Misteri Jatuhnya Pesawat Militer AS & Sosok Agen CIA Otak Pembunuhan Qassim Sulaimani

Misteri Jatuhnya Pesawat Militer AS & Sosok Agen CIA Otak Pembunuhan Qassim Sulaimani
DUNIA | 30 Januari 2020 07:07 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Dua hari lalu sebuah pesawat militer Amerika Serikat jatuh di wilayah yang dikuasai kelompok militan Taliban di Afghanistan. Sejumlah laporan awal menyebut pesawat yang jatuh itu adalah pesawat komersil maskapai milik pemerintah Afghanistan Ariana Airlines tapi CEO maskapai Mirwais Mirzakwal membantah salah satu pesawat mereka jatuh.

"Ada pesawat jatuh tapi itu bukan milik Ariana karena dua penerbangan Ariana hari ini dari Herat ke Kabul dan herat ke Delhi selamat," kata Mirzakwal kepada kantor berita Reuters, seperti dilansir laman CNBC, Selasa (28/1).

Kepala Angkatan Udara AS Jenderal Dave Goldfein membenarkan, pesawat yang jatuh itu adalah pesawat militer milik Angkatan Udara AS E-11 yang dibuat oleh produsen Bombardier. Namun Goldfein tidak bisa memastikan apakah pesawat itu jatuh karena ditembak atau bukan.

"Kami juga tidak tahu status para kru pesawat," kata Goldfein.

"Tidak ada tanda-tanda pesawat itu jatuh akibat tembakan musuh," ujar juru bicara militer AS Kolonel Sonny Leggett di akun Twitternya, seperti dilansir laman Haaretz, Selasa (28/1). "Klaim Taliban bahwa ada pesawat lain juga jatuh keliru."

1 dari 3 halaman

Pesawat pemantau elektronik E-11A biasa digunakan untuk menghubungkan komunikasi di medan pertempuran. Dikarenakan wilayah Afghanistan yang bergunung-gunung dan terjal, E-11A sangat penting untuk mengirimkan komunikasi antar unit di lapangan, komandan dan aset AS lainnya di Afghanistan.

Sejumlah foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan lokasi jatuhnya pesawat dan puing pesawat yang diduga Bombardier E-11A. Pesawat itu biasa digunakan AS untuk menggelar operasi pemantauan elektronik di Afghanistan.

Pejabat militer AS yang enggan diketahui identitasnya mengatakan sejauh ini tidak ada tanda-tanda pesawat itu ditembak jatuh oleh musuh. Salah satu pejabat AS mengatakan penumpang pesawat itu kurang dari 10 orang.

"Pesawat yang sedang dalam misi intelijen itu jatuh di wilayah Sado Khel Distrik Deh Yak, provinsi Gahzni," kata Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban dalam sebuah pernyataan.

2 dari 3 halaman

Mujahid tidak menyebut bagaimana anggota militan Taliban menjatuhkan pesawat itu. Dia mengatakan salah satu kru pesawat adalah seorang pejabat tinggi AS. Namun pernyataan ini dibantah seorang pejabat pertahanan AS.

Taliban selama ini menguasai sebagian besar wilayah Provinsi Ghazni. Kelompok ini juga sebelumnya pernah menjatuhkan helikopter musuh tapi untuk menjatuhkan pesawat militer yang mengudara tinggi kemampuan Taliban masih diragukan.

Sementara itu sumber intelijen Rusia mengklaim Michael D'Andrea, kepala operasional CIA yang mengotaki pembunuhan Panglima Garda Revolusi Iran Qassim Sulaimani ikut tewas dalam jatuhnya pesawat itu. AS sejauh ini belum memastikan klaim tersebut.

D'Andrea yang punya sejumlah nama alias termasuk Ayatullah Mike, the Dark Prince, dan the Undertaker. Dia adalah sosok agen CIA yang cukup terkenal di Timur Tengah. D'Andrea yang sudah masuk Islam itu mengepalai Pusat Misi Iran pada 2017. Di bawah kepemimpinannya, CIA bertugas mengambil tindakan lebih keras terhadap Iran.

3 dari 3 halaman

Laman Middle East Monitor melaporkan, Selasa (28/1), beredar spekulasi Pasukan Garda Revolusi juga punya kaitan dengan peristiwa jatuhnya pesawat militer AS itu. Garda Revolusi disebut-sebut mendukung kelompok Taliban dan memberi dukungan persenjataan anti-serangan udara. Brigade Fatimyoun Afghan dilatih oleh Garda Revolusi.

Seorang jurnalis Iran yang tinggal di pengasingan dan menulis untuk harian Javan menyiratkan Garda Revolusi terlibat dalam jatuhnya pesawat itu.

"Pesawat Amerika jatuh di Afghanistan oleh Taliban. Mereka bilang pejabat intelijen ada di dalam pesawat itu. Laporan ini belum terkonfirmasi. tapi jika benar maka ada kemungkinan isu iran juga muncul dalam kasus ini," kata dia di Twitternya.

Pengganti Sulaimani sebagai Panglima Garda yang baru, Ismail Qaani, sebelumnya punya catatan menjalin erat hubungan dengan Afghanistan di era 1980-an. (mdk/pan)

Baca juga:
Kondisi Pesawat Militer AS Usai Jatuh di Wilayah Taliban
Pesawat Militer AS Jatuh di Afghanistan, Diduga Ditembak Taliban
Taliban Culik Puluhan Aktivis Perdamaian Afghanistan
Serangan Taliban Lebih Mematikan dari ISIS Selama 2018
Taliban Bebaskan Dua Tawanan Asing Setelah Afghanistan Bebaskan Tiga Pimpinannya
Afghanistan Bebaskan Dua Komandan Taliban, Ditukar Dua Tawanan
Dapat Ancaman Taliban, Afghanistan Tetap Gelar Pemungutan Suara Pemilu

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami