Sejarah Dunia

Menelusuri Sejarah Anti-Semit di Amerika

DUNIA | 13 Desember 2019 07:22 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pada Rabu (11/12), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerbitkan perintah eksekutif untuk melawan anti-Semitisme di kampus-kampus di seluruh AS. Perintah itu diterbitkan bertepatan dengan perayaan Hanukkah di Gedung Putih. Anti-Semit adalah kebencian dan diskriminasi terhadap orang Yahudi, baik sebagai penganut agama Yahudi maupun kelompok etnis.

Menurut pemerintahan Trump, perintah tersebut untuk melawan bangkitnya gerakan anti-Semit di AS.

"Racun anti-Semitisme yang keji dan penuh kebencian harus dikecam dan dilawan di mana pun dan di mana pun itu muncul," kata Trump dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Aljazeera, Kamis (12/12).

Sehari sebelumnya, terjadi penembakan di sebuah supermarket yang dikelola orang Yahudi di Kota Jersey, New Jersey, AS. Penembakan tersebut menewaskan enam orang, termasuk dua pelaku dan satu anggota polisi.

Dua pelaku penembakan diidentifikasi atas nama David N. Anderson (47) dan Francine Graham (50), dikaitkan dengan gerakan Black Hebrew Israelite, dan diketahui menerbitkan unggahan anti-Semit secara online, kata pejabat penegak hukum pada Rabu kemarin.

1 dari 3 halaman

Akar Sejarah Anti-Semit

Dilansir dari laman The Conversation, anti-Semit disebut memiliki akar sejarah cukup panjang di AS. Para politikus disebut sering melontarkan ucapan bernada anti-Semit.

Warga Yahudi di AS kerap dituding licik dan loyalitasnya dipertanyakan. Gerakan anti-Semit disebut berakar pada anti-Yudaisme kuno dan abad pertengahan.

Ada berbagai jenis anti-Semitisme. Anti-Semitisme agama adalah tuduhan terhadap orang-orang Yahudi yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus. Karenanya, keturunan mereka harus dan selamanya membayar pengkhianatan tersebut. Ini berasal dari pemisahan agama Kristen dengan Yahudi di abad pertama.

Lima belas abad kemudian, pada 1654, Gubernur Amsterdam Baru, Peter Stuyvesant berusaha mengusir 23 orang Yahudi yang melarikan diri dari penganiayaan di wilayah jajahan. Stuyvesant menyebut mereka "ras penipu musuh yang begitu membenci dan menghujat Yesus."

Selanjutnya, buku sekolah Minggu Amerika, traktat misi Alkitab dan novel populer menuliskan keterlibatan orang Yahudi dalam pembunuhan Yesus dan berusaha untuk membuat mereka bertobat. Sabbath Lessons (1813) mengajar anak-anak sekolah Minggu tentang "konspirasi penguasa Yahudi melawan Yesus Kristus."

Dalam novel The Prince of House of David (1855), bagian dari trilogi yang dilaporkan terjual lebih dari 5 juta kopi, penulisnya, seorang imam Episkopal, meminta "para putri Israel" untuk meninggalkan Yudaisme dan mengikuti Kristus.

Film Mel Gibson pada 2004 The Passion of the Christ membawa anti-Semitisme agama ke abad ke-21. Gerombolan pria Yahudi digambarkan dengan janggut dan hidung besar, kepala mereka ditutupi surban muncul di layar lebar sambil berteriak Salibkan Dia kepada Yesus yang berdarah yang berdiri di hadapan Gubernur Romawi Pontius Pilatus.

2 dari 3 halaman

Uang dan Kekuasaan

Anti-Semitisme yang menjadi berita utama hari ini tidak selalu berkaitan dengan tuduhan orang-orang Yahudi membunuh Yesus. Orang Yahudi saat ini digambarkan sebagai orang yang hanya tertarik pada uang, dengan kejam menggunakan kekayaan mereka untuk merusak tatanan politik.

Belakangan pada abad ke-19, di dalam majalah bulanan Atlantic edisi Januari 1897 seorang profesor dan duta besar Harvard James Russell Lowell mengenang bagaimana Lowell putra seorang menteri yang paham bahasa Ibrani mengecam para bankir, pialang, dan orang-orang Yahudi yang telah terjun ke dunia politik dan diplomasi. Lowell takut mereka akan mengendalikan dunia.

Pada tahun 1890, Pendeta Charles F Deems menulis tentang sebuah segmen orang Yahudi yang satu-satunya hasrat mereka adalah "keserakahan". Dalam novel-novel, orang Yahudi digambarkan cinta akan uang, yang "mengendalikan kekuatan uang dunia."

Pernyataan Lowell tentang konspirasi Yahudi internasional mendahului pemalsuan yang dikenal sebagai "Protokol Para Tetua Sion." Ini pertama kali muncul di Rusia pada tahun 1905 dalam sebuah buku tentang kedatangan Antikristus yang diterbitkan oleh mistikus Sergei Nilus. Fantasi anti-Semitnya tentang para pemimpin Yahudi yang merencanakan penghancuran agama Kristen dan mengendalikan dunia terinspirasi dari Mein Kampf karya Adolf Hitler.

Mitos tentang konspirasi Yahudi dunia mendapatkan tempat di Amerika pada tahun 1920-an berkat publikasi The International Jew - The World's Foremost Problem. Tulisan seri di koran Dearborn Independent ini kemudian diterbitkan sebagai buku multi-volume.

Orang Yahudi disebut mengendalikan keuangan dunia, serta "menjadi kekuatan di belakang berbagai kekuasaan".

Peredaran koran Dearborn Independent melesat menjadi 700.000 eksemplar pada 1924-1925 ketika penerbitnya mengirim ribuan salinan ke seluruh negeri, kepada presiden bank, klub perempuan, rektor perguruan tinggi, dan anggota Kongres. Penerbitnya adalah taipan Henry Ford.

3 dari 3 halaman

Tuduhan Loyalitas dan Kewarganegaraan Ganda

Ketika Donald Trump mengatakan orang-orang Yahudi Amerika yang menentang kebijakannya tidak loyal kepada orang-orang Yahudi dan Israel, ia mengatakan orang-orang Yahudi memiliki loyalitas ganda.

Pada 2015, pembawa acara NPR Diane Rehm bertanya kepada Senator Bernie Sanders apakah "kewarganegaraan ganda" dia, AS dan Israel dapat mendiskualifikasi pencalonannya sebagai Presiden AS. Padahal, Sanders bukan warga negara Israel.

Tuduhan loyalitas ganda membayangi orang-orang Yahudi sepanjang waktu dan di seluruh dunia. Napoleon dengan blak-blakan mengajukan pertanyaan kepada majelis tokoh-tokoh Yahudi pada tahun 1806: "Apakah orang Yahudi yang lahir di Prancis, dan diperlakukan oleh hukum sebagai warga negara Prancis, menganggap Prancis sebagai negara mereka? Apakah mereka terikat untuk mempertahankannya? Apakah mereka terikat untuk mematuhi hukum(nya)? "

Pada tahun 1890, saat anti-Semitisme meluas, orang Yahudi dikecualikan dari resor musim panas, dicoret dari anggota klub pribadi, dan ditolak masuk ke sekolah-sekolah swasta. Para editor surat kabar Yahudi di New York, American Hebrew, mewawancarai lebih dari 50 pendeta, rektor, pengacara, dan politikus tentang "Prasangka Terhadap Orang Yahudi." Mereka kemudian menerbitkan tanggapan.

Setelah negara Israel didirikan pada tahun 1948, Perdana Menteri David Ben-Gurion menyatakan: "Orang-orang Yahudi Amerika Serikat, sebagai sebuah komunitas dan sebagai individu, hanya memiliki satu ikatan politik dan itu adalah Amerika Serikat. Mereka tidak memiliki ikatan politik dengan Israel."

Dalam menekan orang-orang Yahudi yang memilih Partai Demokrat seperti mayoritas orang Yahudi Amerika dengan ketidaksetiaan kepada rakyat dan Israel, Presiden Trump mengubah prinsip itu.

Sekali lagi tuduhan lama disuarakan. Orang Yahudi tidak pernah bisa sepenuhnya menjadi orang Amerika. Loyalitas mereka kepada orang-orang Yahudi dan Israel mengalahkan kesetiaan mereka kepada Amerika.

Dengan anti-Semitisme hari ini yang menyerang orang-orang Yahudi Amerika dari kanan dan kiri, momentumnya tampak baru, tetapi itu bahasa lama, yang telah berlangsung sejak lama. (mdk/pan)

Baca juga:
Pelaku Penembakan di New Jersey Pendukung Anti-Semit & Sengaja Targetkan Toko Yahudi
Donald Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Akui Yahudi sebagai Etnis Minoritas
Ratusan Makam Yahudi di Prancis Dicoreti Simbol Nazi
Cerita Perempuan Muslim Bela Keluarga Yahudi yang Dihina di Kereta London
Festival Sukkot, Umat Yahudi Berburu Ranting untuk Bikin Gubuk
Protes Permukiman Yahudi, Warga Palestina Bentrok dengan Polisi Israel

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.