Membedah Alasan Mengapa Sentimen Anti Pribumi di Bolivia Menguat

DUNIA | 15 November 2019 07:33 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pada saat Presiden Bolivia, Evo Morales mengumumkan pengunduran dirinya pada Minggu, negara itu berada dalam kekisruhan selama tiga pekan. Diikuti wakil presiden dan ketua senat yang juga mengundurkan diri, Morales menyerukan penghentian kekerasan dan memperingatkan oposisi konservatif Bolivia untuk berhenti “mengejar, menangkap, dan menganiaya menteri saya, pemimpin serikat pekerja yang tidak adil, dan anggota keluarga mereka."

Malam itu, sedikitnya 20 pejabat partai Morales, Gerakan Sosialisme atau Movement Toward Socialism (MAS), mengajukan suaka ke Kedutaan Besar Meksiko. Eksodus politik terjadi mendadak. Morales sepakat pada Sabtu untuk penyelenggaraan Pemilu baru, setelah mendapat tekanan politik dari Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS), Uni Eropa, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Amerika Latin.

Sulit menilai peristiwa ini selain sebagai sebuah kudeta. Berjam-jam sebelum Morales mundur, Pasukan Khusus Bolivia secara terbuka mendesak pengunduran diri Morales. Sehari sebelumnya, polisi di La Paz dan Cochabamba, dua kota terbesar di negara itu bergabung dengan pengunjuk rasa anti pemerintah dan mengancam tak akan terlibat pengamanan jika terjadi perang sipil. Pemberontakan polisi dan pengunjuk rasa secara cepat menyebar di seluruh negeri, dan di semua kota besar terjadi krisis akibat konfrontasi dengan kekerasan antara simpatisan pemerintah dan pendukung oposisi.

Santa Cruz, merupakan basis oposisi, mengalami blokade selama lebih dari 20 hari, saat dua orang tewas dalam bentrokan antara pemerintah dan pendukung oposisi. Kerusuhan terjadi Cochabamba, kota yang menjadi basis pro oposisi, saat Morales mempertahankan dukungan petani yang kuat di pedesaan Bolivia, khususnya di wilayah Chapare, di mana ia pernah menjadi pemimpin serikat buruh dua dekade lalu.

Perpecahan politik yang meningkat antara sebagian besar pendukung pribumi atau suku asli dan pemerintah dengan kelompok kulit putih, pembangkang kelas atas telah terbukti mematikan: Di Cochabamba, seorang siswa berusia 20 tahun tewas dalam bentrokan antara kelompok pro dan anti-pemerintah, sementara laporan menunjukkan bahwa warga El Alto — kota yang sebagian besar populasinya penduduk asli Aymara dan kota kelahiran Morales — telah mulai mempersenjatai diri.

Pada Selasa, kepala operasi khusus untuk pasukan polisi El Alto tewas dalam kecelakaan mobil ketika mencoba mengendalikan pengunjuk rasa ketika ribuan orang turun ke jalan di sepanjang jalan raya menuju La Paz, menyebabkan korban tewas menjadi empat orang, sementara puluhan lainnya terluka.

Kelompok sayap kanan Bolivia memanfaatkan kekosongan kekuasaan dan sentimen anti pribumi. Sejak pengunduran diri Morales, banyak pejabat di garis suksesi kepresidenan negara itu juga telah mengundurkan diri, untuk melindungi diri dan keluarga mereka, tersisa Jeanine Añez Chavez, seorang pemimpin oposisi konservatif dan wakil presiden kedua Senat, siap mengambil alih kursi Presiden Bolivia (Añez menikah dengan seorang pemimpin partai konservatif Kolombia yang berkaitan dengan kelompok-kelompok paramiliter). Luis Fernando Camacho, seorang pengacara sayap kanan dari Santa Cruz yang sebagian besar memimpin gerakan oposisi selama tiga pekan terakhir, telah menyemburkan kekerasan luar biasa dan retorika xenophobia, sampai-sampai dia dijuluki "Bolsonaro Bolivia." Setelah pengunduran diri Morales, Camacho memasuki istana pemerintah di La Paz, dan meletakkan sebuah Alkitab di bendera Bolivia. Pendeta di sampingnya kemudian mengatakan bahwa Pachamama (dewi Ibu Bumi Andes) tidak akan pernah kembali ke Bolivia, "Bolivia milik Tuhan."

Potensi kembalinya pemerintahan konservatif setelah Morales berkuasa 14 tahun membawa serta menguatnya sentimen anti-pribumi yang mengakar di Bolivia, mengingatkan pada "perang gas," di mana ketidakpuasan atas eksploitasi gas alam Bolivia tumbuh menjadi protes skala besar yang sebagian dipimpin oleh Morales. Pada tahun 2003, kerusuhan itu menewaskan lebih dari 60 warga pribumi Aymara setelah bentrokan antara pengunjuk rasa dan tentara nasional. Sanchez de Lozada, presiden yang tidak populer di negara itu, mengundurkan diri dari jabatannya, meninggalkan wakil presidennya, Carlos Mesa - kandidat oposisi yang telah memicu krisis politik Bolivia saat ini - untuk turun tangan. Mesa sendiri mundur beberapa bulan kemudian ketika unjuk rasa berlanjut, dan, pada 2005 , Morales terpilih sebagai presiden pribumi pertama di negara itu.

Masa jabatan Morales jauh dari sempurna. Pemerintahannya mengizinkan proyek ekstraktif transnasional di tanah-tanah adat, termasuk proyek bendungan di dataran rendah Beni dan pembangunan kembali jalan raya di sepanjang jalur Amazon Bolivia. Pada tahun 2016, Morales mengadakan referendum konstitusional yang menanyakan kepada rakyat Bolivia apakah ia dapat mencalonkan diri lagi untuk masa jabatan keempat, meskipun Konstitusi melarang seorang presiden menjabat dari 12 tahun.

Referendum ditolak, tetapi Pengadilan Pemilihan Bolivia akhirnya menetapkan konsesi konstitusional untuk dijalankan Morales pada 2019, yang menyebabkan unjuk rasa, blokade, dan pemogokan di seluruh negeri.

"Bola salju telah terbentuk," kata Miguel Reynaga, direktur kolektif teater kiri di Cochabamba, menggambarkan kekerasan yang meningkat di kota, dilansir dari laman The Nation, Kamis (14/11).

1 dari 2 halaman

Aksi Balasan Pembakaran Bendera

Di bawah Morales, pemerintah Bolivia juga berhasil melesatkan pertumbuhan ekonomi, menurunkan angka kemiskinan, mengurangi peringkat buta huruf, meningkatkan pelayanan kesehatan, dan mempromosikan kebijakan pendidikan dan sosial yang secara radikal berhasil memperbaiki kehidupan rakyat Bolivia. Konstitusi 2009, disahkan di bawah Morales, secara eksplisit mengakui hak-hak kelompok suku asli dan Afro bolivia, mengubah kehidupan politik dan kultural mulai dari pakaian yang dikenakan pejabat publik sampai bahasa yang diajarkan di sekolah. Mereka yang masih mendukung Morales terus melakukannya terutama karena alasan-alasan ini.

Hampir satu setengah dekade kemudian, penggulingan pemerintahan Morales mengancam potensi kembali tumbuhnya sentimen anti suku asli. Pada Senin, loyalis Morales mulai membakar kantor polisi di El Alto, sebuah aksi balas dendam setelah pemberontakan polisi, tapi juga sebagai respons atas penurunan dan pembakaran bendera Whipala, yang merepresentasikan kelompok suku asli di Bolivia dan seluruh wilayah Andes oleh pasukan polisi di Majelis Legislatif di La Paz. (Pada 2009, Morales meresmikan Whipala sebagai bendera nasional kedua Bolivia.) Personil polisi di kota-kota lain mengikuti aksi yang sama, merobek dan memotong tambalan yang berisi bendera Whipala dari seragam mereka.

2 dari 2 halaman

Adakah Jalan Keluar?

Krisis saat ini merambah ke kota-kota yang sebelumnya aman seperti El Alto. Selama beberapa pekan terakhir, keluarga yang tak terhitung jumlahnya telah terperangkap dalam lingkaran konflik, dengan cara yang tidak jauh beda dengan pecahnya perang gas berdarah pada bulan Oktober 2003 - mungkin mereka mendukung Morales, mungkin juga tidak, tetapi di luar pertanyaan tentang kecurangan pemilu, laporan OAS, dan tuduhan kudeta yang mendominasi pemberitaan media Barat, warga sipil lebih fokus pada masalah pertahanan diri dan mencari perlindungan dari meningkatnya kekerasan.

"Ini adalah skenario yang sangat berbahaya," kata Ruth Alipaz, seorang aktivis lingkungan dari dataran rendah timur laut Bolivia.

"Suasana pada hari Minggu adalah suasana di mana segala sesuatu bisa terjadi," lanjutnya.

Pertanyaan rakyat Bolivia sekarang seragam; 'Hay salida?' Apakah ada jalan keluar?

Untuk saat ini, jawabannya tampak suram. Bahwa El Alto dan daerah basis Morales lainnya dengan sejarah pertahanan diri mendapat sorotan tidak hanya terkait gawatnya situasi politik saat ini tetapi juga keinginan untuk mempertahankan kelas pekerja asli Bolivia. Setidaknya, itu memberikan secercah harapan.

Sebelumnya pada musim panas ini, jurnalis Jacquelyn Kovarik bertanya kepada seorang sopir taksi di Sucre bagaimana pendapatnya tentang potensi terpilihnya Carlos Mesa.

"Akan sangat memalukan jika Mesa terpilih," katanya. Tetapi Mesa juga tidak sama dengan tahun 2003. Presiden neoliberal tidak dapat lagi mengambil keuntungan dari orang-orang seperti sebelumnya. Pueblo (penduduk asli) telah bangun." (mdk/pan)

Baca juga:
AS Perintahkan Diplomatnya Segera Tinggalkan Bolivia
Jeanine Anez Umumkan Dirinya Presiden Sementara Bolivia
Benarkah Terjadi Kudeta di Bolivia Hingga Memaksa Morales Mundur?
Kekosongan Politik di Bolivia Pasca Evo Morales Mengundurkan Diri
Evo Morales Terbang ke Meksiko, Tinggalkan Bolivia Usai Dapat Suaka
Presiden Bolivia Evo Morales Mundur

TOPIK TERKAIT