Hot Issue

Menebak Teka Teki Geopolitik Vladimir Putin di Ukraina

Menebak Teka Teki Geopolitik Vladimir Putin di Ukraina
Presiden Rusia Vladimir Putin Pantau Latihan Zapad-2021. ©2021 AFP/Pool
DUNIA | 29 Januari 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pernah mencoba menyelesaikan puzzle atau potongan gambar teka-teki yang separuh bagiannya hilang?

Ini membuat frustrasi. Membingungkan. Anda tidak pernah melihat gambaran lengkapnya.

Selamat datang di dunia politik Kremlin.

Menebak apa yang dipikirkan dan direncanakan Vladimir Putin itu menantang. Begitulah cara yang disukai Kremlin: membuat semua orang menebak-nebak.

Apa rencana Presiden Putin untuk Ukraina? Apakah Moskow sedang mempersiapkan invasi skala penuh? Operasi yang lebih terbatas?

Puzzle geopolitik itu belum lengkap.

Potongan-potongan puzzle yang kita miliki menyebabkan kekhawatiran di Barat:

- Diperkirakan 100.000 tentara Rusia berkumpul di dekat perbatasan Ukraina

- Serangkaian latihan militer yang diluncurkan Moskow di darat dan di laut

- Latihan militer Belarusia-Rusia yang akan datang

- Kremlin mengeluarkan tuntutan yang pasti akan ditolak oleh AS (seperti larangan bergabungnya Ukraina dengan NATO, diakhirinya aktivitas militer NATO di Eropa Timur)

- Pernyataan Presiden Putin bahwa Rusia dan Ukraina adalah "satu orang, satu kesatuan"

- Washington kini telah menjawab secara tertulis tuntutan keamanan Moskow. Kremlin mengatakan akan menganalisis tanggapan Amerika.

Sementara itu, perundingan alot berlanjut.

"Jangan tempatkan infrastruktur NATO di wilayah Ukraina. Kami meminta 'mitra' kami di negara-negara NATO untuk keluar. Keluar dari perbatasan kami. Keluar dari negara-negara pasca-Soviet, karena itu mengancam orang-orang Rusia," jelas Yevgeny Popov, dikutip dari BBC, Jumat (28/1).

Popov adalah pembawa acara talk show di TV pemerintah, juga seorang anggota parlemen dari partai berkuasa, Rusia Bersatu.

"Waktu hampir habis," ujar Popov.

"Anda harus membuat keputusan. Cepat."

"Jika tidak, itu akan menjadi reaksi yang sangat berbahaya bagi seluruh dunia. Beberapa pejabat Barat mengatakan bahwa Rusia tidak punya nyali. Teman-teman, apakah Anda benar-benar ingin melihatnya?"

2 dari 3 halaman

Alasan domestik

Para pejabat Rusia bersikeras NATO merupakan ancaman bagi keamanan nasional Rusia.

Hanya 6 persen perbatasan Rusia yang menyentuh negara-negara NATO; Kremlin memiliki hubungan baik dengan beberapa anggota NATO, seperti Italia dan Hungaria; negara itu bahkan menjual sistem senjata ke anggota NATO, Turki.

Selain itu, tidak ada tanda-tanda Ukraina, Georgia, atau negara-negara bekas Soviet lainnya akan diterima menjadi anggota NATO dalam waktu dekat.

Jadi mengapa Kremlin terpaku pada aliansi NATO?

Sebagian adalah karena alasan domestik: untuk membuat orang-orang Rusia bersatu melawan musuh eksternal.

Tetapi juga, mungkin, sebagai alasan untuk memanfaatkan momen ini untuk membentuk kembali tatanan keamanan Eropa demi keuntungan Moskow; untuk membangun kembali lingkup pengaruh Rusia dan mencoba untuk menulis ulang hasil Perang Dingin.

“Putin percaya Barat mengeksploitasi kelemahan Rusia pada 1990-an, bahwa Rusia tidak diperlakukan secara adil dan tidak mendapatkan apa yang pantas diterimanya. Dia ingin mengubah itu,” kata Andrei Kortunov, direktur jenderal Dewan Urusan Internasional Rusia.

"Argumennya sangat sederhana. Sekarang keseimbangan kekuatan telah bergeser, bukan lagi dunia unipolar yang berpusat pada Barat. Anda harus mendengarkan kami dan menanggapi keprihatinan kami dengan serius."

3 dari 3 halaman

Langkah Moskow selanjutnya

Jadi apa langkah Moskow selanjutnya?

Tanpa semua potongan puzzle, kita hanya bisa menebak. Mungkin tergantung pada apakah tawaran Amerika untuk bernegosiasi dengan Rusia mengenai beberapa aspek keamanan Eropa akan cukup untuk memuaskan Vladimir Putin.

Jika tidak, jika pemimpin Kremlin bertekad untuk membongkar arsitektur keamanan Eropa saat ini, konfrontasi militer mungkin terjadi dan gesekan jangka panjang antara Timur dan Barat.

"Saya berharap Putin akan puas dengan apa yang dia dapatkan sejauh ini," kata Kortunov.

“Menurut saya sampai batas tertentu dia berhasil. Dia menegakkan dialog di Barat. Jadi, dia bisa berargumen bahwa misinya telah tercapai; bahwa menjaga ketegangan di perbatasan Ukraina membantunya memberi insentif kepada Barat untuk mempertimbangkan usulan Rusia," lanjutnya.

"Tapi dia mungkin memiliki interpretasi yang berbeda. Dia mungkin mengatakan Barat sedang mencoba untuk melibatkan Rusia dalam negosiasi tanpa akhir dan sia-sia dan bahwa penetrasi Barat ke Ukraina akan terus berlanjut."

"Namun, di dalam negeri, masyarakat Rusia tidak menginginkan perang besar di depan pintunya. Rusia tidak ingin berpartisipasi dalam operasi militer besar di Ukraina," pungkas Kortunov.

(mdk/pan)

Baca juga:
Mengintip Tank-Tank Rusia Latihan Perang di Dekat Perbatasan Ukraina
VIDEO: AS Kirim 300 Rudal Canggih ke Ukraina, Jaga-Jaga Serangan dari Rusia
Krisis Rusia-Ukraina Berpotensi Ganggu Proses Pemulihan Ekonomi Indonesia
Ukraina: Jumlah Pasukan Rusia Saat Ini Tidak Cukup untuk Invasi Penuh
Wajah Vladimir Putin Jadi Sasaran Tembak Militer Ukraina
Ini Pasokan Amunisi Perang AS untuk Bantu Ukraina Hadapi Rusia
Panduan Mudah Memahami Krisis Ukraina-Rusia dalam Lima Poin Penting

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami