Mempertanyakan Klaim Korea Utara Bebas Virus Corona

Mempertanyakan Klaim Korea Utara Bebas Virus Corona
DUNIA | 1 April 2020 07:07 Reporter : Iqbal Fadil

Merdeka.com - Hingga akhir Maret, Korea Utara belum melaporkan satupun kasus positif virus corona. Saat tetangganya, Korea Selatan mencatat 9.786 kasus dengan 162 kematian, klaim nihil infeksi Covid-19 Korea Utara dipertanyakan.

Data terakhir yang dilansir worldmeters.info, total kasus infeksi virus corona di seluruh dunia mencapai 810.123 orang dan angka kematian mencapai 39.572. Amerika Serikat berada di urutan teratas jumlah infeksi mencapai 166.214 orang. Sedangkan Italia menjadi negara dengan angka kematian tertinggi 11.591 orang, mengalahkan China (3.305 orang) tempat awal mula virus ini merebak dan menjadi pandemi global.

Dengan kondisi isolasi berpuluh tahun dan sanksi internasional, banyak pihak yang tidak percaya sistem kesehatan publik di Korea Utara mampu menghadapi wabah ini. Bisakah klaim Korea Utara ini dipercaya sementara negara-negara lain di dunia tengah kesulitan membendung penyebaran virus ini?

Alkisah, sekitar awal Februari lalu, Shin Dong-yun, seorang ilmuwan dari Institut Virologi Korea Utara, bergegas ke perbatasan barat laut dengan China. Di sana, ia melakukan 300 tes dan mengecek satu persatu orang untuk menilai sehingga "negara terlindung dari invasi virus corona baru."

Kisah-kisah seperti ini, dimuat di surat kabar resmi milik pemerintah, Rodong Sinmun. Dalam berbagai publikasinya, Korea Utara mengklaim telah mengambil beberapa tindakan paling drastis terhadap pencegahan penyebaran virus dan melakukannya lebih cepat daripada kebanyakan negara lain.

Salah satunya menutup perbatasannya pada akhir Januari, menutup bisnis dengan negara tetangga China, yang menyumbang sembilan per sepuluh dari perdagangan eksternal. Kemudian mengkarantina semua diplomat di Pyongyang selama satu bulan.

Selain itu, aturan ketat negara mengendalikan pergerakan orang juga mendukung upaya pengendalian penyakit ini.

"Anda dapat segera melihat apa yang akan terjadi jika Anda mendapatkan lonjakan pasien Covid-19 yang masuk," kata Dr. Kee B. Park, seorang dosen di Harvard Medical School yang telah bekerja bersama dokter Korea Utara untuk membantu meningkatkan sistem kesehatan negara.

"Ini akan membanjiri sistem dengan sangat cepat," ujarnya seperti dikutip New York Times, Selasa (31/3).

Park menambahkan, klaim nihil infeksi Covid-19 sangat diragukan. Sebaliknya, minimnya alat tes yang membuat tidak ada satupun kasus yang dilaporkan.

"Itu karena mereka memiliki kasus tetapi mereka tidak tahu cara mendeteksinya. Jadi mereka bisa mengatakan: Kami belum mengonfirmasinya," tukas Park.

1 dari 2 halaman

Menjaga Ketertiban

Tudingan lain di balik tak ada satupun kasus Covid-19 adalah, pemerintah Korea Utara dianggap menyembunyikan data sesungguhnya dengan tujuan menjaga ketertiban.

"Itu kebohongan terang-terangan ketika mereka mengatakan mereka tidak memiliki satupun kasus," kata Seo Jae-pyoung.

Jae-pyoung adalah sekretaris asosiasi warga Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan. Dia yang tinggal di Seoul, mengaku mendengar dari kontaknya di Korea Utara bahwa satu keluarga yang terdiri dari tiga orang dan satu pasangan lanjut usia meninggal karena virus di kota pantai timur Chongjin pada pertengahan Maret.

"Hal yang tidak diinginkan Korea Utara adalah kekacauan sosial yang mungkin meletus ketika Korea Utara menyadari bahwa orang sedang sekarat karena epidemi tanpa obat," katanya.

Sementara itu, pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, jelas menyadari ancaman virus terhadap sistem kesehatan negaranya. Saat Washington mengumumkan pada 13 Februari bahwa mereka akan mengirimkan bantuan kemanusiaan yang berkaitan dengan virus corona, Korea Utara membuat permintaan untuk bantuan darurat dari kelompok-kelompok bantuan, termasuk peralatan diagnostik.

Dalam beberapa minggu terakhir, Rodong Sinmun juga membuat laporan dampak pandemi corona ini di seluruh dunia dengan merinci jumlah korban di seluruh dunia. Termasuk laporan kondisi di Korea Selatan, Mayat-mayat yang menumpuk di Italia, serta laporan Warga yang panik menimbun senjata dan amunisi di Amerika Serikat.

Media resmi pemerintah itu membandingkan berita-berita itu dengan gambar-gambar aksi pejabat pengontrol penyakit Korea Utara yang berpakaian alat pelindung sedang menyemprotkan disinfektan di bus, trem, taman bermain, dan pusat kebugaran hotel di Pyongyang. Demikian juga berita tentang pabrik garmen yang kini beralih membuat masker. Ada juga berita soal munculnya gerakan nasional untuk mengirim telur, daging, dan ikan kepada mereka yang berada di bawah karantina yang disebut mencapai 10 ribu orang.

2 dari 2 halaman

Misteri Kematian 200 Tentara

Bulan lalu, Daily NK, sebuah situs web berbasis di Seoul yang mempekerjakan informan anonim di Korea Utara, melaporkan kematian 200 tentara, serta 23 lainnya, yang dicurigai mengidap virus corona.

Namun Kang Mi-jin, seorang jurnalis Korea Utara yang menjadi pembelot di Seoul, mengatakan sulit untuk mendapatkan konfirmasi resmi, termasuk dari kontaknya di Korea Utara terkait kematian yang dikonfirmasi akibat dari virus corona.

Sementara itu, Jung Gwang-il, seorang pembelot yang memimpin No Chain, kelompok aktivis HAM Korea Utara di Seoul menilai, langkah keras pemerintah justru telah mencegah wabah ini menyebar.

Dia mendapatkan informasi, saat wabah dilaporkan di China, Korea Utara mengumpulkan semua turis asal China di kota Rason di bagian timur laut dan mengkarantina mereka di sebuah pulau selama sebulan.

"Aman untuk mengatakan bahwa ada kasus di Korea Utara, tapi saya tidak berpikir wabah di sana sama besar dengan yang kita lihat di Korea Selatan, Italia dan AS," kata Ahn Kyung-su, kepala Pusat Penelitian Kesehatan dan Kesejahteraan DPRK yang berpusat di Seoul, yang memantau sistem kesehatan Korea Utara.

"Warga Korea Utara dilatih untuk mematuhi perintah pemerintah selama krisis. Tetapi ada risiko virus menjadi tidak terkendali jika mulai menyebar di antara orang-orang yang kekurangan gizi," ujarnya seraya menambahkan jika alat tes dari China tersedia di kota-kota besar seperti Pyongyang.

Hal ini diperkuat dengan publikasi Kim Jong-un saat memeriksa ujicoba rudal bulan ini dan para perwira militer di sekitarnya tidak mengenakan masker, yang menurut Ahn tidak akan terjadi jika mereka tidak diuji negatif.

Pada bulan ini, beberapa bantuan mulai mencapai Korea Utara dalam upayanya untuk menghadapi virus. Rusia menyumbangkan 1.500 alat tes. China juga diyakini telah mengirim alat diagnostik. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mulai melepaskan sanksi bagi kelompok-kelompok bantuan seperti Palang Merah untuk mengirim mesin pengujian dan peralatan diagnostik, serta ventilator dan peralatan pelindung. Tetapi pengirimannya lambat.

"Mengingat kekurangan pasokan global dan barang-barang yang tersedia di lokasi yang berbeda, kami masih dalam proses pengadaan barang-barang," kata Ellie Van Baaren, seorang juru bicara Palang Merah. (mdk/bal)

Baca juga:
Hampir 200 Tentara Korut Dilaporkan Meninggal karena Corona, Ribuan Dikarantina
Sejumlah Kedutaan di Korea Utara Tutup, Diplomat Dievakuasi karena Corona
'Hajatan' Olahraga Dunia yang Dibatalkan karena Virus Corona
Gaya Kim Jong-un Menyaksikan Kompetisi Tembakan Artileri
Ekspresi Kim Jong-un Pantau Peluncuran Rudal ke Laut Jepang

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami