Pandemi Corona, Maut Mengintai di Sudut-Sudut Paling Kumuh India

Pandemi Corona, Maut Mengintai di Sudut-Sudut Paling Kumuh India
DUNIA | 7 April 2020 07:21 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pria 56 tahun itu tinggal di wilayah kumuh dan padat di Kota Mumbai, India. Pada 23 Maret lalu dia merasakan demam dan batuk-batuk lalu pergi ke dokter. Dia adalah pedagang kain yang tinggal di Dharavi tempat lebih dari setengah juta orang tersebar di wilayah sebesar kurang dari seperempat mil.

Wilayah kumuh inilah yang menjadi inspirasi film peraih Oscar Slumdog Millionaire dan para perencana kota di seluruh dunia telah meneliti ekonomi dan masyarakat di wilayah ini.

Dokter setempat memeriksa pria tersebut dan diberikan resep sirup obat batuk dan paracetamol. Tiga hari kemudian, pria itu dibawa ke Rumah Sakit Sion dekat rumahnya. Demamnya naik dan batuknya makin parah. Dia mengatakan tak ada riwayat perjalanan, jadi dokter memberinya obat batuk dan menyuruhnya pulang.

Pada 29 Maret, pria itu kembali ke rumah sakit dengan tanda-tanda gangguan pernapasan. Dokter menerimanya, dan segera mengirim swab untuk tes Covid-19.

Tiga hari kemudian, hasilnya tesnya positif. Kondisinya makin memburuk dan dokter mencoba memindahkannya ke rumah sakit yang lebih besar yang telah merawat pasien Covid-19.

Tapi semua sudah terlambat: dia meninggal malam itu.

1 dari 4 halaman

Jaga Jarak Sosial adalah Kemewahan

sosial adalah kemewahan rev1

Pedagang kain itu adalah pasien Covid-19 pertama dari Dharavi. Orang-orang yang tinggal di kota kumuh kerap menderita semua penyakit umum yang menimpa Mumbai, salah satu kota terpadat di dunia, dari diare hingga malaria.

Tetapi penyebaran virus corona di tempat di mana jaga jarak sosial adalah sebuah kemewahan dapat dengan mudah berubah menjadi darurat kesehatan masyarakat yang serius dan pasien dapat membanjiri fasilitas kesehatan masyarakat di kota itu.

Tidak ada yang menyadari ini selain dari pejabat yang tengah berlomba untuk melacak dan menghentikan infeksi.

Pasien No 1 Dharavi ini tinggal bersama delapan anggota keluarga; istri, empat anak perempuan, dan dua anak laki-laki.

"Ketika kami tanya keluarganya, mereka mengatakan kepada kami pria itu tak memiliki riwayat perjalanan baru-baru ini dan hanya pergi ke masjid setempat," kata asisten komisaris kota yang bertanggung jawab atas wilayah itu, Kiran Dighavkar, kepada koresponden BBC di India, Soutik Biswas, dilansir dari BBC, Senin (6/4).

2 dari 4 halaman

Penelusuran dari Ponsel

ponsel rev1

Ternyata, pria itu memiliki apartemen lain di kompleks yang sama. Di sana ia menjamu lima orang yang dilaporkan tiba dari Delhi setelah menghadiri tablig akbar pada awal Maret yang diselenggarakan Jamaah Tablig.

Ratusan orang yang menghadiri tablig akbar di Delhi ini memicu beberapa kasus Covid-19 di seluruh India dan sekarang terkait dengan sekitar 650 kasus di 14 negara bagian.

Polisi meyakini kelima pria itu tinggal di apartemen Dharavi selama dua hari - antara 19 dan 21 Maret - sebelum mereka pergi ke Kerala.

"Kami berusaha melacak orang-orang ini," kata Dighavkar.

"Kami harus menemukan sumber infeksi. Bagaimana pria ini terinfeksi dan dari siapa? Dan kami harus menghentikan infeksi ini dengan mengambil langkah-langkah agresif," lanjutnya.

Keluarga pedagang yang meninggal itu bersikeras dia tidak memiliki paspor, namun diragukan polisi. Polisi kemudian menelusuri pergerakan pria itu melalui ponselnya.

3 dari 4 halaman

Dokter Positif Corona

corona rev1

Sebanyak 308 unit apartemen dan 80 toko di sembilan gedung berlantai enam di kompleks tempat tinggal pedagang itu telah sepenuhnya disegel. Sekitar 2.500 penduduk telah dikarantina di rumah. Jatah makanan disediakan. Petugas kesehatan telah mendesinfeksi apartemen dengan cairan pemutih baju. Delapan penghuni bangunan berisiko tinggi - keluarga pedagang dan seorang kenalan di gedung itu - dikirim untuk tes.

Lebih dari 130 penduduk di atas usia 60 dan 35 lainnya yang menderita penyakit pernapasan yang tidak terkait sedang diawasi ketat untuk gejala Covid-19.

Khawatir wabah, pihak berwenang telah mengambil alih Rumah Sakit Sion dengan 50 tempat tidur, dan dengan cepat mendirikan fasilitas karantina dengan 300 tempat tidur di GOR terdekat. Perlengkapan pelindung telah diberikan kepada dokter dan perawat di rumah sakit.

Namun semua ini mungkin tidak cukup untuk mencegah wabah.

Pada Kamis, seorang dokter berusia 35 tahun yang bertugas di rumah sakit swasta dan tinggal di daerah kumuh dinyatakan positif terkena virus. Pekerja kota bergegas untuk mengisolasi dan menyegel 300 orang yang tinggal di gedung dekat tempat tinggal dokter itu.

4 dari 4 halaman

Gelombang Penularan

rev1

Mereka juga telah mengidentifikasi 13 kontak berisiko tinggi di gedung itu dan mengirim swab untuk pengujian. Dokter mengatakan kepada para pejabat bahwa dua perawat di rumah sakitnya telah dites positif terkena virus. Dan pada akhir pekan, seorang perempuan berusia 30 tahun di dalam kompleks gedung yang sama dengan pedagang, seorang pria berusia 60 tahun, yang memiliki toko fabrikasi logam dan seorang teknisi laboratorium pria berusia 21 tahun, dinyatakan positif.

"Kami masih berupaya menghentikan infeksi dari koloni-koloni daerah kumuh yang terjaga keamanannya. Tetapi ada daerah-daerah kumuh di luar, dan jika ada kasus di sana, kami tidak dapat mengisolasi mereka di rumah, dan harus mengirim bahkan kasus-kasus berisiko tinggi sekalipun ke pusat karantina GOR," kata Dighavkar.

Jika itu terjadi, perjuangan untuk menghentikan infeksi akan kacau. Rumah sakit setempat dan karantina darurat akan mudah dibanjiri pasien.

Pengujian harus ditingkatkan dan hasilnya harus tiba tepat waktu. Setelah dua kasus pertama - pedagang dan dokter - 21 sampel dikumpulkan dari daerah kumuh. Setelah lebih dari 48 jam, hanya tujuh yang rampung.

Rumah sakit pemerintah di mana tes dilakukan dibanjiri oleh sampel. Sebanyak 23 sampel diambil setelah dua kasus baru dan dikirim ke laboratorium pada hari Sabtu. Tidak jelas kapan hasilnya akan tiba.

"Kami kehabisan waktu karena keterlambatan keluarnya hasil tes. Itu juga menunda pemindahan orang yang dites positif ke dalam isolasi," kata Virendra Mohite, petugas medis, yang memimpin tim kesehatan di daerah kumuh.

Ini adalah beberapa tantangan nyata untuk menahan meluasnya wabah di daerah kumuh. Dharavi merupakan rumah bagi para nelayan, pembuat tembikar, pembuat furnitur, pembuat garmen, penjahit, akuntan, pendaur ulang sampah dan bahkan beberapa rapper terbaik Mumbai.

Sekarang wilayah ini menghadapi tantangan yang paling menakutkan untuk mencegah gelombang penularan yang dahsyat. (mdk/pan)

Baca juga:
Lahir di Tengah Pandemi, 5 Bayi Ini Diberi Nama Unik
Menyalakan Lilin dan Obor Jadi Simbol Melawan Corona di India
India Kerahkan Drone untuk Awasi Aktivitas Warga
Lahir Saat Lockdown, Bayi Kembar di India Diberi Nama Corona dan Covid
Di Tengah Lockdown India, Monyet-monyet Bebas Berkeliaran di Jalan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami