Pahatan Batu Tertua di Dunia Ditemukan di Indonesia, Berusia 44.000 Tahun

DUNIA | 12 Desember 2019 18:19 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Seni pahat dalam gua menggambarkan aktivitas berburu ditemukan di Indonesia berusia 44.000 tahun, menjadikannya seni pahat tertua yang diciptakan manusia.

Lukisan itu sendiri menarik karena menunjukkan sekelompok makhluk hibrida, setengah-hewan dan setengah manusia yang disebut therianthropes. Makhluk tersebut digambarkan tengah berburu babi dan kerbau menggunakan tombak dan tali.

Angka-angka abstrak menggambarkan sebuah cerita, yang mengubah pandangan kita tentang manusia purba, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Rabu di jurnal Nature. Seni itu bahkan bisa menunjukkan dasar spiritualitas manusia, mengingat adegan supernatural yang digambarkan.

"Bagi saya, aspek paling menarik dari penelitian kami adalah seni pahat manusia tertua setidaknya 44.000 tahun dan memiliki semua komponen kunci yang berkaitan dengan kognisi modern, (seperti) stensil tangan, seni figuratif, mendongeng, therianthropes dan paham beragama," kata peneliti dan profesor ilmu arkeologi Universitas Griffith Australia, Maxime Aubert, dilansir dari CNN, Kamis (12/12).

Di Sulawesi terdapat banyak gua batu kapur dengan berbagai penemuan. Kelompok peneliti yang sama sebelumnya menemukan salah satu stensil tangan seni pahat tertua pada tahun 2014, yang berasal dari 40.000 tahun yang lalu.

"Setidaknya ada 242 situs seni gua yang dikenal di wilayah Sulawesi ini dan mungkin ratusan lagi di bagian pulau ini saja," kata Aubert.

"Pulau besar ini, yang terbesar ke-11 di dunia, hampir tidak pernah dieksplorasi sama sekali untuk seni gua, jadi siapa yang tahu apa lagi yang ada di luar sana. Hal yang sama berlaku untuk seluruh Indonesia - kemungkinan ada lebih banyak situs seni purba tersembunyi di sana," lanjutnya.

Pada Desember 2017, salah satu anggota tim mereka tengah meneliti situs gua ketika melihat ada gua lain di atas permukaan tebing, kata Aubert.

"Dia naik ke gua melalui pohon tanaman merambat dan langsung menemukan lukisan binatang," kata Aubert.

"Saya mengunjungi situs itu tahun berikutnya dan terkagum-kagum. Saya belum pernah melihat yang seperti itu," lanjutnya.

Rincian cerita yang digambarkan dalam pahatan dalam gua mengejutkan para peneliti. Sebelumnya, seni gua tertua yang diketahui pertama kali muncul di Eropa 40.000 tahun yang lalu, menampilkan simbol-simbol abstrak.

Tetapi adegan detail tentang cerita makhluk hibrida tidak muncul hingga 20.000 tahun yang lalu - hingga penemuan ini.

"Para pemburu yang digambarkan dalam panel seni pahat kuno adalah tokoh-tokoh sederhana dengan tubuh mirip manusia, tetapi mereka digambarkan dengan kepala atau bagian tubuh lainnya seperti burung, reptil dan spesies fauna lainnya endemik Sulawesi," kata Adhi Agus Oktaviana, mahasiswa doktoral di Universitas Griffith Australia, yang juga mempelajari seni pahat di Kalimantan, Sumatera, Raja Ampat dan Misool.

1 dari 1 halaman

Penemuan ini menyoroti pentingnya penelitian manusia purba di Indonesia. Tahun lalu, para peneliti juga menemukan lukisan figuratif seekor binatang di Kalimantan yang berusia 40.000 tahun. Para peneliti ini menduga asal mula lukisan gua, dan bukti evolusi kognitif ada di Indonesia.

"Manusia purba Indonesia menciptakan seni yang mungkin bertujuan mengekspresikan pemikiran spiritual tentang ikatan khusus antara manusia dan hewan jauh sebelum seni pertama dibuat di Eropa, di mana sering diasumsikan bahwa akar budaya agama modern dapat dilacak," kata pakar di Pusat Penelitian Manusia untuk Evolusi Manusia Australia, Adam Brumm.

Penelitian menunjukkan manusia tiba di Asia Tenggara antara 60.000 dan 70.000 tahun yang lalu, yang berarti penemuan seni yang bahkan lebih tua memungkinkan.
Sayangnya, kualitas seni ini memburuk dan mengkhawatirkan para peneliti.

Mereka ingin merekamnya menggunakan teknologi laser 3D sehingga bisa disaksikan generasi mendatang. Selain itu perekaman juga bertujuan untuk mengetahui penyebab menurunnya kualitas lukisan dan bagaimana penanganannya.

"Seni pahat batu Sulawesi dapat berkontribusi pada wawasan yang tak ternilai ke dalam kebangkitan spiritualitas manusia dan penyebaran kepercayaan artistik dan praktik yang membentuk pikiran modern kita," kata Oktaviana.

"Ini akan menjadi tragedi jika karya seni yang sangat tua ini hilang dalam kehidupan kita, tetapi itu terjadi. Kita perlu memahami mengapa seni pahat batu memburuk," pungkasnya. (mdk/pan)

Baca juga:
Ini Penampakan Lukisan Tertua Dunia yang Ditemukan di Gua Sulsel
Penampakan Lukisan Purbakala Tertua Dunia Berumur 44.000 Tahun di Goa Sulsel
VIDEO: Hikayat Pulau Penyengat, Negeri Para Penyair Melayu
Indonesia Diprediksi Punya Warisan Budaya Musik Klasik Berusia 1.200 Tahun
UNESCO: Borobudur adalah Contoh Paling Hebat dari Harmonisasi Agama

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.