Paham ISIS Perlahan Menyebar di Kamp Pengungsi Suriah

DUNIA | 5 September 2019 07:15 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Ribuan perempuan dan anak-anak keluarga militan ISIS sudah berbulan-bulan tinggal di sebuah penampungan di sebelah timur laut Suriah di tengah gurun. Hidup mereka sehari-hari jauh dari kata layak. Dengan kondisi yang nelangsa dan tanpa kepastian bisa keluar dari penampungan, para simpatisan ISIS kerap menyerang kamp itu dan membakar tenda keluarga yang dianggap dari kalangan kafir.

Pertengkaran antar warga di pengungsian menyebabkan senjata masuk ke kamp lewat penyelundupan. Beberapa perempuan menyerang atau mengancam wanita lain dengan pisau dan palu. Juni dan Juli lalu sejumlah perempuan menikam penjaga Kurdi yang sedang mengawal mereka. Akibat kejadian itu kamp penampungan diblokade.

Dikutip dari laman the New York Times, Rabu (4/9), semua perempuan di kamp Al Hol itu memakai niqab, pakaian panjang hitam menutupi seluruh tubuh, bagian dari pemahaman ISIS terhadap Islam soal berpakaian, sebagian lagi memakai niqab karena takut mereka diserang oleh orang-orang yang pahamnya seperti ISIS.

Di kamp Al Hol yang dikelola Kurdi itu ada sekitar 70 ribu pengungsi, kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak yang melarikan diri dari medan pertempuran ketika pasukan koalisi memukul mundur ISIS yang sebelumnya bercokol di sebelah timur Suriah.

Dengan keadaan serba mengenaskan tanpa harapan dan anak-anak yang meninggal karena tak sempat diobati, kamp pengungsian Al Hol menjadi tempat yang apa yang dicemaskan para pengamat, pejabat militer Amerika Serikat, dan tim kemanusiaan: jadi ladang subur tumbuhnya bencana.

1 dari 2 halaman

Lebih Mirip Penjara Ketimbang Penampungan

Kondisi di kamp penampungan yang sangat buruk dan tidak manusiawi membuat para pengungsi rentan terhadap berbagai pengaruh. Laporan teranyar dari Pentagon menyebut ISIS kini tengah membangun kembali kekuatannya di seantero Irak dan Suriah dan ideologi kelompok militan itu kini bisa menyebar ke kamp pengungsi.

Mustahil mengetahui berapa banyak perempuan di kamp itu yang menganut paham ISIS dan berapa banyak yang menentang. Namun sejumlah pengungsi yang sudah diwawancara tim kemanusiaan dan peneliti menunjukkan mereka kerap menggalang kerusuhan dengan menyebar ancaman, intimidasi dan beberapa kali melakukan kekerasan.

Video propaganda ISIS berisi tata cara pembuatan bom dan pengecaman terhadap orang Kurdi juga beredar dari ponsel yang dipakai para perempuan di pengungsian itu.

Kamp pengungsian itu jadi lebih mirip penjara ketimbang tempat penampungan.

"Tinggal di tempat yang dikelilingi orang-orang radikal, apakah itu kondusif untuk proses deradikalisasi?" ujar Elizabeth Trurkov, pengamat dari Forum for Regional Thinking yang meneliti di Suriah dan Irak dan sudah dua kali mengunjungi kamp Al Hol.

"Ini adalah tempat yang bisa membuat orang jadi radikal, bukan untuk memulihkan orang dari paham radikal," kata dia.

Meski demikian sejumlah orang sudah berhasil keluar dari kamp pengungsi itu.

2 dari 2 halaman

Lingkaran Kekerasan

Pengungsi Irak yang kembali ke negaranya harus menghadapi kemungkinan mereka dikucilkan dari lingkungan karena punya sejarah kaitan dengan ISIS atau malah dijebloskan ke kamp penahanan dan dieksekusi. Pengungsi Suriah bahkan ada yang tidak bisa kembali ke tempat asalnya. Dan masih ada sebanyak 10 ribu pengungsi asing dari sekitar 50 negara yang tidak diterima jika pulang ke negara asalnya.

Pihak berwenang Kurdi yang mengelola kamp itu mengizinkan pengungsi non-Suriah untuk kembali ke negara asal mereka dengan alasan mereka tidak punya sumber daya untuk menahan para pengungsi itu selamanya. Namun hanya beberapa negara seperti Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, yang sudah memulangkan kembali warga mereka dalam skala besar.

"Mereka kini berada di negeri tak bertuan. Mereka dalam kebingungan," kata Sara Kayyali, peneliti asal Suriah di Human Rights Watch yang mengunjungi kamp Al Hol awal tahun ini.

"Mereka terjebak di sebuah penampungan di gurun tanpa fasilitas yang memadai. Anak-anak mereka tumbuh dalam kondisi yang mengenaskan."

Terlebih lagi para perempuan itu juga frustrasi karena mereka tidak mendapat kabar soal di manakah suami mereka, anggota ISIS berada. Pihak berwenang mengatakan mereka akan diizinkan berkumpul kembali dengan keluarga atau kerabat, paling tidak diberi waktu untuk berbicara dengan mereka tapi sejauh ini janji itu tidak terkabul.

Laporan Pentagon mengatakan pasukan setempat tidak punya cukup sumber daya untuk menjalankan tugas keamanan yang paling minim sekalipun sehingga ideologi ekstrem bisa menyebar di kamp tanpa diketahui.

"Ini adalah lingkaran kekerasan," kata Kayyali. "ISIS meneror dunia. Penentu kebijakan tidak mau berurusan dengan siapa pun yang dinilai punya kaitan dengan ISIS. Mereka kini kembali menjadi radikal karena salah penanganan. Mereka kembali jadi apa yang mereka ikuti sebelumnya." (mdk/pan)

Baca juga:
Militan ISIS Tewas Akibat Drone yang sedang Dioperasikannya Meledak
China Peringatkan Dunia, ISIS Kembali Bangkit di Suriah
Amerika Serikat Sebut ISIS Kembali Bangkit di Suriah
Terungkap Sumber-Sumber Dana ISIS, Sampai Triliunan
Terorisme Kulit Putih Sejalan dengan Kebangkitan ISIS
ISIS Masih Punya Kekayaan Rp4,3 Triliun, Serangan Teror Masih Mengancam