Memahami Mengapa Upaya Kudeta di Venezuela Gagal

DUNIA | 27 Juli 2019 07:35 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Untuk memahami apa yang membuat sebuah kudeta berhasil, seperti yang baru terjadi di Sudan dan Aljazair, atau gagal seperti yang terjadi di Venezuela, orang bisa mengambil pelajaran dari suatu kejadian di Libya sekitar setengah abad lalu.

Di tahun 1969, Libya dipenuhi rumor soal akan terjadinya kudeta. Pada September di tahun itu, sejumlah kendaraan militer melaju menuju beberapa kantor pemerintahan dan pusat komunikasi. Tak lama setelah itu sebuah pernyataan singkat diumumkan: monarki tua di Libya akhirnya tumbang.

Anggota militer di seantero negeri menganggap para pentolan militerlah yang melakukan kudeta dan berharap pemimpin mereka akan muncul segera kemudian mengamankan Libya tanpa pertumpahan darah. Negara Barat lalu mengakui pemerintahan baru. Tak seorang pun merasa perlu mencari tahu siapa sebetulnya yang memimpin kudeta.

Sepekan kemudian, seorang anggota militer berpangkat letnan berusia 27 tahun mengumumkan dia dan beberapa pejabat militerlah yang melakukan kudeta. Anak muda itu bernama Muammar al-Qadaffi.

Rasanya sudah terlambat jika rakyat Libya merasa tertipu. Mencopot para pejabat akan memicu kepanikan massal para pemegang kekuasaan, rakyat dan sekutu asing akan menentang kepemimpinan baru, kejadian yang tidak mereka perkirakan sebelumnya.

Qadafi kemudian bertahan di tampuk kekuasaan selama 42 tahun.

Di Venezuela pemimpin oposisi Juan Guaido berupaya membangun rasa keniscayaan untuk rencananya menyingkirkan sang presiden, Nicolas Maduro, namun dukungan militer yang dia harapkan tak pernah muncul.

Kegagalan Juan Guaido seiring dengan keberhasilan gerakan kudeta di Aljazair dan Sudan, menggambarkan bagaimana sebuah kudeta bisa sukses atau gagal.

Dilansir dari laman the New York Times Mei lalu, selama ini orang menganggap kudeta dipicu oleh massa yang marah atau pejabat yang membangkang. Namun pada praktiknya peristiwa kudeta hampir selalu didorong oleh dominasi politik, militer, dan elit bisnis.

Para pemangku kepentingan itu pada akhirnya merekalah yang memutuskan seorang pemimpin tetap bertahan atau harus disingkirkan. Namun upaya menggulingkan pemimpin hanya bisa terjadi jika mereka semua bergerak bersama, membuat kudeta--seperti dikatakan pengamat kudeta terkenal Naunihal Singh--menjadi sebuah 'permainan yang kompak'.

Di Libya, Muammar Qadafi mampu membuat situasi politik yang mengerucut hingga khalayak merasa kudeta akan terjadi dalam waktu dekat.

Kondisi itulah yang membuat para pejabat Libya menganggap kudeta akan berhasil dan pemerintahan baru akan mendapat dukungan luas jadi sebaiknya mereka ikut dalam 'permainan' itu.

©France24

Guaido berusaha membangun kondisi yang kurang lebih sama di antara para pemangku kepentingan di Venezuela. Namun sejumlah langkah Guaido gagal secara teknis, seperti mengumumkan pengambil alihan kepemimpinan lewat Twitter, kata Singh. Para pemimpin kudeta biasanya lebih memilih mengumumkan pergantian kekuasaan lewat televisi nasional dan radio karena dengan menguasai kedua alat komunikasi itu mereka seolah sudah meyakinkan seantero negeri bahwa mereka sudah mengambil alih kekuasaan.

Guaido juga menyerukan para pemimpin militer bergabung dengan dirinya, hal yang kian memperlihatkan dirinya kurang dukungan.

"Anda tidak bisa bilang 'Kita bisa menang jika ada dukungan dari kalian'. Yang harus Anda bilang adalah 'Kita sudah menang,'" kata Singh. "Dengan membuat situasi seolah Anda sudah menang, maka Anda bisa mendapat dukungan yang diperlukan."

Selain itu ada masalah yang lebih pelik yang membuat penggulingan Maduro menjadi sulit: para pemangku kekuasaan di Venezuela, seperti rakyatnya dan komunitas internasional lebih luas, terpecah belah.

Meski misalnya sejumlah tokoh politik atau elit bisnis ingin Maduro lengser, tapi mereka tidak bisa menciptakan kondisi mengerucut yang membuat kudeta harus terjadi.

Butuh 12 jam bagi Maduro untuk kemudian muncul di televisi mengumumkan dia masih berkuasa.

Merencanakan kudeta tanpa dukungan luas dari elit bisa berbahaya. Ketika para pentolan militer ingin menggulingkan pemerintahan Turki pada 2016, mereka berusaha meraih dukungan politik tapi tak berhasil. Alhasil, pemerintahan Erdogan bertindak tegas dan akhirnya puluhan orang tewas dan mereka yang merencanakan kudeta dijebloskan ke penjara. (mdk/pan)

Baca juga:
Listrik Padam Hampir di Seluruh Wilayah Venezuela
Tanda-tanda Memudarnya Kekuatan Amerika di Berbagai Belahan Dunia
Maduro dan Oposisi Venezuela Sepakat Gelar Dialog
Imbas Krisis, Jutaan Warga Venezuela Tinggalkan Negaranya
Ditutup Empat Bulan, Venezuela Buka Kembali Perbatasan dengan Kolombia
Menengok Permukiman Kumuh Terbesar di Venezuela

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.