Mantan Pejabat Intelijen: Kanada Harus Larang Jaringan 5G Huawei

DUNIA | 22 Januari 2019 17:42 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Seorang mantan pejabat intelijen Kanada mengungkapkan, negara itu harus melarang Huawei Technologies Co Ltd dari China memasok peralatan ke jaringan 5G Kanada karena risiko keamanannya terlalu besar. Ini disampaikan dalam sebuah artikel yang terbit pada Senin kemarin.

Richard Fadden, yang menjabat sebagai kepala agen mata-mata Badan Intelijen Keamanan Kanada dari 2009 hingga 2013, mengatakan sedang mengumpulkan bukti untuk memblokir Huawei.

"Pemerintah Kanada harus mengabaikan ancaman dan melarang jaringan 5G Huawei di Kanada untuk melindungi keamanan Kanada," tulisnya di Globe and Mail, seperti dilansir Reuters, Selasa (22/1).

Duta Besar China untuk Kanada pekan lalu mengancam akan bereaksi jika Ottawa memblokir Huawei. Namun peringatan itu diabaikan pemerintah Kanada. Hubungan kedua negara memburuk sejak petinggi Huawei ditangkap di Vancouver bulan lalu dengan surat perintah ekstradisi Amerika Serikat (AS).

Pemerintah Kanada tengah mempelajari implikasi keamanan jaringan 5G, generasi terbaru komunikasi seluler. Namun hasil studi ini belum dipastikan akan dirilis dalam waktu dekat, kata sumber terkait pekan lalu.

Beberapa sekutu Kanada telah memberlakukan pembatasan penggunaan peralatan Huawei, dengan alasan risiko spionase. Menteri Keamanan Publik Kanada, Ralph Goodale kemarin mengatakan kepada wartawan, perusahaan lain dapat memasok peralatan untuk jaringan 5G di masa depan, tapi tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Seperti diketahui, China menahan dua warga Kanada bulan lalu setelah penangkapan Meng Wanzhou, Kepala Keuangan Huawei sekaligus putri pendiri perusahaan tersebut, dan menuntut agar dibebaskan. Pengadilan China kemudian mengadili kembali seorang warga Kanada yang telah dipenjara karena penyelundupan narkoba dan menjatuhkan hukuman mati.

"Jika China menjatuhkan hukuman mati terhadap warga Kanada untuk membela perusahaan jawara nasionalnya, apa yang akan dilakukannya jika Partai Komunis Tiongkok memiliki akses bebas ke jaringan komunikasi penting Kanada?" kata Richard Fadden. Baik Kedutaan Besar China maupun Huawei tak menanggapi permintaan konfirmasi atas hal ini.

Juru Bicara Menteri Luar Negeri China, Hua Chunying hari ini menyebut pernyataan Fadden sebagai omong kosong.

Sebanyak 143 akademisi dan mantan duta besar dari berbagai negara kemarin menyampaikan surat terbuka kepada Presiden China, Xi Jinping dan mendesaknya untuk membebaskan dua warga Kanada.

"Kami sekarang harus lebih berhati-hati bepergian dan bekerja di China, termasuk melibatkan rekan-rekan China kami," tulis mereka.

Kebijakan pemerintah China menurut mereka dapat menciptakan ruang ketidakpercayaan yang semakin besar terhadap negara tersebut. Termasuk dapat menjadi kendala dalam upaya mengatasi perselisihan. Dampaknya akan dirasakan tak hanya oleh China, tapi juga negara-negara lain. Hua Chunying menanggapi pihak yang bertanda tangan dalam surat tersebut tidak bisa disebut mewakili dunia dan menuding mereka sengaja membangun ketakutan.

Duta Besar Kanada untuk China, John McCallum, pada Jumat lalu menyampaikan prioritas utama pihaknya ialah membebaskan dua warga negaranya dan membatalkan hukuman mati untuk satu terpidana.

Baca juga:
Pendiri Huawei Puji Trump dan Bantah Perusahaannya Jadi Mata-mata China
Pendiri Huawei Bantah Perusahaannya Jadi Mata-Mata China
Huawei Kanada Mengaku Tidak Akan Jadi Alat Mata-mata China
Polandia Tangkap Pegawai Huawei dengan Tuduhan Mata-mata China
Tahun 2019, Huawei Fokus Kembangkan Kecerdasan Buatan dan 5G

(mdk/pan)

TOPIK TERKAIT