Mengaku Bersalah, Takahiro Shiraishi Si 'Pembunuh di Twitter' Terancam Hukum Gantung

Mengaku Bersalah, Takahiro Shiraishi Si 'Pembunuh di Twitter' Terancam Hukum Gantung
DUNIA | 1 Oktober 2020 17:07 Reporter : Iqbal Fadil

Merdeka.com - Seorang pemuda Jepang, Takahiro Shiraishi, mengaku bersalah telah membunuh sembilan orang setelah menghubungi mereka melalui media sosial Twitter. Shiraishi yang dijuluki 'Pembunuh di Twitter' ditangkap pada 2017 lalu setelah polisi menemukan potongan tubuh di flatnya.

Dia mengatakan kepada pengadilan di Tokyo pada hari Rabu bahwa dakwaan terhadap dia semuanya benar. Demikian seperti dilansir BBC, Kamis (1/10).

Namun pengacaranya berpendapat bahwa dakwaannya harus dikurangi karena para korbannya tampaknya memberikan persetujuan untuk dibunuh. Jika terbukti melakukan pembunuhan, Shiraishi menghadapi hukuman mati, yang dilakukan dengan cara digantung di Jepang.

Kasus pembunuhan ini menarik perhatian publik Jepang dengan lebih dari 600 orang mengantre 13 kursi pengunjung untuk menonton sidang pertama pada hari Rabu lalu seperti dilaporkan NHK.

Jaksa penuntut mengatakan terdakwa membuka akun Twitter pada Maret 2017 "untuk menghubungi wanita yang berniat bunuh diri, yang dia anggap sebagai sasaran empuk".

Delapan korbannya adalah wanita, salah satunya berusia 15 tahun. Satu-satunya korban laki-laki, berusia 20 tahun, terbunuh setelah menanyakan Shiraishi tentang keberadaan pacarnya.

Pria berusia 29 tahun itu diyakini telah memikat para korbannya dengan mengatakan kepada mereka bahwa dia dapat membantu mereka mati dan dalam beberapa kasus mengklaim dia akan bunuh diri bersama mereka.

Profil Twitter-nya berisi kata-kata: "Saya ingin membantu orang yang benar-benar kesakitan. Tolong DM [pesan langsung] saya kapan saja."

Dari penyelidikan polisi, sembilan mayat yang terpotong-potong ditemukan di flatnya. Pembunuhan berantai pertama kali terungkap saat polisi menyelidiki hilangnya seorang wanita muda, yang kemudian menjadi salah satu korban.

Petugas mengunjungi flat Shiraishi di kota Zama Jepang, tidak jauh dari Tokyo, di mana mereka menemukan bagian tubuh yang terpotong-potong.

Pengacara Shiraishi menyatakan, dalam kasus ini para korban Shiraishi telah setuju untuk dibunuh, jadi tuduhan itu harus dikurangi menjadi "pembunuhan dengan persetujuan". Pengacara berupaya meringankan hukuman Shiraishi antara enam bulan dan tujuh tahun.

Namun, upaya pembelaan itu mendapat penolakan dari Shiraishi yang menyatakan tidak setuju dengan pengacaranya. Dia memberi tahu Mainichi Shimbun, sebuah harian lokal, bahwa dia melakukan pembunuhan tanpa persetujuan dari para korbannya.

"Ada luka memar di bagian belakang kepala korban. Artinya tidak ada persetujuan dan saya lakukan agar mereka tidak melawan," katanya dalam komentar yang dipublikasikan Rabu.

Baca Selanjutnya: Mengejutkan Publik Jepang...

Halaman

(mdk/bal)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami