Laporan PBB Sebut Banyak Anak-anak Suriah Jadi Korban Pemerkosaan dan Penyiksaan ISIS

DUNIA | 17 Januari 2020 11:09 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Para anggota ISIS memperkosa anak-anak yang berumur sembilan tahun dan memaksa mereka menjadi budak seks, menurut laporan yang didukung PBB terkait perang sipil Suriah.

Para penyelidik mengatakan laporan itu adalah yang pertama yang hanya fokus pada penderitaan anak-anak yang terjerat dalam konflik berdarah.

Komisi Penyelidikan untuk Suriah mengumpulkan lebih dari 5.000 wawancara selama delapan tahun dengan anak-anak Suriah yang telah dirampok dari masa kecil mereka, serta dengan saksi, penyintas, kerabat, profesional medis, pembelot dan pejuang.

Seorang anak laki-laki berusia enam tahun menirukan menggantung seorang anak kecil setelah menonton eksekusi di depan umum, sementara seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun memberi tahu ibunya bahwa ia bisa mati kelaparan.

Laporan tersebut merinci bagaimana anak-anak dijadikan sasaran tembakan penembak jitu dan digunakan sebagai alat tawar-menawar untuk mendapatkan uang tebusan, bagaimana pejuang ISIS memperkosa anak perempuan sembilan tahun dan memaksa mereka melakukan perbudakan seksual.

Dalam laporan juga disebutkan pejuang Al-Qaidah menyiksa anak laki-laki, memaksa mereka mengikuti pelatihan militer dan memerintahkan mereka untuk melakukan pembunuhan di depan umum.

"Setelah delapan tahun konflik, anak-anak di Suriah telah mengalami pelanggaran hak-hak mereka yang tak terbantahkan: mereka terus terbunuh, cacat, terluka dan yatim piatu, menanggung beban kekerasan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang bertikai," kata laporan itu, dikutip dari Sky News, Jumat (171).

Laporan tersebut juga menggambarkan pemboman rumah sakit dan sekolah, sehingga 2,1 juta anak tidak dapat sekolah. Termasuk juga memaparkan dampak fisik dan mental jangka panjang yang serius dari anak-anak korban kekerasan ini.

1 dari 1 halaman

Ketua Komisi Penyelidik, Paulo Pinheiro, mengatakan terkejut dengan pengabaian HAM oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik.

Dia khususnya prihatin pemerintah Presiden Suriah Basyar Al-Assad terus mengabaikan tanggung jawabnya di bawah hukum internasional untuk menghormati HAM di wilayahnya.

"Sementara pemerintah Republik Arab Suriah memiliki tanggung jawab utama untuk melindungi anak laki-laki dan perempuan di negara itu, semua aktor dalam konflik ini harus berbuat lebih banyak untuk melindungi anak-anak dan melindungi generasi masa depan negara itu," katanya.

Penyelidik menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk pihak yang bertikai, pemerintah Suriah dan masyarakat internasional. Tetapi diduga sejumlah rekomendasi tersebut tak ditanggapi. (mdk/pan)

Baca juga:
Raja Yordan Peringatkan ISIS Bangkit Kembali di Timur Tengah
ISIS Puji AS Karena Bunuh Qassim Sulaimani dan Menyebutnya Sebagai 'Tindakan Tuhan'
Ada 1.000 Lebih WNI Terkontaminasi ISIS, Pemerintah Diingatkan Jangan Kecolongan Lagi
Mahfud Persilakan WNI Jadi Kombatan Teroris di Suriah Diadili
Studi Sebut Bahwa Youtube Mampu Kurangi Ideologi Radikal
Jejak ISIS di Balik Bomber Kartasura Hingga Penusukan Wiranto

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.