Manbij, Kota Penting Jadi Ajang Perebutan Turki, Kurdi, dan Suriah

DUNIA | 17 Oktober 2019 07:28 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Senin lalu berjanji akan memukul mundur milisi Kurdi yang tergabung dalam Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dari perbatasan.

Pasukan Turki kini sudah bergerak ke arah timur Sungai Eufrat dan Turki menuju Manbij, kota strategis Suriah yang sejak 2016 dikuasai SDF.

Milisi pro-Turki bersama pasukan oposisi Suriah (FSA) mulai memadati pinggiran Manbij pada Senin malam, sehari setelah Amerika Serikat mengumumkan akan menarik pasukannya dari wilayah itu.

Langkah Washington ini diikuti dengan munculnya laporan pemerintah Suriah mulai mengerahkan pasukannya ke Manbij setelah mencapai kesepakatan dengan SDF. Kesepakatan Damaskus dan SDF yang dimediasi oleh Rusia ini bertujuan membendung operasi militer Turki.

Selasa lalu, sebagian kecil pasukan Suriah sudah mulai memasuki Manbij pertama kalinya sejak 2012. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan simpatisan pasukan Suriah mengibarkan bendera Suriah di atas gedung di pusat kota.

1 dari 2 halaman

Impian Milisi Kurdi

Sementara itu Rusia yang selama ini menjadi sekutu Suriah mengatakan mereka berpatroli di sepanjang perbatasan di antara pasukan pro-Turki dan pasukan Suriah untuk mencegah konfrontasi.

Sejumlah pengamat menilai perkembangan baru ini menjadi medan pertempuran teranyar dalam konflik Suriah yang sudah berlangsung selama delapan tahun dan menjadi pertanda berakhirnya kekuasaan SDF di kawasan itu.

"SDF cepat sekali jatuh," kata Umar Kouch, pengamat Suriah di Turki meski Rusia sudah menjadi penengah dalam kesepakatan Damaskus dan SDF.

"Impian mereka adalah mendirikan sebuah negara di sepanjang kawasan 'Rojava' akan sirna jika pasukan pemerintah Suriah menguasai wilayah itu," kata Kouch yang menyebut upaya SDF membentuk sebuah federasi otonomi di sebelah timur laut Suriah.

2 dari 2 halaman

Seberapa Penting Manbij?

Manbij yang terletak di utara Suriah menjadi target semua pihak yang berkepentingan dalam konflik Suriah karena kota itu dilalui jalur untuk pasokan logistik. Kota ini sudah berganti tangan beberapa kali selama konflik. Setelah direbut oleh pemberontak anti-Assad pada 2012, kota ini kemudian diambil alih oleh ISIS pada 2014 yang kemudian setelah mereka kalah dikuasai oleh SDF tiga tahun lalu.

Sebagai jalur ekonomi, Manbij terletak di jalur jalan bebas hambatan M4, rute komersil yang menghubungkan kota pelabuhan Latakia ke Aleppo, Raqqa dan wilayah kaya minyak, Deir Az Zor di sebelah timur.

Bagi Assad, menguasai jalur bebas hambatan itu bisa menjadi jalan untuk membangun ekonomi negara yang pork-poranda karena perang.

"Pemerintah Suriah sudah mengincar Manbij sejak lama," kata akademisi dari yayasan Century, Aron Lund. "Kini mereka melihat AS menarik mundur pasukan dan dukungan Rusia untuk melakukan itu."

Bagi Turki, menguasai daerah itu berarti mencegah SDF untuk kembali atau keluar masuk jalur di sepanjang Sungai Eufrat sekaligus membuat Kota Hassakah dan Qamishli terpisah dari pemerintahan di Aleppo.

Manbij juga sangat penting bagi Turki untuk membuat apa yang mereka sebut "zona aman" dari para milisi Kurdi dan sebanyak 3,6 juta pengungsi Suriah yang tinggal di daerah itu bisa kembali.

Menurut Marwan Kabalan, direktur Pusat Arab untuk Studi Penelitian dan Kebijakan, Moskow bisa mencapai "kesepakatan" dengan Ankara untuk kawasan itu yang diikuti dengan mundurnya SDF sehingga Rusia menguasai daerah tersebut.

Bagi Erdogan, kesepakatan itu bisa menjadi lebih efektif ketimbang upaya sebelumnya dengan Amerika Serikat untuk mencapai tujuan membangun "zona aman" hingga 30 kilometer ke wilayah Suriah. (mdk/pan)

Baca juga:
Makan Ular Jadi Syarat Kelulusan Perwira Kurdi
Jet Sukhoi Rusia Cegat F-16 Turki yang Akan Serang Markas Kurdi di Suriah
Tidak Takut Sanksi AS, Erdogan Tolak Saran untuk Gencatan Senjata dengan Kurdi
Perang Turki-Kurdi di Suriah, Pertempuran Manbij Sudah Dimulai
AS Beri Turki Sanksi dan Desak Gencatan Senjata dengan Kurdi di Suriah