Mungkinkah Donald Trump cuma presiden boneka?

DUNIA | 4 Mei 2017 07:16 Reporter : Yulistyo Pratomo

Merdeka.com - Pejabat di Washington, khususnya elemen dari Partai Republik, mengungkap cerita di balik pemerintahan Presiden Donald Trump. Dia mempertanyakan siapa sebenarnya yang memerintah Amerika Serikat, di balik kepemimpinan presiden ke-45 AS tersebut.

Kebingungan itu sempat diungkap oleh Senator John McCain kepada wartawan CNN Jake Tapper, beberapa hari lalu. Seperti dikutip dari laman theatlantic.com, Rabu (10/5).

"Terkadang sangat penting melihat apa yang presiden lakukan dibanding apa yang dia katakan," kata Senator yang mewakili wilayah Arizona itu. "Trump mengelilingi dirinya dengan tim keamanan nasional ulung. Saya tidak bisa menjamin kepada pemimpin dunia bahwa dia akan selalu mendengar mereka, tetapi dia sudah melakukannya sejauh ini."

McCain memperingatkan tindakan Trump di masa depan perlu dikhawatirkan. Bahkan jaminannya tentang kejadian saat ini justru sudah sangat mengkhawatirkan masyarakat di dunia.

kata-kata itu muncul dalam sebuah wawancara terakhirnya mengenai kebijakan luar negeri Trump. Sebuah cerita buruk dan menyusahkan agar bisa menjadi akhir menyenangkan namun kenyataannya kisah akhir tidak menyenangkan sama sekali.

Mari kita lihat ke belakang.

Untuk menghadapi program nuklir Korea Utara, Amerika Serikat dan Korea Selatan sepakat untuk memasang rudal pertahanan AS di semenanjung itu. Keduanya sepakat Korea Selatan akan menyediakan tanahnya untuk memasang sistem persenjataan tersebut. Elemen pertama dari rudal pertahanan ini sudah tiba di sana sejak Maret, setelah empat tahun melalui diskusi yang berliku. Daftar perbincangan yang sangat sulit.

Sistem pertahanan ini justru memberikan dampak yang sangat baik bagi Jepang dan Amerika Serikat dibandingkan dengan Korea Selatan sendiri. Kedua sekutu tersebut merasa khawatir terhadap rudal Korea Utara. Rakyat Korsel amat sangat khawatir ibu kota mereka, Seoul, akan dibombardir oleh artileri tua, di mana sebagian besar dipasang Korea Utara dekat zona demiliterisasi dalam jumlah besar. Hanya saja, sistem pertahanan rudal ini dianggap mengganggu oleh China, utamanya pasukan rudal mereka.

Bagi AS dan Jepang, justru di sanalah poin pentingnya, mengganggu China sebagai alasan utama: Sekaligus meningkatkan harga tawar bagi negeri tersebut yang mendukung program nuklir Korea Utara.

Sebaliknya bagi Korea Selatan, mengganggu China justru lebih berbahaya dibandingkan menerima bantuan. China merupakan mitra dagang terpenting bagi Korea Selatan. Mungkin yang lebih penting, sebagaimana ketakutan mereka atas agresi Korea Utara, pemimpin Korea Selatan tidak Korea Utara jatuh yang artinya membuat negara ini bertanggung jawab atas nyawa belasan juta warga Korea Utara yang miskin. Perbedaan pendapatan ekonomi antara Utara dan Selatan sangat besar dibandingkan Jerman Timur dan Barat.

Sangat rumit. Bukannya ikut meredakan justru sang presiden teranyar AS menambah ketegangan sekaligus kebingungan baru.

Usai melakukan pertemuan di Mar-a-Lago dengan Presiden China Xi Jinping, Trump menyudutkan nasionalisme Korea Selatan dengan memuji klaim China atas kekuasaan tak terbatas bersejarah mereka atas semenanjung Korea. Tidak lama dia memperburuk keadaan dengan menyebut kapal induk Carl Vinson telah berlayar menuju Korea dan pada faktanya justru berlayar menjauh ribuan mil dari lokasi yang dijanjikan.

"Apa yang Trump katakan sangat penting bagi keamanan nasional Korea Selatan," ujar Hong Joon Pyo, satu dari dua kandidat yang kini berpeluang memenangi pemilihan presiden kepada The Wall Street Journal. "Jika itu kebohongan, maka selama masa Trump, Korea Selatan tidak akan percaya pada kata-kata Trump."

Kemudian, beberapa hari setelahnya, dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Trump menarik lagi kesepakatan dagang antara AS dan Korea Selatan dengan menyebutnya 'tak dapat diterima' dan mengancam akan mencabutnya. Di saat bersamaan, dia juga ingin merevisi kesepakatan pertahanan rudal juga.

"Saya informasikan Korea Selatan akan lebih baik jika mereka membayar. Itu adalah sistem bernilai triliunan dolar."

Baru pada Minggu (30/4) kemarin, keadaan mulai mendingin. Kantor kepresidenan Korea Selatan menerbitkan pernyataan yang menyebut Penasihat Keamanan Nasional HR McMaster memastikan AS akan menghormati kesepakatan sebelumnya terkait pembayaran sistem pertahanan. Tentunya dengan aturan 'perhatikan apa yang presiden lakukan, bukan kata-katanya', kini orang-orang sudah kembali tenang.

Hanya saja, masih ada dua hal yang mengganjal.

1) Pernyataan Minggu, jika lebih bertanggung jawab dibandingkan Kamis sebelumnya, masih hanya kata-kata. Tindakan selalu memakan waktu panjang dibanding kata-kata. Kola kata-kata sang presiden tidak menjadi garis besar atas kebijakan kepresidenan, maka rakyat Amerika dan dunia akan hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa apakah saat ini sang presiden bisa dipercaya atau tidak.

2) Kemudian dalam pernyataan McMaster melanjutkan polda di mana ucapan presiden agak keterlaluan dan terlihat diatur oleh jenderal yang mengepalai Dewan Keamanan Nasional, mantan jenderal yang memimpin Departemen Keamanan Nasional, atau mantan jenderal yang memimpin Departemen Pertahanan.

Dalam dua bulan pertama dari pemerintahan ini, masyarakat dunia sudah melihat pola yang dilakukan terhadap NATO, campur tangan pro-Trump dari Rusia selama pemilihan presiden, kebijakan imigrasi dan area-area lainnya.

Dalam sistem tradisional Amerika, presiden seharusnya memiliki kekuasaan atas orang yang ditunjuk, utamanya dari kalangan sipil. Menjadi tidak menyenangkan apabila kebijakan presiden diabaikan dan menyalahkan provokasi atas jenderal yang diundangnya untuk menjadikan mereka sebagai penjaganya.

Mungkin Trump tidak berdaya terhadap orang-orang di sekitarnya.

Makin banyak warga Amerika menyesal pilih Trump

Duterte terlalu sibuk untuk penuhi undangan Trump ke Gedung Putih

Trump: Suatu kehormatan bagi saya jika bertemu Kim Jong-un

Sempat bertengkar karena rudal, Trump telepon Putin bahas Suriah

Baru 100 hari menjabat, Trump diprediksi bakal segera dilengserkan

(mdk/tyo)