Pelabuhan Beirut yang Kini Hancur Pernah Jadi Pusat Karantina Saat Wabah Kolera

Pelabuhan Beirut yang Kini Hancur Pernah Jadi Pusat Karantina Saat Wabah Kolera
Pusat Ledakan di Beirut. ©2020 AFP
DUNIA | 8 Agustus 2020 07:27 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pelabuhan Beirut - lokasi ledakan dahsyat yang memporakporandakan Beirut pada Selasa - dikenal sebagai pusat perdagangan Mediterania yang memfasilitasi aktivitas komersial Lebanon.

Tapi 200 tahun lalu, selama masa ketidakpastian politik saat Lebanon diduduki dinasti Mesir, pelabuhan tersebut dibangun untuk mengatasi epidemi. Saat itu, kolera jadi perhatian utama, tapi hari ini, Lebanon - dan dunia - harus bergulat kembali dengan pandemi virus corona yang tengah melanda sembari membersihkan puing-puing akibat ledakan pada Selasa sore.

Dua hari setelah ledakan, Lebanon mencatat angka infeksi virus corona tertinggi harian, 255 kasus baru.

Saat wilayah-wilayah Beirut porak poranda, warga mengambil sapu dan turun ke jalan. Sementara itu, pemerintah tak nampak di TKP, walaupun pasukan keamanan muncul pada Kamis malam membubarkan para demonstran dengan gas air mata setelah mereka beraksi memprotes kelalaian pemerintah yang menyebabkan ledakan.

Sementara sejarah pelabuhan membentang kembali ke abad ke-15, penguasa kota memberikan perhatian khusus pada perkembangan pelabuhan pada abad ke-19 seiring perkembangan kota, tulis mendiang Samir Kassir dalam bukunya Beirut, dikutip dari Alarabiya, Jumat (7/8).

2 dari 4 halaman

Tempat Bernama Qarantina

qarantina

Keberuntungan dan kepedulian terhadap kebersihan publik yang membuat aktivitas komersial pelabuhan berkembang. Ibrahim Pasha, pemimpin Mesir yang bertanggung jawab atas Lebanon pada saat itu, berusaha membangun jaringan pusat karantina di seluruh wilayah Syam atau Mediterania Timur untuk memperlambat penyebaran epidemi.

Saat tokoh agama di Damaskus dan Tripoli protes, sebuah lazaret atau pos karantina bagi para musafir yang datang melalui laut - dibangun dekat Beirut di Cape Khodr sepanjang Teluk Saint George - sebuah kawasan yang nantinya dimasukkan ke dalam kota Beirut.

Namanya tetap Qarantina.

Terletak di pinggiran utara Beirut, sebelum ledakan yang mengguncang Beirut hingga ke intinya, Qarantina abad ke-21 Beirut adalah lingkungan yang tenang yang terpisah dari Mar Mikhael yang sibuk oleh jalan raya yang menjadi pusat klub malam terkenal kota di gedung-gedung industri tua.

3 dari 4 halaman

Karantina 12 Hari

Kembali pada tahun 1834, setiap orang yang datang di Qarantina diharuskan untuk karantina selama 12 hari - dua hari lebih cepat dari periode isolasi diri yang direkomendasikan untuk virus corona saat ini. Pada saat itu, kolera menjadi perhatian utama karena dua epidemi melanda dari tahun 1830-an hingga 1860-an.

"Pada prinsipnya itu wajib bagi semua pengunjung," tulis Kassir.

Konsul Perancis Henri Guys disebut merancang sistem peraturan sanitasi, dan konsul dari Austria, Denmark, Spanyol dan Yunani adalah bagian dari komite pengawas.

“Betapapun terbatasnya efektivitas karantina dari sudut pandang medis, itu tidak dapat disangkal menguntungkan perkembangan ekonomi Beirut, yang mulai sekarang merupakan pelabuhan wajib bagi kapal-kapal di Mediterania Timur,” tulis Kassir.

4 dari 4 halaman

Pelabuhan Regional Utama

utama

Saat orang Mesir keluar dari Beirut, dan kota itu jatuh kembali di bawah kendali Ustmaniyah, gudang dibangun dan dermaga diperbesar untuk mengatasi peningkatan lalu lintas ke pelabuhan, dan prosedur pelabuhan dan bea cukai diatur, yang membantu Beirut menarik pangsa perdagangan yang lebih besar dengan Eropa.

Pada abad ke-20, Beirut telah menjadi pelabuhan regional utama, melayani perdagangan minyak dan lalu lintas penumpang dan kargo di Mediterania Timur dan Teluk, seperti dilaporkan The Conversation.

"Pelabuhan telah memainkan peran kunci dalam sejarah Beirut dan berdiri di pusat kota, dikelilingi oleh beberapa lingkungan terpentingnya," tulis Sara Fregonese dalam The Conversation.

Sampai Selasa kemarin, pelabuhan Beirut bertanggung jawab atas 60 persen impor Lebanon, termasuk penyimpanan bahan makanan dan obat-obatan. Lebanon mengimpor antara 80 sampai 85 persen makanan.

(mdk/pan)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami