Lewat Film Propaganda, China Gambarkan Etnis Uighur yang Riang Gembira

Lewat Film Propaganda, China Gambarkan Etnis Uighur yang Riang Gembira
Kehidupan muslim Uighur di China. ©REUTERS/Thomas Peter
DUNIA | 8 April 2021 07:59 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Dalam salah satu adegan, perempuan Uighur terlihat menari dengan gaya Bollywood yang meriah saat berhadapan dengan sekelompok lelaki Uighur. Di foto lain, seorang pria Kazakh memainkan kecapi dua senar tradisional sambil duduk di yurt di hadapan kawan-kawannya.

Selamat datang di "The Wings of Songs", film musikal yang didukung negara, bagian terbaru dalam kampanye propaganda China untuk mempertahankan kebijakannya di Xinjiang. Kampanye tersebut semakin intensif dalam beberapa pekan terakhir karena sejumlah negara Barat dan kelompok hak asasi menuduh Beijing menindas Uighur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang, diduga menerapkan kerja paksa dan melakukan genosida.

Film yang memulai debutnya di bioskop-bioskop China pekan lalu itu menawarkan sekilas visi alternatif Xinjiang yang didukung Partai Komunis China kepada penonton di dalam dan luar negeri. Tidak ada penindasan, film musikal ini sepertinya ingin menunjukkan Uighur dan minoritas lainnya bernyanyi dan menari dengan gembira dalam pakaian warna-warni. Tetapi propaganda ini dikecam aktivis HAM Uighur.

"Gagasan bahwa orang Uighur bisa menyanyi dan menari karena itu tidak ada genosida - itu tidak akan berhasil,” jelas Nury Turkel, seorang pengacara Uighur-Amerika dan rekan senior di Institut Hudson di Washington.

“Genosida dapat terjadi di tempat yang indah sekalipun,” lanjutnya, dikutip dari The New York Times, Rabu (7/4).

Setelah sanksi Barat, pemerintah China menanggapi dengan gelombang baru propaganda Xinjiag. China menggambarkan versi kehidupan yang bersih dan nyaman di Xinjiang sebagaimana digambarkan dalam film musikal tersebut dan mengerahkan pejabat China di situs media sosial untuk menyerang para kritikus Beijing. Untuk memperkuat pesannya, partai tersebut menekankan upayanya untuk memberantas ancaman terorisme kekerasan.

Menurut pemerintah, Xinjiang sekarang menjadi tempat damai di mana etnis Han China, kelompok etnis mayoritas, hidup harmonis bersama etnis minoritas Muslim di kawasan itu, seperti "biji delima". Ini adalah tempat di mana pemerintah berhasil membebaskan perempuan dari belenggu pemikiran ekstremis. Dan etnis minoritas di kawasan itu digambarkan bersyukur atas upaya pemerintah.

Baca Selanjutnya: Tak sesuai kenyataan...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami