Pasien di AS Meninggal Setelah Terima Donor Paru-Paru Terinfeksi Virus Corona

Pasien di AS Meninggal Setelah Terima Donor Paru-Paru Terinfeksi Virus Corona
ilustrasi paru-paru. healthvision.in
DUNIA | 25 Februari 2021 14:07 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Seorang perempuan di Michigan meninggal 61 hari setelah menerima donor sepasang paru-paru yang terinfeksi virus corona, menurut sebuah laporan kasus yang diterbitkan bulan ini.

Tak ada indikasi pendonor tersebut, seorang perempuan yang mengalami kecelakaan fatal, terinfeksi Covid-19. Hasil rontgennya menunjukkan bagian dadanya bersih, dan hasil tes usap atau nasal Covid-19 dinyatakan negatif.

Tapi para dokter yang melakukan transplantasi paru-paru di University Hospital di Ann Arbor, Michigan, musim gugur lalu mulai mempertanyakan hasil tersebut ketika kondisi pasien mereka memburuk. Mereka menyimpulkan pendonor tersebut terinfeksi Covid-19 – dan paru-parunya tak hanya menginfeksi pasien transplantasi, tapi juga dokter bedahnya.

Ini adalah kasus terkonfirmasi pertama pasien tertular virus corona dari pasien pendonor organ, menurut penulis laporan yang telah mendapat ulasan sejawat itu, yang diterbitkan di The American Journal of Transplantation pada 10 Februari. Kaiser Health News dan NBC News melaporkan kasus tersebut pada Sabtu.

“Kami ingin komunitas transplantasi hati-hati ini bisa terjadi, dan juga mungkin ada hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan keberhasilan kita dalam proses pemeriksaan pasien Covid,” jelas dokter bedah, Dr Jules Lin, salah satu penulis laporan tersebut dan direktur bedah program transplantasi paru-paru di Michigan Medicine, sistem kesehatan Universitas Michigan, dikutip dari The New York Times, Kamis (25/2).

Laporan tersebut menyampaikan, para profesional kedokteran seharusnya mempertimbangkan untuk mengetes paru-paru donor apakah terinfeksi virus corona menggunakan sampel dari sistem pernapasan bagian bawah, yang meluas ke paru-paru - di luar jangkauan usap hidung. Jenis tes ini, yang tak direkomendasikan untuk masyarakat umum, tak selalu tersedia; saat ini, hanya sekitar sepertigas pendonor paru-paru yang dites menggunakan cara ini.

Dr. David Klassen, kepala kedokteran United Network for Organ Sharing, NGO yang mengelola sistem transplantasi, mengatakan kasus ini di Michigan "sangat signifikan" meskipun jarang.

“Kami ingin meminimalisir kemungkinan terulangnya kembali kasus ini,” jelasnya.

Klassen mengatakan, setiap pendonor organ di AS dites virus corona dengan cara tertentu. Tes tak dilakukan dokter bedah transplantasi, sebaliknya, mereka biasanya diawasi oleh kelompok nonprofit yang dikenal sebagai organisasi pengadaan organ, yang beroperasi di seluruh Amerika Serikat.

Baca Selanjutnya: Peristiwa langka...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami