Memahami Kudeta Militer Myanmar yang Sudah Tewaskan Ribuan Nyawa

Memahami Kudeta Militer Myanmar yang Sudah Tewaskan Ribuan Nyawa
Aksi Protes Kudeta Militer Myanmar. ©2021 AFP/Ye Aung THU
DUNIA | 17 Januari 2022 13:05 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Langit kelam masih menyelimuti Myanmar selepas kudeta militer pada 1 Februari tahun lalu. Unjuk rasa pro-demokrasi dan pembangkangan sipil harus berhadapan dengan bedil tentara. Darah pun tumpah. Ribuan nyawa melayang.

Tatmadaw atau militer Myanmar dikenal dengan tindakan brutalnya dalam membungkam oposisi atau gerakan perlawanan. Mereka menyerbu desa-desa di perbatasan, melancarkan serangan udara dan membakar rumah-rumah penduduk.

Dilansir dari laman the New York Times, pekan lalu, peristiwa kudeta itu membuat Myanmar kembali berada di bawah kekuasaan penuh militer setelah demokrasi sempat hadir pada 2011 ketika militer yang berkuasa sejak 1962 mengizinkan terselenggaranya pemilu dan sejumlah reformasi.

Sejak kudeta tahun lalu pemimpin sipil sekaligus tokoh peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi ditahan di sebuah rumah di Naypidaw, ibu kota Myanmar, dan harus menghadapi sejumlah dakwaan dan dinyatakan bersalah atas sejumlah pelanggaran hukum.

Apa yang memicu terjadinya kudeta?

Pada awal 2021 parlemen dijadwalkan menyetujui pembentukan pemerintahan baru setelah pemilu November 2020 yang dimenangkan oleh partainya Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Dmeokrasi. Partai sipil itu meraup 83 persen kursi di parlemen.

Tatmadaw menolak hasil pemilu yang menurut banyak kalangan adalah semacam referendum atas popularitas Aung San Suu Kyi. Sebagai pimpinan partai dia menjadi pemimpin sipil resmi sejak pemilu pada 2015.

Tanda-tanda akan terjadinya kudeta sudah terlihat ketika militer mengajukan penolakan hasil pemilu ke Mahkamah Agung dengan alasan pemilu itu dicurangi. Tentara juga mengancam akan mengambil tindakan dan mengepung gedung parlemen.

2 dari 3 halaman
memahami kudeta militer myanmar yang sudah tewaskan ribuan nyawa

Bagaimana kudeta terjadi?

Militer menangkap sejumlah pemimpin partai Liga Nasional, termasuk Aung San Suu Kyi dan Presiden U Win Mynt, anggota kabinet, dan kepala daerah dan politisi oposisi, penulis, dan aktivis.

Kudeta itu akhirnya diumumkan melalui stasiun televisi militer Mywaddy TV yang pembaca beritanya menyebut aturan Konstitusi 2008 yang membolehkan militer menyatakan keadaan darurat nasional.

Tatmadaw dengan cepat mengambil alih infrastruktur negara, menguasai stasiun teelvisi dan membatalkan penerbangan domestik dan internasional.

Telepon dan internet diputus di sejumlah kota besar. Bank dan pasar saham juga ditutup. Antrean warga mengular di mesin-mesin ATM. Di Yangon, kota terbesar dan bekas ibu kota, warga lari ke supermarket untuk menyetok makanan dan kebutuhan lain.

Bagaimana reaksi warga yang memprotes?

Beberapa pekan setelah unjuk rasa yang berlangsung damai demonstrasi pun berubah menjadi penuh kekerasan pada 20 Februari ketika militer menembak mati dua demonstran tak bersenjata di Mandalay, salah satunya anak laki-laki berusia 16 tahun.

Dua hari setelah kejadian itu jutaan penduduk bersolidaritas untuk melakukan pembangkangan sipil. Sejak itu pula aksi itu kian meluas hingga melumpuhkan sistem perbankan dan merepotkan tentara.

Memasuki bulan kedua unjuk rasa, militer kian beringas dengan menembaki demonstran. Sejak kudeta hingga kini sudah lebih dari 1.300 nyawa melayang dan 10.000 lainnya ditangkap, kata lembaga pemantau hak asasi.

Di antara para demonstran, kian berkembang pandangan bahwa militer harus dilawan dengan bahasa mereka sendiri. Sejumlah warga kemudian lari ke hutan dan berlatih militer untuk angkat senjata melawan junta.

Myanmar kini berada di ambang perang saudara, kata perwakilan PBB untuk Myanmar.

Bagaimana reaksi militer terhadap perlawanan sipil?

Sejak perburuan terhadap sejumlah demonstran di kota besar, militer kini bergerak ke pedalaman untuk menghabisi perlawanan di sepanjang perbatasan. Tatmadaw mengincar wilayah yang menjadi daerah kumpulan perlawanan sipil bersenjata bernama Pasukan Pembela Rakyat.

Warga melaporkan pasukan tentara dalam jumlah besar menuju daerah barat laut Myanmar. Militer juga melancarkan serangan roket, membakar rumah, memotong jalur pasokan logistik, dan menembaki penduduk yang berlarian.

3 dari 3 halaman
memahami kudeta militer myanmar yang sudah tewaskan ribuan nyawa

Siapa Aung San Suu Kyi?

Sosok Aung San Suu Kyi akhirnya mampu berdiri di atas tampuk kekuasaan sebagai penasihat negara pada 2016 setelah terlaksananya pemilu.

Naiknya Suu Kyi dipandang sebagai momen bersejarah bagi masa transisi Myanmar yang dulunya bernama Birma dari masa diktator ke demokrasi. Putri dari pahlawan kemerdekaan Jenderal Aung San, sebelumnya menjalani masa tahanan rumah selama 15 tahun.

Penderitaannya di dalam tahanan rumah membuat dia menjadi tokoh terkenal dunia dan dianugerahi Nobel Perdamaian pada 1991.

Setelah dibebaskan dari tahanan rumah pada 2010, reputasi Suu Kyi rusak lantaran dia menjalin kerja sama dengan militer dan dia membela tindakan militer dalam penindasan terhadap etnis minoritas muslim Rohingya.

Mengapa Aung San Suu Kyi diadili?

Pengadilan rahasia bagi Aung San Suu Kyi dimulai pada 16 Februari lalu. Januari sebelumnya dia didakwa melanggar aturan impor setelah di vilanya ditemukan walkie-talkie. Dua juga dinyatakan bersalah karena melanggar aturan pembatasan Covid-19.

Setelah itu sejumlah dakwaan dituduhkan kepadanya. Banyak kalangan menilai semua itu bermotif politik untuk menyingkirkan Suu Kyi dari dunia politik.

Siapa Jenderal Min Aung Hlaing?

Setelah kudeta, kekuasaan berada di tangan pemimpin militer Jenderal Min Aung Hlaing.

Kondisi ini semakin memperluas kekuasaan sang jenderal meski dia sebetulnya sudah harus pensiun pada musim panas tahun ini.

Di bawah kepemimpinannya, Min Aung menjalin kedekatan dengan dua sosok konglomerat dan menunjuk tiga anggota kunci di kabinet yang mengawasi polisi dan tentara perbatasan.

Tatmadaw tidak pernah berada di bawah kendali pemimpin sipil. Dalam beberapa tahun terakhir, tentara Myanmar dikenal brutal dalam menangani kaum minoritas, termasuk etnis Rohingya, Shan, dan Kokang.

Apa reaksi dunia internasional?

Sejumlah pemimpin dunia mengecam kudeta Myanmar dan menyerukan pembebasan Aung San Suu Kyi dan pejabat pemerintah lainnya. Namun dunia internasional belum menunjukkan aksi konkret yang bisa dilakukan.

Duta besar AS untuk Myanmar Thomas Vajda menyebut serangkaian pertumpahan darah pada peristiwa 27 Maret lalu "sangat mengerikan".

(mdk/pan)

Baca juga:
Junta Myanmar Tambah Lima Dakwaan Korupsi Bagi Aung San Suu Kyi
Aung San Suu Kyi Kembali Dijatuhi Hukuman Empat Tahun Penjara
Brutalnya Taktik Militer Myanmar: Bakar Desa dan Bantai Warga Secara Sistematis
Cerita Mereka yang Bertaruh Nyawa Demi Melaporkan Kudeta kepada Dunia
Kumpulan Foto Terbaik Peristiwa Dunia Sepanjang 2021
"Kami Semua Menderita di Bawah Rezim Militer Myanmar"

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami