Ledakan di Beirut, Luapan Amarah dan Ambruknya Kepercayaan Terhadap Pemerintah

Ledakan di Beirut, Luapan Amarah dan Ambruknya Kepercayaan Terhadap Pemerintah
DUNIA | 6 Agustus 2020 08:16 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Rakyat Lebanon sudah terbiasa marah kepada pemerintah karena runtuhnya ekonomi, pemadaman listrik berjam-jam dalam sehari, serta kelompok bersenjata yang mendominasi politik negeri.

Peristiwa mengejutkan sekaligus mengerikan selepas ledakan dahsyat dua hari lalu di pelabuhan Beirut menjadi penanda baru ambruknya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Di tengah krisis ekonomi terparah dalam sejarah Lebanon, ledakan di pelabuhan itu semakin membuat rakyat berada di titik nadir.

Meski penyebab utama ledakan itu belum bisa dipastikan, namun menurut kolumnis the Times of Israel, Aaron Boxerman, sejauh ini bukti yang ada menggambarkan kelalaian pemerintah dan rakyat Lebanon tampaknya setuju dengan premis itu.

Direktur Keamanan Publik Abbas Ibrahim mengatakan 2.750 ton bahan peledak ammonium nitrat memicu ledakan pada Selasa malam lalu. Bahan peledak itu sudah disimpan di pelabuhan sejak 2013.

Penyelidikan Aljazeera menemukan, Direktur Bea Cukai badri Daher sudah berulang kali mengirimkan surat permohonan agar bahan peledak itu dipindahkan. Namun sejauh ini tidak ada tindakan yang dilakukan oleh aparat berwenang.

"Kami tahu bahan peledak itu ada di sana," kata pejabat Bea Cukai Beirut hasam Quraytam, merujuk pada ammonium nitrat sebanyak 2.750 ton itu. "Kami tidak tahu akan seberbahaya ini."

Baca Selanjutnya: Dewan Keamanan Tinggi (HDC) mengumumkan...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami