“Kekuatan Rakyat Myanmar Akan Menang dan Saya Percaya Ini Akan Jadi Nyata”

“Kekuatan Rakyat Myanmar Akan Menang dan Saya Percaya Ini Akan Jadi Nyata”
Aksi Tenaga Kesehatan Protes Kudeta Militer Myanmar. ©2021 REUTERS/Stringer
DUNIA | 15 April 2021 07:33 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Thomas Chen, seorang guru bahasa Myanmar di Universitas Soochow Taipei, berdiri di antara ribuan massa di Alun-Alun Liberty di ibu kota akhir Maret lalu. Massa berkumpul untuk menentang kekerasan aparat menyusul kudeta di Myanmar.

Dia memakai longyi atau pakaian tradisional Myanmar berwarna biru muda. Gambar Aung San Suu Kyi dan setangkai mawar segar yang dia selipkan di rambutnya sebagai bentuk penghormatannya pada pemimpin yang ditangkap militer itu.

Kudeta 1 Februari telah mendorong aksi protes massal di seluruh dunia. Di Taiwan, komunitas Myanmar pertama kali turun ke jalan Huaxin, rumah bagi 40.000 imigran Myanmar di Taiwan, berunjuk rasa lima hari setelah militer menggulingkan kekuasaan.

Thomas Chen (28), yang menjadi saksi mata pertumpahan darah selama Revolusi Saffron pada 2007, menyampaikan rakyat Myanmar tidak pernah begitu bersatu.

“Ada lebih dari seratus kelompok etnis di Myanmar, dan kami selalu memilih satu sama lain,” ujarnya, dikutip dari laman The News Lens International, Rabu (14/4).

“Tapi kali ini, kami memiliki musuh bersama dan menyadari itulah penyebab semua masalah.”

Rasa solidaritas yang langka menciptakan optimism gerakan, tapi Thomas mengatakan merasa “bersalah” tinggal di luar negeri saat rekan senegaranya membahayakan nyawa mereka sendiri di lapangan saat berunjuk rasa menentang rezim. Inilah yang memotivasi dirinya mengorganisir dan berpartisipasi dalam kegiatan yang membangkitan kesadaran krisis politik Myanmar di Taiwan.

“Sebagai seorang Myanmar yang tinggal di luar negeri, yang bisa saya lakukan adalah agar suara dari Myanmar didengar, diperhatikan, dan mengajak warga asing bersama-sama membantu negara saya,” jelasnya kepada Bryan Chou, editor di The News Lens International.

Untuk menunjukkan solidaritas Taiwan-Myanmar, Chen berencana untuk menampilkan "Sampai Akhir Dunia" (Kabar Ma Kyay Bu), lagu kebangsaan berbahasa Burma yang melambangkan pemberontakan Myanmar tahun 1988, dengan orang-orang Taiwan dan merekam video untuk diunggah ke YouTube. Dia telah menerjemahkan lagu dari Burma ke Mandarin.

Thomas menggelar sejumlah agenda dan diskusi terkait krisis Myanmar di Taiwan. Dia mengatakan banyak warga Taiwan yang telah mengetahui dan mempelajari krisis Myanmar.

“Mereka mendukung unjuk rasa pro demokrasi, tapi beberapa orang mungkin tidak tahu bagaimana menunjukkan dukungan mereka,” ujarnya.

Baca Selanjutnya: "Rakyat akan menang"...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami