Menelusuri Akar Kebencian Nasionalis Hindu India terhadap Muslim

Menelusuri Akar Kebencian Nasionalis Hindu India terhadap Muslim
Narendra Modi. ©Reuters
DUNIA | 7 Juni 2022 14:33 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Narendra Modi bangkit dari kursinya dan berjalan menuju podium untuk menyampaikan pidato malam itu. Pidato itu diharapkan berisi pesan tentang kehidupan umat beragama di tengah meningkatnya ketegangan antar warga minoritas muslim dan mayoritas Hindu.

Sang perdana menteri berpidato di gedung Red Fort, New Delhi, bangunan dari era Mughal dan acara malam itu adalah peringatan ke-400 tahun kelahiran Guru Tegh Bahadur, tokoh guru Sikh yang dikenang sebagai sosok yang menjunjung tinggi kebebasan beragama bagi semua umat.

Waktu dan tempatnya sangat tepat untuk membahas soal itu.

Tapi, Modi justru memanfaatkan acara pada April itu untuk mengingatkan orang kepada sosok penguasa muslim yang sudah wafat 300 tahun lalu.

"Aurangzeb membantai banyak orang, tapi dia tidak bisa mengguncang iman kita," kata Modi dalam pidatonya, seperti dilansir laman the Associated Press, akhir pekan lalu.

Isi pidato Modi tentang penguasa Mughal di abad ke-17 itu bukan kebetulan belaka.

Sejarah kompleks Aurangzeb Alamgir masih bersemayam di hati orang India. Para pemimpin India yang berkuasa saat ini membangkitkan ingatan itu dengan menyodorkan kekejaman sang penguasa muslim tersebut dan membuat kaum nasionalis meyakini India harus diselamatkan dari para penjajah muslim.

Ketegangan antara Hindu dan muslim kian meruncing, kebencian terhadap Aurangzeb makin meluas dan politisi garis kanan terus memanas-manasi situasi.

Yang terbaru adalah pernyataan politisi dari Bharatiya Janata Party (BJP) yang menghina Nabi Muhammad dan sontak menuai kecaman keras dari sejumlah negara Arab dan muslim, termasuk Arab Saudi.

"Bagi nasionalis Hindu saat ini, Aurangzeb adalah peringatan untuk membenci semua muslim India," kata Audrey Truschke, sejarawan dan penulis buku "Aurangzeb: The Man and the Myth."

Kebencian terhadap penguasa muslim menjadi ciri dari kaum nasionalis Hindu India yang berpuluh tahun berupaya mendirikan negara sekuler India menjadi negara Hindu.

Mereka beralasan penguasa muslim seperti Aurangzeb menghancurkan budaya Hindu, memaksa orang pindah agama, menodai kuil dan menerapkan pajak yang memberatkan warga non-muslim, meski sejumlah sejarawan menyebut kisah itu terlalu dilebih-lebihkan.

2 dari 2 halaman
menelusuri akar kebencian nasionalis hindu india terhadap muslim

Anggapan populer di kalangan nasionalis soal akar ketegangan Hindu-muslim bermula dari masa abad pertengahan ketika tujuh generasi dinasti muslim menjadikan India sebagai rumah mereka sampai akhirnya mereka tersingkir.

Keyakinan ini membuat mereka ingin membalas masa lalu orang Hindu India yang menderita selama berabad-abad lalu. Aurangzeb menjadi sosok utama kambing hitam dalam sentimen ini.

Aurangzeb adalah raja Mughal terakhir yang meraih takhtanya pada pertengahan abad ke-17 setelah memenjarakan ayahnya dan membunuh kakaknya. Tidak seperti raja Mughal lainnya yang berkuasa di Asia Selatan selama lebih dari 300 tahun dan relatif tidak tergantikan, Aurangzeb menjadi sosok yang paling dibenci dalam sejarah India.

Richard Eaton, profesor di Universitas Arizona yang dipandang sebagai ahli India pra-modern, mengatakan meski Aurangzeb menghancurkan kuil, catatan yang tersedia menyebut dia hanya menghancurkan tidak lebih dari belasan kuil, bukan ribuan seperti yang diyakini selama ini. Dia melakukan itu untuk alasan politik, bukan agama, ujar Eaton. Aurangzeb juga menjadi sosok raja muslim yang menjamin keamanan dan keselamatan semua umat beragama.

"Bisa dibilang, dia adalah sosok di zamannya, bukan di zaman kita," ujar Eaton.

Namun bagi barisan pembenci, Aurangzeb adalah penjahat dan tak lebih dari sosok bigot agama.

Sejarawah garis kanan Makkhan Lal, yang bukunya tentang sejarah India sudah dibaca juta siswa sekolah mengatakan mengabaikan motif politik Aurangzeb adalah bentuk pengkhianatan terhadap kejayaan India di masa lalu.

Banyak sejarawan pendukung partai Bharatiya Janata (BJP), partainya Modi, mendukung pandangan itu. Mereka mengatakan sejarah India secara sistematis diubah oleh kelompok kiri untuk mencabut akar orang India yang kebanyakan Hindu dari peradaban mereka di masa lalu.

"Aurangzeb menghancurkan kuil dan itu memperlihatkan betapa dia benci Hindu dan Hinduisme," kata Lal.

Berpuluh tahun, kaum nasionalis HIndu mengklaim sejumlah masjid besar dan terkenal dibangun di atas puing-puing kuil Hindu. Banyak kasus ini masih diproses di pengadilan.

Sejumlah kalangan mengatakan kondisi ini bisa menimbulkan pertarungan panjang di pengadilan seperti yang terjadi dengan Masjid Babri yang dirusak massa Hindu dengan sekop, linggis dan tangan kosong pada 1992. Penghancuran itu memicu kekerasan di seantero India hingga menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar muslim. Pada 2019 Mahkamah Agung India akhirnya menyerahkan masjid itu kepada Hindu.

"Nasionalis Hindu tidak berpikir tentang sejarah yang sebenarnya dari Aurangzeb," kata Truschke. "Mereka lebih suka menciptakan musuh yang ingin mereka benci."

(mdk/pan)

Baca juga:
Imam Masjidil Haram Kecam Politisi India yang Menghina Nabi Muhammad
India Pecat Dua Pejabat Partai Berkuasa yang Hina Nabi Muhammad
Saudi Kecam Pernyataan Pejabat India yang Hina Nabi Muhammad
Tak Kunjung Diberi Cucu, Orang Tua di India Gugat Anak dan Menantu
Singapura Larang Film India "The Kashmir Files" karena Dapat Picu Permusuhan
"Ini Idulfitri Paling Menyedihkan Bagi Muslim India"
Betapa Mudahnya Ujaran Kebencian Merajalela di India

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini