Kotak Pandora Turki vs Kurdi, Militan ISIS Asal Indonesia Kabur dari Penjara Suriah

DUNIA | 18 Oktober 2019 07:28 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Ribuan kilometer dari Tanah Air, ratusan militan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang direkrut dari Indonesia dan Malaysia mendekam di penjara Suriah sejak kekhalifahan ISIS dinyatakan tumbang awal tahun ini.

Sekitar 50 militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) asal Indonesia dan keluarganya yang ditahan di sebelah utara Suriah diyakini kabur ketika Turki melancarkan invasi ke wilayah itu untuk mengusir milisi Kurdi pekan lalu.

Turki mulai menggelar operasi militer di utara Suriah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menarik mundur pasukan AS di kawasan itu.

Dari 12 ribu militan ISIS yang ditahan di penjara Suriah, sekitar 2.000 di antaranya adalah warga asing, termasuk dari Indonesia dan Malaysia.

"Menurut intelijen kami, sekitar 50 militan asal Indonesia dan keluarganya yang ditahan di Suriah melarikan diri. Itu kabar terakhir yang kami terima," kata sumber pejabat kontraterorisme yang menolak diketahui identitasnya kepada South China Morning Post.

Menurut sumber itu, ada 34 jihadis asal Indonesia dan sekitar 700 keluarga ISIS di Suriah.

"Kami sudah memperketat pengawasan di bandara, pelabuhan, dan perbatasan di daratan," kata dia.

1 dari 2 halaman

800 Keluarga Militan ISIS Kabur

Sekitar 12 ribu tahanan ISIS di Suriah hanya dijaga oleh sekitar 400 tentara Kurdi yang juga bertugas mengawasi sejumlah kamp pengungsian yang dihuni sekitar 70 ribu keluarga ISIS.

Dikutip dari laman South China Morning Post, Rabu (16/10), ketika Turki melancarkan serangan ke utara Suriah, para milis Kurdi yang berjaga menghadapi situasi sulit. Minggu lalu otoritas Kurdi mengatakan hampir 800 keluarga militan ISIS dari negara asing melarikan diri dari sebuah kamp di dekat wilayah serangan Turki.

Ahmad Yayla, asisten profesor hukum dari Universitas DeSales di Amerika Serikat mengatakan jika 12.000 tahanan ISIS itu memberontak maka mereka akan dengan mudah mengalahkan para penjaga Kurdi dan melarikan diri.

Sebelumnya sudah ada beberapa kali upaya memberontak dan melarikan diri, kata Yayla.

Ahli kontraterorisme dan akademisi dari Universitas Teknologi Nanyang, Noor Huda Ismail, mengatakan militan ISIS Indonesia dikenal gigih dan masih setia dengan ISIS.

Dalam sebuah video mereka sempat terlihat membakar paspor Indonesia di Suriah dan menyatakan janji setia dengan ISIS.

"Tanpa dokumen lengkap, mereka mungkin sulit untuk kembali ke negara asal. Hampir pasti mereka akan menyebar, terutama ke beberapa negara sekitar seperti di perbatasan Turki, Irak atau Iran," kata Huda.

2 dari 2 halaman

ISIS Mencari Cara buat Paspor Palsu

Huda mengatakan, militan ISIS yang kembali kemungkinan akan menjalin kontak dengan jaringan pro-ISIS di Indonesia, Jamaah Ansharut Daulah (JAD) jika mereka berhasil kembali ke Tanah Air.

"Jika mereka kembali, maka itu akan mengaktifkan lagi sel-sel ISIS yang selama ini tidur," kata dia.

Yayla menuturkan, ISIS kini tengah mencari cara mendapat paspor palsu bagi militan asing.

"Jika mereka bisa memalsukan paspor maka mereka ingin mengirimkan kembali militan yang sudah berpengalaman kembali ke asalnya supaya mereka bisa memimpin organisasi di negara asalnya," ujar Yayla.

Seiring pertempuran yang terus berlangsung, Turki berjanji akan mengelola semua pusat penahanan di lokasi yang mereka kuasai dan bekerja sama dengan negara lain untuk merehabilitasi anggota ISIS.

"Kami siap bekerja sama dengan negara-negara asal dan organisasi internasional untuk rehabilitasi keluarga anggota militan asing," kata Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam tulisannya di harian the Wall Strett Journal baru-baru ini.

Namun menurut Yayla yang merupakan mantan pejabat senior di departemen kontrateroisme di kepolisian nasional Turki, negara itu bersikap lunak terhadap ISIS.

"Di Turki ada sekitar 1.000 tahanan ISIS dan sebagian besar mereka sudah dibebaskan dalam waktu singkat," kata Yayla.

"Ketika saya menjabat kepala kontraterosime di Sanliurfa (kota di Turki berbatasan dengan Suriah), saya menerima perintah dari Ankara untuk tidak menghalangi aliran kedatangan militan asing yang ingin masuk ke Suriah dan bergabung dengan Barisan Al-Nusra.

Barisan Al-Nusra dikenal sebagai cabang Al Qaidah di Suriah dan dianggap kelompok militan terbesar setelah ISIS. (mdk/pan)

Baca juga:
Warga Suriah Berbondong-bondong Selamatkan Diri dari Serangan Turki
Surat Ancaman Trump kepada Erdogan: Jangan Keras Kepala, Jangan Bodoh!
Manbij, Kota Penting Jadi Ajang Perebutan Turki, Kurdi, dan Suriah
Jet Sukhoi Rusia Cegat F-16 Turki yang Akan Serang Markas Kurdi di Suriah
Tidak Takut Sanksi AS, Erdogan Tolak Saran untuk Gencatan Senjata dengan Kurdi
Perang Turki-Kurdi di Suriah, Pertempuran Manbij Sudah Dimulai