Pembebasan Staf Konsulat Inggris Kembali Picu Ketegangan Hong Kong

DUNIA | 24 Agustus 2019 20:04 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Polisi Hong Kong menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa anti pemerintah, setelah dilempari pengunjuk rasa dengan bom molotov dan batu bata. Kericuhan ini dipicu oleh pembebasan karyawan Konsulat Inggris, Simon Cheng Man-kit oleh pemerintah China, Sabtu (24/8).

Ribuan demonstran membawa payung untuk menghalangi terik matahari di sekitar Kwun Tong, sebuah daerah padat penduduk di Timur Semenanjung Kowloon yang dikuasai China. Aksi tersebut memaksa empat stasiun kereta bawah tanah MTR ditutup.

Sejumlah pengunjuk rasa melemparkan bom molotov dan batu bata ke arah petugas. Tiang lampu yang dilengkapi kamera pemantau dirobohkan. Beberapa yang lain menaruh bambu-bambu untuk menghalangi jalan.

Guna membubarkan massa, polisi menembakkan gas air mata. Penggunaan gas air mata kembali dilakukan setelah 10 hari terakhir rangkaian demonstrasi berjalan relatif damai.

Meski ricuh, tetapi tidak ada laporan cedera, Reuters mengabarkan.

"Beri aku demokrasi atau beri aku kematian," tulis demonstran di sebuah dinding.

Menanggapi aksi demonstran yang mulai bergejolak sejak RUU ekstradisi diumumkan, pemerintah mengatakan bahwa para pemrotes merupakan ancaman serius bagi keselamatan semua pihak di sekitar lokasi kejadian.

"Setelah peringatan berulang kali kepada para demonstran menjadi sia-sia, petugas polisi telah mengerahkan gas air mata dan sejumlah pasukan untuk membubarkan para demonstran," ungkap pemerintah, seperti yang dikutip dari laman Reuters pada Sabtu (24/8).

Dikabarkan, layanan transportasi seperti bandara dan kereta api masih beroperasi secara normal, meskipun sempat ada rencana pengunjuk rasa mengadakan aksi di kedua jalur layanan transportasi tersebut.

Pekan lalu, Bandara Internasional Hong Kong sempat ditutup akibat demonstran memenuhi area kedatangan. Akibatnya, jadwal penerbangan pun terganggu. Bahkan, saham maskapai penerbangan utama Hong Kong, Cathay Pasific sempat dikabarkan turun.

Unjuk rasa yang menuntut pencabutan RUU ekstradisi dan hak demokrasi warga Hong Kong ini telah berlangsung selama 11 pekan. Aksi ini dikatakan sebagai krisis politik terburuk sejak Hong Kong bergabung dengan China, 22 tahun yang lalu.

Sejumlah pihak yang terlibat unjuk rasa, ditangkap dan diproses secara hukum. Termasuk staf Konsulat Inggris, Simon Cheng Man-kit yang dituduh mendukung aksi pro-demokrasi Hong Kong.

Cheng ditahan selama 15 hari oleh polisi China dengan tuduhan melanggar peraturan keamanan publik. Dia ditahan di Shenzhen, wilayah perbatasan China daratan dan Hong Kong, Ketika melakukan perjalanan dinas.

Polisi mengatakan, pembebasan Cheng hari ini telah sesuai yang dijadwalkan. Reuters mengabarkan, kepada polisi Cheng telah mengakui tuduhan yang diajukan kepadanya. Meskipun, Cheng tidak diberikan kesempatan membela diri di pengadilan.

Melalui halaman Facebook milik keluarganya, Cheng dikabarkan telah kembali ke Hong Kong.

"Media dan teman-teman mohon untuk memberi mereka waktu dan ruang, dan kami akan menjelaskan lebih lanjut nanti," tulis unggahan Facebook itu, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Pembebasan Cheng disambut baik oleh pemerintah Inggris.

"Kami menyambut pembebasan Simon Cheng dan senang, bahwa dia dapat dipersatukan kembali dengan keluarganya. Kami akan terus memberikan dukungan kepada mereka," ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Inggris menanggapi kabar kebebasan Cheng.

Kementerian Luar Negeri Inggris juga meminta semua pihak agar menghormati privasi Cheng dan keluarganya.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita

Baca juga:
Polisi Tembaki Demonstran Hong Kong dengan Peluru Karet
Terinspirasi Perlawanan Baltik, Demonstran Hong Kong Bentuk Rantai Manusia
Demonstran Hong Kong Gunakan Bambu untuk Blokade Jalan
Youtube Tutup 210 Akun Penyebar Hoaks Demo Hong Kong
Tato, Ekspresi Baru Pengunjuk Rasa Hong Kong

(mdk/eko)