Kisah Tragis Imigran Venezuela Terjebak Prostitusi di Kolumbia
DUNIA | 13 Februari 2019 06:27 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Krisis ekonomi yang melanda Venezuela menyebabkan banyak warganya meninggalkan negara tersebut dan mencari penghidupan baru di negara-negara tetangga. Korban dari krisis ini kebanyakan para perempuan.

Awalnya mereka bungkam, namun pada akhirnya mereka terbuka dan bersuara, dengan deraian air mata, menceritakan bagaimana mereka terjebak dalam situasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya: menjual tubuh mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mariza, seorang perawat, melakukan perjalanan menyeberangi perbatasan Venezuela ke Kolumbia dua tahun lalu, meninggalkan ibu dan tiga anaknya. Seperti para imigran profesional, dia berharap mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidangnya, tapi berulang kali dia gagal mendapatkan pekerjaan dan bahkan lowongan pekerjaan sebagai petugas kebersihan pun tak ada, Mariza membuat keputusan yang mustahil.

"Melayani satu pria hari ini dan pria lainnya besok," kata dia menceritakan kisahnya yang terjebak dalam prostitusi, hal yang tak mudah dan berbahaya. Tapi sebagai seorang ibu, "Kamu tak bisa berpikir, kamu lakukan apa yang kamu harus kerjakan," ujarnya, seperti dilansir CNN, Selasa (12/2). Mariza bukan nama sebenarnya.

Nada kecewa terdengar dalam suaranya ketika bercerita tentang waktu yang dihabiskan untuk sekolah dan tak mampu bekerja sebagai perawat. "Ini membuat frustrasi karena kamu sadar kamu bekerja. Lima tahun saya kuliah, mempersiapkan (diri) - saya merasa pada saat ini bahwa sudah lima tahun saya kehilangan karena saya tidak bisa praktik," katanya, air mata mengalir di wajahnya.

Kembali ke rumah, dia adalah seorang perempuan karier dan memiliki sebuah impian, tetapi krisis di Venezuela memunculkan rintangan yang tidak bisa dia kendalikan.

Sebagai seorang perawat bersertifikat, hasil 15 hari kerja hanya cukup untuk membeli sekantong tepung. Bahan makanan itu hanya cukup untuk dua hari dan bahkan pada saat itu Mariza tidak dapat menemukan barang-barang yang dibutuhkannya, seperti popok untuk bayinya.

Menurut Mariza, orang-orang menghinap di luar toko, menunggu nomor antrean untuk esok pagi. Dengan nomor antrean di tangan, pelanggan akan menunggu di luar untuk membeli apa pun yang mungkin dimiliki toko hari itu. "Kau tidak punya pilihan selain membeli apa pun yang ada dalam stok (toko)," katanya.

Pendukung Chavez

Selama bertahun-tahun, warga Venezuela mendukung Presiden Nicolas Maduro, sama seperti pendahulunya, Hugo Chavez, yang memanfaatkan sumber daya minyak untuk mendanai program sosial. Namun ketika harga minyak mulai anjlok, dan ekonomi tertatih-tatih, warga Venezuela mulai protes ke pemerintah.

Mariza salah satu di antaranya. Seluruh keluarganya mendukung Chavez. "Kami selalu memilih Chavez," ujarnya, menyalahkan mantan pemimpin itu dan presiden saat ini karena salah urus negara yang membawa kepada krisis berkepanjangan.

Wanita Venezuela jadi PSK di Kolombia AFP/RAUL ARBOLEDA



Di masa lalu, kata Mariza, tak ada kelaparan, tak ada kekurangan, dan perpisahan. Semua hal berjalan baik dan orang-orang meninggalkan Venezuela hanya untuk berlibur, bukan karena keadaan terpaksa.

Kebutuhan hidup keluarganya membawanya ke Ccuta, sebuah kota perbatasan dengan angka pengangguran tertinggi di Kolombia. Mariza berjuang setiap hari agar bisa mengirim makanan, popok, dan kebutuhan dasar lainnya untuk ibu dan anak-anaknya. Jika ibunya tahu apa yang dia kerjakan, apakah dia akan memaklumi?

"Ibuku adalah ibu paling tangguh. Ibuku adalah segalanya," kata Mariza dengan suara parau. "Dan saya paham jika suatu hari dia tahu, apapun alasannya, ini akan menyakitinya tapi dia tak akan menghakimiku," imbuhnya.

Krisis ekonomi telah membuat warga Venezuela meninggalkan negaranya untuk mencari makanan, obat-obatan dan kehidupan yang lebih baik, dan negara tetangga Kolumbia merasakan dampaknya. Berdasarkan data UNHCR yang dirilis pada November 2018, lebih dari 3 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya, dan 1 juta orang bermigrasi ke Kolombia.

Mantan pengacara, Malcia tiba di Kolombia sepekan lebih, meninggalkan dua anaknya bersama orang tuanya yang berusia 64 tahun.

"Saya hanya bisa memberi mereka sarapan, kadang-kadang hanya makan siang, dan saat itu mereka tidur tanpa makan. Mereka berangkat ke sekolah. Saya lakukan apapun walaupun mustahil," jelasnya yang nampak berat membicarakan realitas kehidupan barunya.

Dia datang ke Kolumbia dengan harapan bisa bekerja sebagai petugas kebersihan atau pengasuh bayi. Bahkan ketika orang-orang menolaknya dan pintu ditutup di depan wajahnya, dia tidak pernah membayangkan dirinya mencapai titik ekstrem, jatuh dalam prostitusi.

Sambil menyeka air mata, dia berkata, "Saat saya di Venezuela, saya pada titik menjadi gila, dan di sini saya juga menjadi gila karena saya melakukan hal-hal yang tidak baik untuk bertahan hidup."

Ini adalah beban yang membebani dirinya terus-menerus. "Saya berlutut di malam hari untuk meminta kepada Tuhan - Saya bahkan pernah ke gereja untuk meminta pengampunan dari Tuhan - karena saya memikirkan wajah kecil anak-anak saya, orang tua saya. Itu tidak mudah, teman, tidak mudah," dia kata.

Tak hanya perempuan dengan keahlian khusus yang putus asa. Dari jutaan imigran, ada juga yang lebih muda dari Mariza dan Malcia; Erica. Erica juga tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Berusia 17 tahun, Erica terpaksa menjual tubuhnya untuk menghidupi bayi laki-lakinya yang berusia 7 bulan. Erica menggendong sendiri bayinya menyeberangi perbatasan Kolombia.

Mencari pekerjaan di Ccuta, dengan tingkat pengangguran yang tinggi, terbukti sulit, apalagi dia di bawah umur jauh lebih sulit. Erica mengatakan dia memiliki pilihan sangat sulit dan terburuk.

Jika bukan karena Maduro dan pemerintahannya, katanya, dia akan kuliah jurusan dokter hewan. Dan meskipun harus melepaskan mimpinya, dia berkata, sebagai seorang ibu, dia akan melakukan apa saja.

"Saya tidak akan membiarkan anak saya tanpa popok, tanpa botol susu," katanya. Pada akhirnya, dia berkata, "Saya seorang ibu, tetapi saya menganggap diri saya seorang anak yang sedang membesarkan seorang anak."

(mdk/pan)