Media Sosial Terbukti Gagal Mencegah Penyebaran Video Penembakan Massal di AS

Media Sosial Terbukti Gagal Mencegah Penyebaran Video Penembakan Massal di AS
Penembakan supermarket di AS. ©2022 AFP/JOHN NORMILE
DUNIA | 16 Mei 2022 16:34 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Maret 2019. Sebelum pria bersenjata itu membantai 51 orang di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, dia menyiarkan langsung aksinya lewat Facebook. Oktober lalu masih di tahun yang sama, seorang pria Jerman menyiarkan secara langsung serangan penembakan massal di Twitch, situs yang populer di kalangan para pemain game daring atau gamers milik Amazon.

Sabtu lalu seorang pria bersenjata di Buffalo, New York, memasang sebuah kamera di helmnya dan menyiarkan langsung aksinya di Twitch dengan membawa senapan dan melepaskan tembakan hingga menewaskan 10 orang dan melukai tiga lainnya di sebuah supermarket. Kejadian itu menurut pihak berwenang dilatari kebencian rasial.

Dalam sebuah manifestonya Payton S Gendron, 18 tahun, yang diidentifikasi sebagai pelaku oleh polisi, menulis, dia terinspirasi kejadian di Christchurch dan sejumlah aksi lain.

Twitch mengatakan mereka bertindak cepat untuk menghapus video penembakan di Buffalo itu dan menghentikan siaran langsung tersebut dalam waktu dua menit sejak aksi itu dimulai. Namu dua menit itu sudah cukup bagi video itu untuk menyebar ke mana-mana.

Sehari kemudian, tautan ke video itu sudah menyebar luas ke media sosial. Sebuah cuplikan dari video asli yang diberi tanda air, artinya video itu sudah direkam dengan perangkat lunak perekam gratisan, diunggah ke situs bernama Streamable dan dilihat lebih dari tiga juta kali sebelum dihapus. Tautan ke video itu juga dibagikan lebih dari ratusan kali di Facebook dan Twitter beberapa jam kemudian setelah penembakan.

Peristiwa penembakan massal dan tayangan siaran langsung semacam itu memicu timbulnya pertanyaan tentang bagaimana peran dan tanggung jawab media sosial dalam membiarkan tayangan dengan konten kekerasan dan kebencian itu berkembang biak.

Dilansir dari laman the New York Times Sebagian besar pelaku penembakan menulis, mereka memiliki pemahaman rasis dan antisemit karena kerap mengikuti perbincangan di forum semacam Reddit dan 4chan, dan terpicu melihat pelaku lain melakukan serangan semacam itu dan menyiarkannya secara langsung.

"Ini adalah fakta menyedihkan yang terjadi di dunia ini, bahwa serangan seperti ini akan terus terjadi dan saat ini ada aspek media sosial juga," ujar Evelyn Douek, peneliti senior di Institut Ksatria Amandemen Pertama Universitas Columbia. "Serangan semacam ini sulit dihindari dan akan terus kita lihat. Ini tinggal masalah waktu saja."

2 dari 3 halaman
media sosial terbukti gagal mencegah penyebaran video penembakan massal di as

Persoalan bagaimana peran dan tanggung jawab media sosial terhadap kejadian ini menjadi perdebatan yang kian meluas dan bagaimana mereka harusnya mempertimbangkan konten yang ditampilkan. Perdebatan itu kian meruncing sejak Elon Musk, CEO Tesla, belum lama ini sepakat membeli Twitter dan mengatakan dia ingin media sosial itu lebih melonggarkan ujaran-ujaran penggunanya.

Para ahli media sosial dan konten mengatakan tindakan cepat Twitch itu adalah respons terbaik yang bisa dilakukan. Namun fakta bahwa tindakan itu tidak mencegah video itu menyebar luas juga menjadi masalah tentang betapa mudahnya orang melakukan siaran langsung di situs itu.

"Saya terkesan mereka menghapus video itu dalam waktu dua menit," kata Micah Shaffer, konsultan yang menangani keputusan soal kepercayaan dan keamanan di Snapchat dan YouTube. "Tapi jika masalahnya video itu terlalu vulgar maka kita menemui jalan buntu: apakah layak kita menyimpannya?"

Dalam pernyataannya, Angela Hession, Wakil Presiden Twitch untuk kepercayaan dan keamanan mengatakan tindakan cepat yang dilakukan pihaknya adalah bentuk "respons paling keras mengingat tantangan yang dihadapi saat konten siaran langsung dan memperlihatkan kemajuan yang bagus." Hession mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Forum Internet Global untuk Kontra Terorisme, lembaga koalisi media sosial nirlaba dan media sosial yang lain untuk mencegah menyebarnya video itu.

"Pada akhirnya kita semua adalah bagian dari satu Internet dan kita tahu sekarang, konten seperti itu tidak akan bertahan hanya di satu platform," kata dia.

Dalam sebuah dokumen yang tampaknya diunggah ke forum 4chan dan layanan pesan singkat Discord sebelum penembakan, Gendron menjelaskan mengapa dia memilih menyiarkan langsung aksinya di Twitch. Menurut dia, media sosial Twitch itu cocok untuk menyaksikan siaran langsung secara gratis dan semua orang yang terhubung ke Internet bisa menyaksikan dan merekamnya.

3 dari 3 halaman

Twitch juga mengizinkan siapa pun yang punya akun untuk siaran langsung, tidak seperti situs lain macam YouTube yang meminta pengguna memverifikasi akun terlebih dulu dan setidaknya memiliki 50 subscriber untuk mengelar siaran langsung.

"Menurutku menyiarkan langsung serangan ini bisa membuatku merasa termotivasi, dalam arti orang akan memberiku sorakan dukungan," tulis Gendron.

Dia juga mengatakan dirinya terinspirasi oleh Reddit, situs kelompok garis kanan semacam The Daily Stormer dan tulisan Brenton Tarrant, pelaku penembakan Christchurch.

Gubernur Negara Bagian New York Kathy Hochul mengkritik platform media sosial atas peran mereka dalam mempengaruhi pemahaman rasis Gendron dan membiarkan video aksinya menyebar.

"Ini menyebar seperti virus," kata Hochul seraya mendesak para bos media sosial mengevaluasi kebijakan dan memastikan informasi semacam itu tidak menyebar.

Mungkin memang pada akhirnya tidak ada jawaban mudah. Platform seperti Facebook, Twitch, dan Twitter membuat langkah penting dalam beberapa tahun terakhir, kata ahli, dengan menghapus konten dan video kekerasan lebih cepat dari sebelumnya. Setelah peristiwa penembakan di Selandia Baru itu, media sosial dan negara-negara di dunia bergabung dalam perjanjian Christchurch Call to Action dan sepakat bekerja sama memerangi terorisme dan konten ekstrem.

Tapi dalam kasus ini, kata Douek, Facebook tampaknya gagal menangani meski punya sistem yang ketat. Unggahan Facebook yang memuat tautan ke video penembakan itu muncul di Streamable dan memicu interaksi lebih dari 43.000 kali, menurut CrowdTangle, sarana penganalisis situs.

Twitter juga tidak menghapus tautan ke video penembakan itu dan dalam sejumlah kasus video itu justru langsung diunggah ke Twitter. Juru bicara Twitter mengatakan pihaknya mungkin sudah menghapus sejumlah video atau menambahkan pesan peringatan, tapi kemudian mengatakan Twitter akan menghapus semua video terkait serangan tersebut.

Menghapus konten kekerasan ibarat "menaruh jari pada lubang bendungan air yang bocor," kata Douek. "Ini akan sangat sulit untuk menemukannya, terutama di saat betapa cepatnya konten itu bisa menyebar."

(mdk/pan)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini