan-rekannya. Dia diancam jika tidak menarik pernyataannya, anak-anaknya akan menanggung akibatnya.

"Saya khawatir tentang apa yang akan terjadi pada anak-anak saya. Saya khawatir mereka akan datang untuk organ mereka juga," tutupnya.

Baca juga:
Pemakaman Makam Kuno Berisi 50 Mumi di Mesir
Makam Kuno Kembali Ditemukan di Mesir, Berisi 50 Mumi
ISIS Disebut akan Bangkit Kembali di Suriah dan Sinai
Semangat Perenang Wanita 76 Tahun Incar Gelar Juara
Aktivitas Warga Mesir di Tengah Badai Pasir
Jerman Investigasi Kasus Dua Warganya Hilang di Mesir
Bawa Pesan Persatuan, Presiden Mesir Resmikan Gereja dan Masjid Bersamaan

(mdk/noe)