Misteri Kasus-kasus Peracunan yang Diduga Melibatkan Rusia

DUNIA | 30 Juli 2019 07:33 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny Minggu pagi dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gejala seperti diracun. Salah satu dokter yang menangani pria 43 tahun itu, Anastasia Vasilieva, menulis di laman Facebook Minggu malam, dia dan rekannya sudah memeriksa Navalny di rumah sakit meski awalnya mereka dilarang.

Navalny dibawa ke rumah sakit dari penjara tempat dia menjalani penahanan selama 30 hari setelah pekan lalu ditangkap karena menyerukan para pendukungnya menggelar aksi demonstrasi anti-pemerintah.

Laman the Guardian melaporkan, Senin (29/7), menurut Vasilieva, Navalny mengalami gejala keracunan seperti wajah bengkak, bintik-bintik, dan ruam.

Vasilieva juga adalah dokter yang merawat Navalny ketika dia disiram cairan berwarna hijau oleh aktivis pro-Kremlin pada 2017 yang membuat matanya kemudian buta sebelah untuk sementara. Menurut Vasilieva, jelas terlihat Navalny tidak mengalami alergi tapi dia 'terkena dampak bahan kimia berbahaya yang tidak diketahui jenisnya."

"Kita tidak bisa mengabaikan ada kerusakan kulit akibat bahan kimia yang disebabkan 'pihak ketiga'," tulis Vasilieva. Dia juga menyerukan pihak rumah sakit memberikan perawatan medis yang memadai bagi Navalny.

Pada Minggu malam, seorang dokter rumah sakit, Eldar Kazakhmedov, mengatakan kepada kantor berita Interfax, dia meyakini Navalny mengalami reaksi alergi, meski dia tidak mengatakan alergi apa.

"Pada saat ini kondisi Navalny membaik, dan indikator-indikator organ pentingnya dalam keadaan stabil. Dia sudah jauh lebih baik ketika baru masuk rumah sakit," kata Kazakhmedov.

Kasus dugaan peracunan semacam yang dialami Navalny sudah beberapa kali terjadi di masa lalu dan pemerintah Rusia diduga terlibat meski mereka selalu membantah.

Berikut sejumlah kisah warga Rusia, termasuk bekas mata-mata yang diracun diduga oleh agen intelijen Negeri Beruang Merah:

1 dari 3 halaman

Alexander Litvinenko

Kematian Litvinenko menjadi sorotan dunia internasional setelah pembelot Rusia ini diracun pada 2006. Peristiwa ini memicu ketegangan hubungan antara Rusia dan Inggris. Racun radiokatif polinium dimasukkan ke dalam secangkir teh yang diminum Litvinenko hingga dia tewas tiga pekan kemudian. Rusia selalu membantah punya peran dalam kematian mantan mata-matanya itu.

Pria 44 tahun itu melarikan diri ke Inggris setelah dia kerap mengkritik Presiden Valdimir Putin. Setelah dia tewas, baru terungkap dia dibayar oleh intelijen Inggris MI6.

2 dari 3 halaman

Igor Ponomarev

Diplomat Rusia ini tewas di London dua hari sebelum Litvinenko dibunuh dengan racun. Dia tewas di malam ketika akan bertemu dengan Mario Scaramella, rekan Litvinenko yang sedang menyelidiki dugaan korupsi intelijen Rusia di Italia.

Ponomarev mengaku dia sangat kehausan dan menghabiskan tiga liter air sebelum jatuh setelah pulang dari menonton opera. Kematiannya diduga kuat akibat diracun. Jasadnya dilaporkan sudah keburu dibawa ke Rusia sebelum dilakukan postmortem. Sumber intelijen mengatakan kepada BuzzFeed, badan intelijen AS mempunyai informasi yang menyatakan dia dibunuh.

3 dari 3 halaman

Sergei Skripal

Skripal (66) ditemukan tak sadarkan diri bersama dengan wanita tak dikenal berusia 33 tahun di sebuah bangku di pusat perbelanjaan kota Salisbury, Inggris, Minggu (4/3/2019).

Keduanya kemudian menjalai perawatan intensif di sebuah rumah sakit Inggris.

Menurut laporan Media Inggris, wanita itu adalah anak perempuan Skripal. Polisi mengatakan keduanya tak sadar setelah terpapar zat yang tidak diketahui.

"Ini adalah kasus yang sangat tidak biasa dan yang terpenting adalah mengetahui penyebab dasar penyakit ini secepat mungkin," kata pejabat kontra-terorisme Inggris, Mark Rowley kepada Radio BBC, seperti dilansir laman Haaretz, Selasa (6/3/2018).

Siapa sesungguhnya Skripal?

Dia pernah ditangkap oleh Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada 2004 karena dicurigai mengkhianati puluhan agen Rusia untuk intelijen Inggris. Dia dijatuhi hukuman 13 tahun penjara pada 2006 setelah menjalani persidangan rahasia.

Menurut Media Rusia, dia mengaku membohongi agen Rusia demi M16, dengan imbalan uang. Beberapa uang tersebut dikirim ke rekening Bank Spanyol.

Lalu pada 2010, kesalahan Skripal dimaafkan Presiden Dmitry Medvedev saat itu, sebagai bagian dari pertukaran 10 Agen Rusia yang ditahan di Amerika Serikat untuk kembali ke Moskow.

Pertukaran mata-mata ini menjadi salah satu yang terbesar sejak Perang Dingin pada 1991. Pertukaran ini dilakukan di Landasan Bandara Wina. Di sana terparkir jet milik Rusia dan AS sebelum agen mata-mata itu ditukar.

Salah satu mata-mata Rusia yang ditukar dengan Skripal adalah Anna Chapman. Dia adalah satu dari 10 orang yang mencoba berbaur dengan masyarakat AS. Tujuannya untuk mendekati para perantara kekuasaan dan mempelajari berbagai rahasia. Keduanya ditangkap oleh FBI pada 2010.

Mata-mata yang kembali ke Moskow langsung disambut sebagai pahlawan. Termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyanyikan lagu patriotik bersama mereka.

Namun tidak seperti yang lain, Skripal dianggap pengkhianat oleh Moskow. Dia diduga merusak jaringan mata-mata Rusia di Inggris dan Eropa.

Agen Mata-mata GRU yang didirikan sejak 1918 dipimpin oleh pemimpin revolusioner Leon Trotsky, dikelola oleh para jenderal militer dan memberi laporan ke presiden. GRU sudah memiliki mata-mata yang tersebar di seluruh dunia.

Sejak mendapat perlindungan di Inggris, diam-diam Skripal tinggal di Salisbury. Kehidupannya tidak terjamah sampai akhirnya dia ditemukan tidak sadarkan diri pada hari Minggu. (mdk/pan)

Baca juga:
Dokter Sebut Tokoh Oposisi Rusia Kemungkinan Diracun
Gaya Putin Menaiki Kapal Selam di Laut Baltik
Ketika Empat Jet Tempur dari Empat Negara Berhadapan di Atas Pulau Sengketa
Korea Utara Tangkap Belasan Kru Kapal Rusia
FaceApp Raih USD 1 Juta dalam 10 Hari, Politisi AS Ketar-ketir
Mantan Raja Malaysia Dikabarkan Bercerai dengan Ratu Kecantikan Rusia