Para Pakar di Iran Sebut Gejala Infeksi Covid-19 Berubah, Tak Hanya Batuk & Demam

Para Pakar di Iran Sebut Gejala Infeksi Covid-19 Berubah, Tak Hanya Batuk & Demam
DUNIA | 22 Mei 2020 07:37 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Sejumlah pakar epidemiologi Iran mengamati, gejala infeksi Covid-19 di negara itu telah bergeser dari gangguan pernafasan ke gangguan gastrointestinal.

Penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru ini pertama kali muncul di kota Wuhan, provinsi Hubei, China akhir tahun lalu, dan telah ditandai dengan gangguan gejala pernapasan, termasuk demam tinggi, batuk dan sesak napas.

Namun setelah berbulan-bulan, dokter dan ahli epidemiologi di seluruh dunia mengidentifikasi indikator baru penyakit Covid-19, seperti menurunnya kepekaan indera perasa dan indera penciuman.

Ahli epidemiologi di Iran mengamati pergeseran gejala pada pasien Covid-19 yang memerlukan rawat inap, sebagaimana dilaporkan Radio Farda pada Selasa.

"Sebelumnya diidentifikasi Covid-19 memiliki gejala seperti batuk, sesak napas dan demam tinggi. Gejala-gejala ini diamati dalam dua bulan pertama setelah wabah. Namun sekarang gejala yang paling penting dari Covid-19 adalah gastrointestinal," jelas Dr Mohammad Reza Mahboubfar, seorang ahli epidemiologi virus dan anggota Satuan Tugas Virus Corona Iran, dilansir dari Alaraby, Kamis (21/5).

Gejala gastrointestinal termasuk diare akut, sakit perut, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, kejang perut, demam rendah, dan kehilangan rasa atau penciuman. Mahboubfar mengatakan persoalan ini telah diamati pada pasien dari segala usia.

Gejala-gejala ini sering disertai dengan demam rendah, atau bahkan tidak demam sama sekali, menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis penyakit Covid-19. Penundaan seperti itu dapat menyebabkan penyebaran virus lebih lanjut dan meluas.

1 dari 2 halaman

Diare Akut

rev1

Hassan Abedi, ahli gastroenterologi di Universitas Ilmu Kedokteran Babol memperingatkan terkait perubahan gejala ini pekan lalu.

Abedi mengatakan, lebih sedikit pasien yang dirawat dengan gejala pernapasan dan ada lonjakan pada pasien Covid-19 dengan gejala gastrointestinal.

Menurutnya, sekitar seperempat dari pasien Covid-19 secara eksklusif menunjukkan gejala gastrointestinal.

Dalam sepertiga kasus yang diamati, pasien dengan gejala gastrointestinal tidak menderita suhu tinggi, kata dokter yang bekerja di rumah sakit di kota utara Babol ini, yang menjadi titik awal epidemi Covid-19 di Iran.

Sebaliknya, pasien-pasien ini menderita diare akut yang terjadi setidaknya lima kali sehari dan dapat bertahan hingga dua pekan.

2 dari 2 halaman

Kerusakan Hati dan Pankreas

dan pankreas rev1

Ahli gastroenterologi dari Universitas Shahid Beheshti di Teheran, Seyed Reza Fatemi, mengatakan telah mengamati 50 persen pasien Covid-19 yang mengalami gejala gastrointestinal.

Fatemi mengatakan para pasien ini juga mengalami kerusakan hati dan pankreas. Kerusakan seperti itu terjadi pada 20 hingga 30 persen pasien Covid-19.

Mahboubfar menambahkan, munculnya gejala gastrointestinal dapat mempengaruhi jumlah resmi kasus Covid-19 yang didata Kementerian Kesehatan Iran.

Ahli epidemiologi juga mengatakan kasus-kasus baru kemungkinan akan meningkat dalam beberapa hari dan pekan mendatang karena pihak berwenang Iran mulai memperlonggar lockdown sejumlah tempat.

Iran telah melaporkan lebih dari 124.000 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi, termasuk 7.119 kematian. (mdk/pan)

Baca juga:
Iran Akan Buka Kembali Masjid, GOR, dan Kampus Setelah Lebaran
Iran Buka Kembali Semua Masjid Mulai Hari Ini, Menyusul Sekolah Pekan Depan
Iran Perlonggar Aturan Lockdown, Ratusan Masjid Dibuka Kembali
Warga Iran Ikuti Acara Keagamaan Drive-In di Tengah Pandemi
Iran Siapkan Bantuan Uang Tunai Untuk 17 Juta Rumah Tangga Terdampak Pandemi Covid-19
Potret Sejumlah Pasar Tradisional di Timur Tengah Menyambut Ramadan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami