Militer Myanmar Jamin Pemilu Baru, Demonstran Tutup Layanan Kereta Api

Militer Myanmar Jamin Pemilu Baru, Demonstran Tutup Layanan Kereta Api
Kendaraan Militer Myanmar Ditempel Poster Kecaman Kudeta. ©2021 AFP/Sai Aung Main
DUNIA | 17 Februari 2021 13:13 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pada Selasa (16/2), militer Myanmar menjamin akan menggelar pemilu dan menyerahkan kekuasaan ke pemenang, membantah penggulingan kekuasaan sebagai kudeta, serta menyebut para pengunjuk rasa menghasut kekerasan dan mengintimidasi PNS.

Pembelaan diri militer ini dilontarkan saat para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan-jalan dan setelah utusan PBB memperingatkan tentara akan konsekuensi berat jika menghadapi pengunjuk rasa dengan kekerasan.

"Tujuan kami adalah menyelenggarakan pemilu dan menyerahkan kekuasaan kepada partai pemenang," jelas juru bicara dewan pemerintah, Brigjen Zaw Min Tun, dalam konferensi pertama militer sejak kudeta 1 Februari.

Militer tak menyebutkan tanggal pasti penyelenggaraan pemilu baru, tapi memberlakukan darurat nasional selama setahun. Zaw Min Tun mengatakan militer berkuasa tak akan lama.

"Kami jamin bahwa pemilu akan diselenggarakan," ujarnya dalam konferensi pers yang disiarkan secara langsung di Facebook, dilansir Channel News Asia, Rabu (17/2).

Ditanya soal penahanan Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint, dia mengatakan militer akan mematuhi konstitusi.

Blokir layanan kereta api

Meskipun kendaraan lapis baja dan tentara dikerahkan di beberapa kota besar pada akhir pekan, pengunjuk rasa tetap melanjutkan aksinya menentang kekuasaan militer dan menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi.

Selain demonstrasi di kota-kota besar di seluruh negeri, gerakan pembangkangan sipil memicu mogok kerja yang melumpuhkan banyak fungsi pemerintahan.

Para pengunjuk rasa memblokir layanan kereta api antara Yangon dan kota Mawlamyine,
berseliweran di jalur rel kereta api dan melambaikan plakat untuk mendukung gerakan pembangkangan sipil, seperti yang ditunjukkan dalam siaran langsung sejumlah media.

"Bebaskan segera pemimpin kami" dan "Kekuatan rakyat, kembalikan", teriak massa.

Massa juga berkumpul di dua tempat di Yangon, di dekat kampus yang menjadi lokasi utama aksi dan di Bank Sentral, di mana para pengunjuk rasa berharap para pegawai bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil.

Sekitar 30 biksu Buddha juga berunjuk rasa menentang kudeta dengan menggelar doa bersama.

Baca Selanjutnya: Pada aksi unjuk rasa pekaj...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami