Sejarah Dunia

Memahami Sejarah Singkat 65 Tahun Konflik Iran-AS

DUNIA | 6 Desember 2019 07:18 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Hubungan Iran dengan Amerika Serikat (AS) tak pernah sejalan. Kedua negara kerap terlibat ketegangan. Baru-baru ini intelijen AS melaporkan Iran diam-diam memindahkan rudalnya ke Irak untuk mengantisipasi serangan AS setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan rencana mempertimbangkan menambah jumlah pasukan AS di Timur Tengah untuk mengamankan kepentingan AS.

Ketegangan kedua negara dimulai sejak sekitar 65 tahun yang lalu atau pada 1953. Dilansir dari BBC, Kamis (5/12), pada 1953, intelijen AS dan Inggris merancang upaya penggulingan Perdana Menteri Iran yang terpilih secara demokratis, Mohammad Mossadeq. Pemimpin sekuler itu berusaha menasionalisasi industri minyak Iran.

Pada 1979, terjadi revolusi Iran. Shah atau pemimpin Iran saat itu, Mohammad Reza Pahlevi yang didukung AS dipaksa meninggalkan negaranya pada 16 Januari menyusul unjuk rasa berbulan-bulan dan serangan terhadap pemerintahannya baik oleh lawan sekuler dan maupun konservatif. Dua pekan kemudian, pemimpin Islam Ayatollah Khomeini kembali dari pelarian. Menyusul sebuah referendum, Republik Islam Iran dideklarasikan pada 1 April 1979.

Penyanderaan Kedubes AS di Iran terjadi pada 1979-1981. Kedubes AS di Teheran dikuasai pengunjuk rasa pada November 1979 dan tawanan Amerika ditahan selama 444 hari. Sebanyak 52 tawanan terakhir dibebaskan pada Januari 1981, bertepatan dengan hari pelantikan Presiden AS Ronald Reagan.

Enam orang Amerika lainnya yang melarikan diri dari kedutaan diselundupkan keluar dari Iran oleh sebuah tim yang menyamar sebagai pembuat film. Peristiwa ini diangkat ke layar lebar dengan film berjudul Argo dan memenangkan Oscar 2012.

Pada 1985-1986, Iran secara diam-diam mengirim senjata ke Iran, diduga sebagai imbalan atas bantuan Teheran membebaskan tawanan AS oleh gerilyawan Hizbullah di Lebanon. Keuntungan secara ilegal disalurkan ke pemberontak di Nikaragua, memicu krisis politik bagi Reagan.

Pada 3 Juli 1988, pesawat penumpang Iran Air ditembak jatuh oleh kapal perang AS USS Vincennes, menewaskan 290 orang di dalam pesawat. AS mengatakan pesawat jenis Airbus A300 disalahartikan sebagai jet tempur. Sebagian besar korban adalah peziarah Iran yang akan menuju Mekkah.

1 dari 2 halaman

Ketegangan Sepanjang 2000-2015

Pada tahun 2002, Presiden AS George Bush menyebut Iran sebagai 'poros setan' bersama dengan Irak dan Korea Utara. Pidato tersebut memicu protes keras di Iran.

Pada tahun yang sama, kelompok oposisi Iran mengungkapkan Iran mengembangkan fasilitas nuklir termasuk pengayaan uranium. AS menuding Iran mengembangkan proyek senjata nuklir, yang disangkal Iran. Sanksi dijatuhkan oleh PBB, AS dan Uni Eropa terhadap pemerintahan presiden ultra-konservatif Mahmoud Ahmadinejad. Ini menyebabkan mata uang Iran kehilangan dua pertiga nilainya dalam dua tahun.

Pada September 2013, sebulan setelah presiden moderat Hassan Rouhani menjabat, Rouhani dan Presiden AS Barack Obama berbicara melalui telepon, pembicaraan pertama kali antara pemimpin kedua negara dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun.

Kemudian pada 2015, setelah berbagai upaya diplomatik, Iran menyetujui kesepakatan jangka panjang pada program nuklirnya dengan sekelompok kekuatan dunia yang dikenal sebagai P5 +1 - AS, Inggris, Prancis, China, Rusia dan Jerman.

Di bawah perjanjian itu, Iran setuju untuk membatasi kegiatan nuklirnya dan mengizinkan para pengawas internasional sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi yang melumpuhkan negara tersebut.

2 dari 2 halaman

2019: Ketegangan Wilayah Teluk

Pada Mei 2018, Presiden AS Donald Trump meninggalkan perjanjian nuklir, sebelum menerapkan kembali sanksi terhadap Iran dan negara-negara yang menjalin kerjasama dagang dengannya. Hubungan kedua negara memburuk.

AS mengirim kapal induk dan pembom B-52 ke Teluk karena "indikasi yang mengganggu dan meluas" terkait dengan Iran. Kemudian, pada Mei dan Juni 2019, ledakan menghantam enam kapal tanker minyak di Teluk Oman, dan AS menuduh Iran di balik serangan tersebut.

Dan pada 20 Juni, pasukan Iran menembak jatuh pesawat tanpa awak militer AS di Selat Hormuz. AS mengatakan itu di atas perairan internasional, Iran mengatakan itu di atas wilayah mereka. (mdk/pan)

Baca juga:
Intelijen AS: Iran Diam-diam Pindahkan Rudal ke Irak
Amerika akan Kirim 14.000 Pasukan ke Timur Tengah untuk Hadapi Iran
Iran Tangkap 8 Orang Diduga Terkait CIA karena Dianggap Picu Demo Rusuh
Iran Bantah Laporan Amnesty Soal Jumlah Korban Tewas karena Demo 106 Orang
Rouhani Tuding AS, Israel, dan Saudi Dalang Kerusuhan dalam Demo Kenaikan BBM di Iran

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.