Kisah Romina Ashrafi, Gadis Iran Dibunuh Ayahnya karena Kawin Lari

Kisah Romina Ashrafi, Gadis Iran Dibunuh Ayahnya karena Kawin Lari
DUNIA | 28 Mei 2020 13:03 Reporter : Iqbal Fadil

Merdeka.com - Romina Ashrafi, Gadis 13 tahun di kota Talesh, provinsi utara Gilan, Iran, nekat kabur untuk kawin lari bersama pria yang mencintainya. Namun keputusan itu berakhir tragis, nyawanya melayang di tangan ayahnya sendiri.

Pembunuhan terjadi setelah Ashrafi yang kabur bersama pacarnya, ditemukan polisi. Ayahnya melaporkan kasus ini karena menolak anaknya dinikahi pria yang tidak dia setujui. Ashrafi kemudian dikembalikan ke rumahnya walaupun sudah memohon kepada polisi agar tidak dipulangkan karena khawatir keselamatannya terancam.

Saat Ashrafi tertidur, sang ayah membunuhnya dengan senjata tajam sejenis sabit. Setelah itu ayahnya pergi ke kantor polisi dengan senjata pembunuh di tangannya dan mengakui apa yang telah dilakukannya. Dia melakukan itu dengan alasan menjaga kehormatan.

Dilansir Al Arabiya, Kamis (28/5) Gubernur Talesh mengatakan kepada kantor berita resmi IRNA pada hari Selasa, bahwa "rincian kasus ini akan dipublikasikan setelah proses hukum."

1 dari 1 halaman

Apa itu Pembunuhan Demi Kehormatan?

Pembunuhan yang dilakukan ayah terhadap putrinya seperti yang dialami Romina Ashrafi bukan hal yang baru pertama kali terjadi. 'Honour killing' atau pembunuhan demi menjaga kehormatan dilakukan karena anggota keluarga itu dianggap telah mempermalukan kerabat.

Berdasarkan data yang dihimpun Human Rights Watch, alasan paling umum adalah karena korban: Menolak untuk mengadakan pernikahan yang diatur. Sang anak adalah korban kekerasan seksual atau pemerkosaan. Kemudian, anak melakukan hubungan seksual di luar nikah, bahkan jika hanya dugaan.

Dikutip dari BBC, dalam beberapa kejadian, alasan pembunuhan bahkan dilakukan untuk alasan yang lebih sepele, seperti sang anak berpakaian dengan cara yang dianggap tidak pantas atau menunjukkan perilaku yang dianggap tidak taat.

Jika seorang pria dinyatakan bersalah membunuh putrinya di Iran, hukumannya adalah antara tiga dan 10 tahun penjara, bukan hukuman mati normal atau pembayaran diyat (uang darah) untuk kasus-kasus pembunuhan.

Belum ada statistik tentang prevalensi 'pembunuhan demi kehormatan' di Iran, tetapi aktivis hak asasi manusia melaporkan tahun lalu bahwa kasus ini terus terjadi, terutama di wilayah populasi pedesaan dan suku. (mdk/bal)

Baca juga:
Venezuela Sambut Kedatangan Kapal Minyak Iran Untuk Atasi Krisis BBM
Iran Larang Penggunaan Semua Teknologi Israel
Nenek Usia 107 Tahun di Iran Sembuh Dari Covid-19
Para Pakar di Iran Sebut Gejala Infeksi Covid-19 Berubah, Tak Hanya Batuk & Demam
Seorang Pria Ditangkap di Turki Karena Jemur Handuk Bergambar Bendera Inggris
Iran Akan Buka Kembali Masjid, GOR, dan Kampus Setelah Lebaran

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami