Memahami Peta Baru Konflik Suriah dari 10 Pertanyaan

DUNIA | 15 Oktober 2019 14:40 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Invasi Turki di sebelah timur laut Suriah saat ini membuat peta konflik semakin pelik dan menimbulkan situasi yang tidak kalah berbahaya dari sejak pecahnya konflik Suriah delapan tahun lalu.

Pada Maret 2011 unjuk rasa sebagian rakyat Suriah yang kemudian bentrok dengan aparat keamanan berubah menjadi konflik internasional antara berbagai faksi lokal, kelompok militan ISIS, dan sejumlah tentara asing.

Dilansir dari laman the New York Times, Selasa (15/10), kini Turki yang selama ini menjadi sekutu Amerika Serikat menyerang kelompok Kurdi yang sebelumnya menjadi sekutu AS selama bertahun-tahun. Bagaimana sesungguhnya Kurdi bisa terlibat dalam konflik yang pelik ini?

Ada berapa banyak orang Kurdi di Suriah?

Kurdi adalah etnis minoritas terbesar di Suriah dengan populasi antara 5 hingga 10 persen dari populasi Suriah yang mencapai 21 jiwa pada 2011. Mereka sebagian besar tinggal di Suriah utara, dekat perbatasan Turki, berdampingan dengan suku Arab dan berbagai etnis lainnya. Saat ini juga ada banyak etnis Kurdi di Turki, Irak, Iran, tapi hingga kini tidak ada negara dengan mayoritas etnis Kurdi.

Bagaimana Kurdi Suriah terlibat dalam perang ini?

Sebuah demonstrasi menentang Presiden Basyar al-Assad yang berkembang menjadi perang saudara pada 2011 dan 2012, berbagai faksi berambisi menguasai Suriah. Termasuk milisi pro-pemerintah, pemberontak yang menginginkan negara yang lebih demokratis, ekstremis Islam, dan berbagai milisi dari etnis dan kelompok minoritas agama yang ingin melindungi kawasan mereka dari serangan.

Di antara faksi-faksi itu ada milisi Kurdi yang memiliki sayap militer paling kuat yang disebut Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

1 dari 3 halaman

Bagaimana Amerika Bisa Terlibat dalam Konflik Suriah?

Selama beberapa tahun pemerintahan Presiden Barack Obama menolak seruan untuk terlibat langsung dalam konflik Suriah dan lebih memilih memberi sokongan dana dan pelatihan bagi sejumlah kelompok pemberontak.

Namun Obama kemudian berubah pikiran ketika ISIS memanfaatkan situasi konflik untuk mengambil alih sejumlah wilayah Suriah dan Irak.

Pada 2014 Amerika Serikat bergabung dengan koalisi internasional untuk memerangi ISIS dengan melancarkan serangan udara dan kemudian membangun pangkalan militer di wilayah Suriah untuk membantu operasi lapangan melawan ISIS.

Bagaimana milisi Kurdi menjadi sekutu Amerika?

Ketika ISIS merajalela di Suriah, YPG berkembang menjadi salah satu dari kelompok bersenjata yang konsisten melawan ISIS. Ketika koalisi internasional yang dipimpin AS mencari kelompok lokal yang bisa dijadikan sekutu melawan ISIS mereka melihat milisi Kurdi ini sebagai pilihan yang aman.

Mengapa Kurdi Suriah menguasai banyak wilayah?

Seiring milisi Kurdi bisa memukul mundur ISIS dari utara Suriah meski mereka juga kehilangan 11 ribu tentara dalam prosesnya, maka mereka kemudian menguasai wilayah yang diambil alih dari ISIS. Milisi Kurdi akhirnya menguasai sekitar seperempat wilayah daratan Suriah, termasuk yang berbatasan dengan Turki dan kawasan yang dihuni banyak suku Arab dan etnis lain.

Mengapa Turki ingin menyingkirkan Kurdi dari wilayah perbatasan?

Milisi Kurdi adalah cabang dari sayap militer kelompok gerilya yang dikenal sebagai Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan sudah beberapa dekade menjadi kubu pemberontak di Turki. Amerika Serikat dan Turki menganggap PKK sebagai organisasi teroris.

Turki menilai kekuasaan Kurdi di wilayah dekat perbatasan bisa menjadi ancaman besar dan khawatir kawasan itu menjadi tempat kaburnya orang Kurdi di Turki yang sedang diburu atau jadi tempat para pemberontak merencanakan serangan terhadap Turki.

Sikap Turki terhadap Kurdi membuat AS dalam posisi dilematis: Turki adalah sekutu AS, anggota NATO dan sama-sama memusuhi pemerintah Suriah, tapi kini Turki hendak menyingkirkan milis Kurdi yang juga adalah sekutu AS ketika memerangi ISIS.

2 dari 3 halaman

Bagaimana AS Memecahkan Masalah Ini?

Pemerintahan Obama mencoba membujuk milisi Kurdi untuk melepaskan ikatan mereka dari gerilayan di Turki dan meminta mereka mengubah nama kelompok dan menerima lebih banyak anggota dari orang non-Kurdi. Kelompok inilah yang kemudian bernama Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan sekitar 40 persen anggotanya adalah Arab dan etnis lain.

Pasukan AS kemudian bertindak sebagai penjaga perdamaian, menggelar patroli di perbatasan Turki, awalnya sendiri kemudian bergabung dengan tentara Turki.

Dalam beberapa bulan terakhir AS membujuk otoritas Kurdi untuk menarik mundur pasukan mereka dari perbatasan dan menghancurkan benteng pertahanan sebagai bentuk niat baik terhadap Turki.

Mengapa kebijakan AS tiba-tiba berubah?

Presiden Trump sejak lama ingin menarik mundur pasukan AS dari Suriah dengan alasan AS harus menghindari 'perang tak berujung'. Trump awalnya memerintahkan mundur pada Desember tapi kemudian dia mengubah rencana itu setelah menteri pertahanannya, Jim Mattis mengundurkan diri karena tidak setuju.

Pasukan AS tampaknya masih lama akan berada di Suriah. Para komandan militer AS ingin memastikan sejawat Kurdi mereka bisa menjaga perdamaian di utara Suriah untuk masa depan nanti.

Tapi kemudian Trump mengubah pikirannya dan pada 6 Oktober lalu dia menelepon Presiden Recep Tayyip Erdogan dan mengumumkan pasukan AS ditarik dari wilayah perbatasan.

Situasi ini membuat Turki menjadi punya akses ke wilayah Kurdi dan melancarkan operasi militer mulai 9 Oktober lalu.

3 dari 3 halaman

Apakah pasukan AS sudah semuanya ditarik?

Tidak semua.

Sebetulnya pasukan AS yang ditarik hanya sebagian kecil di wilayah perbatasan Turki-Kurdi dan dipindahkan ke lokasi lain di kawasan yang masih dikuasai Kurdi di Suriah.

Pemerintahan Trump mengancam akan menerapkan sanksi ekonomi kepada Turki jika mereka menyerang Kurdi dan Senin lalu Trump mengatakan dia menunda kerja sama perdagangan senjata kepada Turki dan melipat gandakan biaya masuk untuk impor besi Turki.

Siapa yang mengambil keuntungan dari keputusan Trump?

Yang paling awal tentunya Turki dan sekutu Arab Suriah mereka yang sejauh ini sudah menguasai sebagian kecil wilayah Suriah milisi Kurdi meninggalkan wilayahnya.

Kelompok ISIS juga bisa mengambil keuntungan dari situasi ini setelah para milisi Kurdi tidak lagi punya sumber daya manusia untuk menjaga militan ISIS di kamp penahanan yang mencapai 11 ribu orang, sebagian besar adalah kaum perempuan dan anak-anak.

Pemerintah Suriah adalah pihak yang beruntung berikutnya. Dua hari lalu otoritas Kurdi mencapai kesepakatan dengan Damaskus hingga pasukan Suriah bisa kembali datang menguasai wilayah utara Suriah setelah lebih dari lima tahun.

Selain semua pihak itu, masih ada Rusia dan Iran yang juga bisa mengambil keuntungan.

Ditariknya pasukan AS dari utara Suriah membuat Iran dan Rusia bisa memperluas pengaruh mereka di wilayah Suriah. Terutama Rusia yang selama ini menjadi pihak penting dalam perundingan antara Kurdi, Assad dan pemerintah Turki.

(mdk/pan)