Menyusup lewat pengungsi, ISIS siap serang Eropa

Menyusup lewat pengungsi, ISIS siap serang Eropa
DUNIA | 16 September 2015 09:08 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Negara-negara di Benua Eropa kini tengah dipusingkan oleh kedatangan gelombang ratusan ribu pengungsi dari Timur Tengah.

Jerman mengaku sudah kewalahan menampung para pengungsi, begitu pula dengan Austria, Hungaria. Negara yang disebut terakhir bahkan sudah menyiapkan undang-undang yang menyatakan para pengungsi itu melanggar hukum dan harus dikenai sanksi.

Para pengungsi itu terpaksa berusaha mencapai Eropa karena di kampung halaman mereka keadaan sudah tidak aman. Konflik yang berkepanjangan membuat mereka tidak tahan melanjutkan hidup di tanah air.

Banyaknya pengungsi dari Timur Tengah itu kini menimbulkan kekhawatiran baru bagi negara-negara Eropa. Pasalnya konflik di Timur Tengah, terutama di Suriah, dipicu salah satunya oleh kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). ISIS saat ini bercokol kuat di beberapa wilayah Irak dan Suriah.

Selama ini ISIS diketahui terus melancarkan propaganda dan merekrut anggota baru untuk memperkuat pasukan mereka. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak kaum simpatisan ISIS yang tergoda untuk bergabung dengan kelompok sadis itu.

Dalam aksinya ISIS selalu menggaungkan propaganda membenci negara Barat seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Kedatangan gelombang pengungsi yang kebanyakan dari Suriah ini dikhawatirkan dimanfaatkan ISIS untuk menyusupkan anggota militan mereka ke Eropa.

Tak ayal, Perdana Menteri inggris David Cameron melontarkan tudingan bahwa sebagian pengungsi Suriah yang mencari suaka ke Eropa merupakan militan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Cameron mengatakan hal tersebut kemarin ketika bertemu dengan Menteri Pendidikan Libanon Elias Bousaab.

"Dua dari 100 pengungsi Suriah merupakan militan ISIS," katanya tanpa merinci sumber informasi itu.

Hal ini dibenarkan oleh Elias, yang mengatakan mereka merupakan jihadis yang masih dalam masa pelatihan.

"Kelompok ekstremis ini mengirimkan jihadis dalam masa pelatihan untuk menyerang target di wilayah Barat," kata Elias, seperti dilansir dari surat kabar the Daily Mail, Selasa (15/9).

Senada dengan Cameron dan Elias, Paus Fransiskus dalam wawancara (mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami